Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Melihat Caravansaray dan Hotel Gratis di Era Keemasan Islam [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 April 2017 15:39 3:39 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 April 2017 07:49
Bagikan
Tradisi menyiapkan penginapan ini berawal dari perintah Quran untuk memuliakan tamu, pedagang, musafir dalam bahasa Islam disebut Ibnu Sabil
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Saya kemudian masuk ke dalam. Tangan saya mengusap tembok batu bertesktur kasar itu. Beberapa ruangan berukuran sekitar 7 x 4 meter memanjang, ada yang besar serta dilengkapi dengan tungku perapian. Ada juga yang loss panjang. Tepat di tengah, ada pintu yang  persis membelah ruangan besar itu. Sementara di kiri dan kanannya terletak ruangan kotak-kotak tadi, begitu juga di ujungnya.

Di langit-langitnya, ujung-ujung lengkung khas arsitektur Islam tergambar jelas. Dan di sebelah bangsal paling besar ada air mancur.  Air mancur sebenarnya adalah temuan arsitektur muslim paling tua, karena itu jangan heran jika di masjid-masjid besar di Turki, Anda akan dengan mudah mendapati air mancur yang bersatu dengan tempat wudhu. Bahkan di Fes Maroko, sebuah kota kecil di lembah Fes, Anda akan tercengang, karena pada abab 9, tercatat 4000, ya empat ribu  air mancur memperindah kota itu.

Bangunan yang saya lihat ini ternyata hanya sebagian saja, karena ternyata aslinya lebih besar, namun sudah runtuh. Caravansaray biasanya selalu ada ruang terbuka di tengah atau di pinggir bangunan untuk parkir kuda atau unta. Kinipun, selain menjadi wisata sejarah. Bangunan di set up untuk tempat duduk-duduk, sambil istirahat. Kini beberapa losnya sudah diberi kursi, tapi tetap saja fungsinya sama.

Baca: Ulama-Umara dalam Sejarah Daulah Utsmani [1]

Melihat indah dan megahnya, saya terduduk, dengkul saya lemes,  dan tidak meyangka, begitu luar biasanya. Tetapi dalam hati banyak pertanyaan berkecamuk. Mengapa harus gratis dan kenapa sedemikian megah, tempat untuk istirahat?  Padahal bangunan yang saya lihat ini adalah ‘bagian yang tertinggal’ dan yang masih ada, aslinya tentu besar sekali. Dan mengapa ini begitu kuat dan kokoh, karena ini juga digunakan berlindung saat musim dingin, karena itu di beberapa sudut masih terlihat perapian, yang saat ini hanya menjadi ornamen semata.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”
Salah satu kebesaran Islam, dimana pada abad ke delapan, tren sudah terjadi penyiapan hotel, guest house dan rest area gratis

Pulang dari Turki, saya mencari jawaban. Dan ternyata saya jauh ketinggalan informasi, karena selama ini tidak mengkaji siroh (sejarah Islam). Yang saya lihat hanyalah bagian kecil dari kebesaran Islam. Pada abad ke delapan, tren sudah terjadi penyiapan hotel, guest house dan rest area gratis. Pada masa pemerintahan Ummayah, di kota Aspahan, Iran (saat masih Sunni) saja, ada sekitar 1.600 hotel dan rest area gratis. Sedangkan di Almeria (spanyol) ada 970 hotel dan rest area yang bertebaran di kota itu. Gratis dan untuk publik.

Rupanya tradisi menyiapkan penginapan ini berawal dari perintah Quran untuk memuliakan tamu, pedagang, musafir dalam bahasa Islam disebut Ibnu Sabil  dan para pencari ilmu seringkali datang ke Cordoba dan Andalusia sebagai pusat peradaban saat itu. Maka pemerintah merasa perlu menfasilitasi mereka.  Karena itulah pemerintahan muslim di Maroko, Persia dan Andalusia sudah membangun rest area dan hotel-hotel gratis bagi para musafir ini.

Baca:  Ulama-Umara dalam Sejarah Daulah Utsmani [2]

Ibnu sabil adalah tamu atau musafir yang melintas melewati tempat kita. Apabila si musafir kehabisan bekal dalam perjalannya, berbuat baik kepadanya dilakukan dengan memberinya zakat atau sedekah yang cukup untuk menyampaikannya ke tujuan, walaupun dia adalah orang yang berharta di negeri tempat tinggalnya.

Belakangan, langkah pemerintah ini diikuti oleh orang-orang kaya zaman itu, yang me-wakafkan hartanya untuk memuliakan para musafir ini.

Pada masa pemerintahan Ummayah, di kota Aspahan, Iran (saat masih Sunni) saja, ada sekitar 1.600 hotel dan rest area gratis

Apakah mereka hanya diizinkan menginap gratis saja? Ternyata tidak, pemerintah dan orang-orang kaya itu juga menyiapkan chef nomor satu, untuk para penginap gratis ini,  layaknya tamu kehormatan. “Setiap hari mereka mendapatkan satu kilogram roti premium, 250 gram daging serta satu nampan makanan lain yang berisi makanan kecil,” kata Asep Sobari, Ketua Siroh Community Indonesia (SCI).

Mengapa sampai bisa begitu? Menurut Asep, ini karena gaya hidup dan pemenuhan kebutuhan muslim kala itu sudah sangat mapan.  Sehingga mereka kemudian berlomba untuk berbagi dan mejalankan pemerintah agamanya. Pemerintah benar-benar menjadi pelayan masyarakat.

Belakangan, di barat lahir  Abraham Maslow  (1908-1970) yang teori Teori hierarki. Ia beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi.

“Saat itu karena saking makmurnya, maka semua muslim yang mampu membantu. Dan pemerintah menjadi pionernya. Sedang barat masa itu masih dalam masa gelap-gelapnya.”

Dari tahun kelahiran Maslow, kita bisa mengukur, betapa Islam sudah jauh dan lama mencapai kejayaanya.  Dr Sigrid Hunke, penulis Jerman yang lama tinggal di Maroko menjelaskan bagaimana dunia Islam banyak mempengaruhi dunia barat sampai saat ini. Hunke memberi judul bukunya;  “Allahs Sonne Uber dem Abendland; unser Arabiches Erbe” telah diterjemahkan dalam 17 bahasa, diantaranya berjudul, “Allah’s Sun Over the Occident.”

Sekarang, masih banyak diantara kita yang tidak bangga dengan kebudayaan Islam, bahkan malu mengusung budaya Islam. Padahal Barat (Amerika) masih berusia 240 tahun. Masih jauh bila dibanding dengan Usmaniyah (saja), belum lagi masa Rasulullah.

Lain waktu saya akan bercerita tentang bagaiman kaum muslim di Cordoba menemukan tata cara (manner) makan yang dibagi menjadi makanan pembukan (appetizer), makanan utama (main course) dan makanan penutup (dessert). Mari memulai belajar Siroh!*/Lutfi Subagyo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:CaravansarayhostelHotel GratisJalur SuteraJejak Kebesaran IslamKeemasan Islamkejayaan islamKekhalifahan Turki UsmanimusafirOttomanpedagangTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Adara Relief: Serangan Gas Beracun Rezim Assad di Khan Sheikhoun Terbutut sejak 2013
Tulisan selanjutnya Hasan al-Bashri dan Kepemimpinan yang Dzalim [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?