PONO Musyaril Kerto namanya. Pria kelahiran Sidoarjo, 24 Oktober 1966, ini hijrah ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur pada tahun 1986. Tujuannya untuk kuliah. Sebelumnya, pada tahun yang sama, ia pernah mendaftar dua kali di Universitas Indonesia. Tapi tak diterima.
Di Kupang, Pono kuliah di Universitas Nusa Cendana (UNDANA). Usai lulus dari perguruan tinggi negeri itu, Pono mengajar di sekolah swasta Muhammadiyah Kupang. Kemudian ia mendirikan Yayasan Darul Akhirat pada tahun 1990 di Naikoten 1, Kota Kupang.
Melalui yayasan ini, Pono membentuk berbagai unit usaha pendidikan dan bisnis. Mulai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) hingga agen minyak tanah. Modalnya dari kocek pribadi. Semua ia lakukan demi memajukan masyarakat dan umat Islam di wilayah binaannya.
Di yayasannya, para santri yang memenuhi kriteria ia sekolahkan ke pondok pesantren di Jawa. Selulusnya, anak-anak itu kembali ke Kupang untuk membina masyarakat di kampung halamannya.
Ustadz Pono berkisah, TPA yang didirikannya sempat ditentang oleh sebagian masyarakat setempat dari kalangan non-Muslim. Kata mereka, kegiatan yang dilakukan Pono dan yayasannya sangat mengganggu.
Pono pun menghadap Kepala RT dan lurah setempat. Dalam pertemuan itu, Pono menyampaikan peraturan Kementerian Agama khususnya pasal tentang kebolehan warga negara membuka TPA di rumah maupun masjid.
“Kalau Bapak mau tutup kegiatan kami, tolong Bapak hapus dulu peraturan dari pemerintah, baru nanti kami tutup kegiatan ini,” kata Pono saat itu.
Ia pun menjelaskan, kegiatan seperti TPA itu sebagai bentuk perannya dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa.
Usut punya usut, ternyata, masyarakat tidak menyukai dakwah Pono karena tempat yang digunakan untuk TPA mengganggu aktivitas lalu lintas sekitar. Disiasatilah oleh Pono.
“Wali murid yang mau mengantar-jemput anak-anaknya, saya suruh memarkir kendaraan di luar area TPA,” terang bapak tiga anak ini kepada penulis. Akhirnya masyarakat tadi setempat menerima dakwah Pono.
Sunat Pasien Non-Muslim
Selain TPA, Yayasan Darul Akhirat juga melayani pengurusan jenazah secara cuma-cuma, tanpa meminta satu rupiah pun dari fakir miskin, mualaf, dan kaum dhuafa.
Pada tahun 2011, Yayasan Darul Akhirat mengembangkan sayap dengan membuka Yayasan Suka Sukur di Perumnas Kota Kupang. Dua yayasan ini sama-sama bergerak di bidang pembinaan masyarakat NTT.
Selain mengurus jenazah, pelayanan lain dari yayasannya adalah sunatan gratis. Biasanya, di Kota Kupang, tarif sunat di rumah sakit kisaran Rp 1 juta. Kalau di desa-desa tarifnya Rp 300 ribu.
Namun di yayasan milik Pono, mulai anak-anak hingga orangtua, selalu mendapatkan pelayanan sunat secara gratis. Bahkan melayani hingga ke pelosok desa.
Setiap tahun, hampir 700 orang mendapat pelayanan sunat gratis di kedua yayasan itu. Pelayananan pun tak pandang agama maupun strata sosial pasien. Baik Muslim maupun non-Muslim, pun masyarakat kota atau pedesaan.
Terkadang, jika memenuhi kuota pendataan, dilakukan sunatan massal. Hal ini pernah digelar di sejumlah desan binaan Pono, seperti Oenai, Belle, Oeleu, Billa, serta Ue-Ue di daratan So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Membangun Infrastruktur
Melalui yayasannya, Pono juga berperan dalam pembangunan infrastruktur untuk kepentingan masyarakat pelosok. Khususnya pengadaan air bersih. Ia pun mendorong mengalirnya bantuan dana Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT) bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum NTT.
Pono kemudian membangun tempat penampungan air hujan dan sumur bor di Desa Billa, Kabupaten So’e. Tak lepas pula ia membina para guru dan santri TPA di daerah pelosok itu.
Setiap sebulan sekali, Pono mengadakan safari dakwah bersama rekan-rekan pegiat dakwah pelosok dan pengusaha Kota Kupang.
Satu hal yang menjadi prinsip dakwah Pono adalah memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Ia berharap, keberadaan dirinya dapat membantu lebih banyak lagi kepada semua kalangan. Sehingga orang tertarik dengan Islam lewat akhak dan perbuatan.
Masyarakat binaan Pono begitu merasakan manfaat besar atas kiprah dakwah dan sosial kedua yayasan itu.
“Ustadz Pono termasuk dai yang sabar dalam berdakwah. Kapan saja dibutuhkan beliau selalu hadir memberikan bantuan,” tutur Haji Zakir, salah seorang simpatisan Pono.* Usman Aidil Wandan, pegiat komunitas menulis PENA Kupang, NTT