Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Bangunan Bersejarah Boleh Runtuh, Tapi Sejarah Tidak

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Agustus 2012 14:13
Bagikan
"Shalat lail tidak boleh putus meski masjid telah terbakar"
Bagikan

ALLAH memiliki sekian banyak cara untuk mendidik hamba-hamba-Nya. Salah satunya dengan menimpakan ujian kepada mereka. Demikian uraian penyampaian Zainuddin Musaddad,  di depan warga Hidayatullah yang menunaikan shalat subuh di masjid ar-Riyadh, Balikpapan (15/08/2012).

Hal ini ia sampaikan terkait musibah kebakaran yang menimpa Pesantren Hidayatullah Karang Bugis, Balikpapan kemarin pagi. [baca; Kebakaran, Masjid PP Hidayatullah Karang Bugis Ludes Dilalap Api]

Mewakili pengurus pesantren, Zainuddin yang juga diamanahi ketua Yayasan Hidayatullah Balikpapan ini menyempatkan diri naik ke podium usai shalat Subuh secara berjamaah. Dalam kesempatan itu, Zainuddin  mengingatkan warga Hidayatullah untuk menjadikan musibah tersebut sebagai media muhasabah.

“Momentum ini jangan dilewatkan begitu saja. Ia adalah nasihat sekaligus kekuatan.” Papar pria yang akrab dengan sapaan Ustadz Zain ini. “Musibah bagi orang beriman adalah cemeti untuk semakin bermunajat kepada Allah dan hanya meminta pertolongan kepada-Nya,” lanjutnya lagi.

Dari berbagai info yang dihimpun, Zainuddin menceritakan beberapa kejadian mengharukan yang terjadi di lokasi peristiwa. Salah satunya adalah ketika kubah masjid al-Amin Karang Bugis sudah ikut merah menyala akibat terpanggang api.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Sejumlah ustadz dan para guru pesantren tampak hanya bisa pasrah menyaksikan amukan si jago merah sambil sesekali menguatkan hati untuk tidak menangisi kejadian tersebut. Di antara mereka bahkan sampai ada yang berteriak lantang, “Jangan ada yang menangis,” Meski berusaha tegar, tapi rupanya Mustafa Sakka, sang pemilik suara itu sendiri tak kuasa menahan haru juga.

Ustadz yang terbilang dalam barisan santri awal pesantren Hidayatullah itu tidak mampu menahan tetesan air matanya saat harus melihat bangunan bersejarah itu rubuh di hadapannya langsung.

***

Bagi pesantren Hidayatullah, kampus Karang Bugis adalah mata rantai sejarah yang tidak boleh terlupakan. Di sanalah Allahu yarham Ustadz Abdullah Said –pendiri pesantren- menggembleng santri-santri awal hingga akhirnya berpindah ke lokasi Gunung Tembak hingga kini.

Usai mendapat tanah wakaf seluas 0,5 hektar dari H. Andi Mappasossong atau yang lebih dikenal dengan Petta Ossong, Abdullah Said segera mendirikan bangunan masjid di Karang Bugis (1974). Bangunan masjid kayu sederhana seluas 4×6 m inilah sekaligus sebagai bangunan pertama di pesantren Karang Bugis dan menjadi tonggak awal pendirian dan perlangkahan Hidayatullah ke depan.

Seiring perjalanan waktu, silaturahmi dan pengajian yang digelar Abdullah Said di Karang Bugis tidak lagi sebatas pembinaan kepada santri-santri yang mondok di pesantren saja.

Pengajian yang digelar setiap malam Jumat itu sudah meluas menjadi pengajian terbuka yang dihadiri oleh masyarakat umum. Alhasil ia pun lalu dikenal dengan nama pengajian Malam Jumat yang pesertanya bisa mencapai angka lima ratus orang peserta. Pesertanya sendiri tak lagi datang dari wilayah lingkungan Karang Bugis saja, tapi sudah menyebar hingga ke seluruh pelosok Balikpapan. Bahkan ada yang rela datang dari luar kota, yaitu Balikpapan Seberang (kini bernama Kabupaten Penajam Paser Utara/ PPU).

“Dulu saya sering diajak oleh orangtua menyeberang naik perahu klotok ke Balikpapan sekedar pergi mendengar ceramah Allahu yarham,” ujar Hidayat (33), seorang warga Hidayatullah yang mengaku ketika itu ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) di Balikpapan Seberang.

“Selesai Ashar setiap hari Kamis, kami sudah siap-siap menyeberang. Padahal pengajian itu dimulai setelah shalat Isya,” imbuhnya lagi sambil tersenyum mengenang.

Dalam kunjungan bersama beberapa pengurus yayasan yang lain ke lokasi kejadian kemarin, Zainuddin langsung memerintahkan seluruh santri dan mahasiswa untuk tetap kembali menjalankan amanah seperti  biasa.

Seperti diketahui, pada setiap bulan Ramadhan, puluhan santri diamanahkan terjun langsung ke lapangan untuk melayani umat. Umumnya mendapat amanah sebagai petugas gerai zakat Baitul Mal Hidayatullah (BMH) yang tersebar di berbagai titik di wilayah kota Balikpapan.

“Tidak ada kata mundur, hari ini seluruh gerai zakat tidak boleh ada yang libur,” ujar Zainuddin di depan seluruh santri dan para guru.

“Kejadian ini bukan untuk ditangisi tapi sebagai ladang untuk berkarya kepada umat,” papar sang ustadz memberi semangat kepada santri.

Alhasil meski asrama tempat tinggal santri hanya bersisa puing reruntuhan yang rata dengan tanah, para santri mujahid Ramadhan tersebut tetap kembali ke lapangan dengan semangat yang kian membuncah. Bagi mereka tak jadi soal meski pakaian mereka kini hanya tinggal yang melekat di badan saja, sebab semua itu adalah bagian dari pilihan terbaik Allah untuk mereka.

“Insya Allah semua ini ada hikmahnya,” ucap Muslim, seorang santri Hidayatullah sambil tersenyum.

Kini warga Hidayatullah hanya mampu memasrahkan segalanya kepada Allah. Bagi mereka, kejadian kebakaran kemarin hanyalah cambuk untuk terus berkarya kepada umat. Kekuasaan dan pertolongan hanya milik Allah semata.

Warga meyakini, jika hikmah dibalik peristiwa ini adalah momen untuk benar-benar berserah total dan mendekatkan diri kepada Allah. Utamanya di hari-hari terakhir bulan suci ramadhan ini. Sebagaimana dahulu Ustadz Abdullah Said mendirikan dan mengawali perlangkahan pesantren Hidayatullah ini juga dengan modal tawakkal kepada Allah.

Bangunan masjid bersejarah Hidayatullah boleh runtuh, tapi sejarah dan semangat dakwah tidak boleh runtuh.

“Shalat lail tidak boleh putus hanya gara-gara kebakaran saja,” pungkas Zainuddin sambil memekikkan takbir di depan jamaah masjid ar-Riyadh, Gunung Tembak Balikpapan.*/masykur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ormas Perlu Kaji Wewenang dalam Penentuan Hari Raya
Tulisan selanjutnya Uni Emirat Juga Bantu Muslim Myanmar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?