Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

‘Rasa Puasa’ di Negeri Sakura [2]

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 18 Juni 2018 10:10 10:10 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 18 Juni 2018 11:15
Bagikan
Muhammad Yusri Romadhon Al-Zamy alias Azzam di pinggir sebuah pantai di Jepang, di sela-sela kegiatan Ramadhan 1438H/2017.
Bagikan

Sambungan dari kisah pertama

ADA yang menarik bagi Azzam selama menjalani Ramadhan 1438 H di Jepang. Soal kuliner. Rasa makanan di sana ia rasa berbeda dengan makanan di Indonesia.

Ia mengaku nasi di Jepang tetap nikmat walau dimakan begitu saja tanpa lauk pauk. Beda dengan nasi-nasi di Indonesia. Begitu pula, minyak maupun telur di sana punya cita rasa kenikmatan tersendiri.

“Saya selama di sana enggak pernah bermasalah dengan tenggorokan. (Sedangkan) di (Indonesia) sini, baru makan gorengan sedikit saja langsung sensitif,” ungkap bujang penghafal al-Qur’an ini saat bercerita kepada hidayatullah.com di sela-sela beriktikaf Ramadhan 1439 H, Juni 2018, di Masjid Ar-Riyadh, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dari sisi ini, setidaknya menjadi “hiburan” tersendiri bagi Azzam dalam menjalani puasa sebulan penuh di negeri Sakura tersebut. Sebab, selama bertugas menjadi imam di  Masjid Hitachi, ia mengaku banyak diliputi rasa bosan.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Baca: Kursi Kosong di Meja Iftar: Duka Warga Gaza di Bulan Ramadhan [1]

Bagaimana tidak, hari-harinya lebih banyak diisi dengan kekosongan kegiatan. Sebelum pukul 3 pagi dinihari waktu setempat, ia sudah makan sahur. Pagi sampai siang pun ia banyak beristirahat. Kegiatan rutinnya ya mengimami shalat rawatib dan shalat tarawih.

Sorenya pihak takmir menggelar buka puasa dengan membuka lowongan amal dari jamaah, sebagaimana tradisi di Indonesia. Puasanya pun ia jalani sekitar selama 17 jam setiap harinya.

Syukurnya, di masjid tersebut disediakan berbagai bahan makanan, sehingga Azzam tidak terlalu repot soal “pengisi lambung”.

Kecuali jika dia lagi kepingin makanan ringan mesti mencari keluar. Itu pun harus selektif, waspada terhadap makanan-makanan tidak halal. Maklum, ia tengah berada di negeri minoritas Muslim.

“Kalau mau makan roti atau camilan, tanya dulu ke mahasiswa, ini halal atau enggak,” ungkap santri asal Jember, Jawa Timur ini.

Bicara soal tantangan, selain rasa bosan dan kehidupan bebas ala masyarakat Jepang, persoalan cuaca juga meninggalkan kesan tersendiri baginya dalam menjalani puasa itu.

Azzam datang ke Jepang atas sponsor Masjid Otsuka, Tokyo, sekitar sepekan sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun 2017. Saat tiba di sana, tuturnya, Jepang sudah pada penghujung musim semi dan akan beralih ke musim panas. Tapi suhu masih begitu dingin.

Pada pagi hari saja mencapai 14 derajat celsius. “Pakai pemanas terus di sana,” ungkapnya. Begitu pula pada siang hari, langit biru cerah, “(tapi suhu) 19-20 derajat (celcius). Dingin juga,” sebutnya.

Baca: Berburu Lailatul Qadar, 400 Ribu Muslim Serbu Masjid Al-Aqsha

Gempa

Bukan cuaca saja. Yang paling berkesan dan terasa horor di sana adalah gempa bumi. “Sepekan bisa empat kali ngerasain gempa,” ungkapnya. Ia merasakan gempa pertama kali saat sedang berada di kamar pada pekan pertama Ramadhan 1438 H.

Menariknya, sebut Azzam, meski rawan gempa, bangunan di sana tidak hancur.

Cerita lain lagi. Sebagai pemuda yang hobi berolahraga, Azzam terkesan dengan futsal di Jepang “Sangat berkesan sekali,” ungkapnya.

Tapi bukan main futsalnya yang ia rasa berkesan, melainkan tarif sewa lapangan futsalnya.

“(Tarif) main futsal di sana kayak Rp 1 juta di sini. Jelek lagi lapangannya. Di situ rumputnya campur sama pasir. (Tarifnya) 10.000 yen per jam. Sekitar 1 juta,” tuturnya yang selama di sana bermain futsal hampir setiap pekan.

Ada juga lapangan yang tarif sewanya murah tapi tempatnya jauh dari masjid. Waktu tempuh dari tempat tinggalnya sekitar 45 menit.

Ia mengaku biasa bermain futsal pada malam hari selepas shalat tarawih. Tarawih selesai jam 10 malam. Futsalnya jam 11 sampai pukul 1 dinihari keesokan harinya. Pukul 3 dinihari sudah masuk waktu subuh. “Jadi enggak tidur,” ujar pria kelahiran Jember, 26 Januari 1998 ini.

Sedangkan kalau musim panas malamnya lebih cepat.

Pada Ramadhan tahun 1439 H/2018 ini, sebenarnya Azzam mau ke Jepang lagi. Tapi, ia lebih memilih ber-Ramadhan di Masjid Ar-Riyadh, Balikpapan, sudah janjian dengan dengan pihak DKM. Ia diminta menjadi imam di masjid tersebut.

Baca: Api Hanguskan 126 Rumah Muslim Filipina di Hari Idul Fitri

Pada tahun ini, ia pun mengaku menjalani ibadah Ramadhan dengan penuh kenikmatan.

“Selama kami hidup, (tahun) ini Ramadhan terbaik, ternikmat, tersyahdu,” ungkapnya di depan jamaah Masjid Ar-Riyadh, 2 Syawal 1439 H, Sabtu (16/06/2018).

Di Jepang, tahun lalu, puasanya pada Ramadhan 1438 H itu diuji oleh suasana tidak Islami. Kondisi imannya pun; ibarat sepeda motor, bensinnya nol terus.

Berbeda saat ber-Ramadhan di kompleks Masjid Ar-Riyadh itu.

“(Ramadhan) sekarang sebaliknya. ‘Bensinnya’ full terus,” ungkap hafizh yang menempuh pendidikan di TK Hidayatullah Ad-Dhuha Jember, SD Muhammadiyah 1 Jember, MTs Al Irsyad Al-Islamiyyah Bondowoso, MA Raadhiyatan Mardhiyyah Putra Gunung Tembak Balikpapan, dan 7 bulan menghafal 30 juz al-Qur’an di Wadi Mubarak, Bogor, Jawa Barat ini.*

Baca: Piala Dunia 2018, 400-an WNI Shalat Id di KBRI Moskow

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hidayatullah BalikpapanImam ShalatInspirasi RamadhanIslam di JepangJepangMasjid Ar RiyadhMasjid Ar-Riyadh Balikpapannegeri Sakurapenghafal al-Quranpuasa di JepangRamadhanRamadhan 1439 HRamadhan di JepangRamadhan di MancanegarasantriWNI di Jepang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Paus Fransiskus Terima Pengunduran Diri 3 dari 34 Uskup Chile Terkait Kasus Pendeta Pedofil
Tulisan selanjutnya Komjen Iriawan Jadi Pj Gubernur Jabar Diduga Mempengaruhi Pilgub

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?