Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Makanan Halal dan Larangan Merokok di Negeri Gajah Putih

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Desember 2013 09:11 9:11 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Desember 2013 09:11
Bagikan
Produk rokok di Thailand yang selalu disertakan gambar-gambar mengerikan
Bagikan

AWAL November lalu, saya mendapat kesempatan untuk melakukan belajar ke Thailand tepatnya di Burapha University Chon Buri.  Setibanya di Bandara Donmueang Bangkok saya langsung menuju Kota Chonburi dengan menggunakan bus sekitar 1,5 jam.

Chon Buri adalah kota yang terdekat dengan Bangkok, berlokasi di Timur Semenanjung Thailand dan berjarak hanya 80 km dari Bangkok. Wilayahnya melimpah dengan sumber daya alam, yang memiliki pantai indah dan menyenangkan, warna-warni lokal, tradisi, seafood yang lezat dan segar.  

Sebagai mahasiswa yang sedang belajar di negera orang tentunya banyak hal-hal positif dan negatif yang kita akan peroleh, tertama dalam hal budaya, bahasa, pergaulan dan terutama makanan.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Makanan adalah hal yang sangat penting bagi saya ketika pertama kali datang ke Bangkok, cita rasa yang berbeda dengan makanan Indonesia mebuat saya agak kesulitan dalam hal memilih makanan, apalagi dengan memilih makanan yang halal.

Sulit pada awalnya menemukan makanan yang tepat dan terasa enak di lidah. Namun, lama kelamaan sebenarnya akan terbiasa dan semuanya terasa enak saja di lidah. Meskipun tidak semuanya akan terasa nikmat pada akhirnya.

Berkat bantuan saudara-saudara di Muslim Club, mencari santapan halal tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Ada lumayan banyak tempat-tempat yang menjual khusus masakan halal. Begitu juga ketika berbelanja di minimarket, untuk mencari makanan yang halal kita tinggal melihat label halal dalam kemasan.

Satu hal yang saya alami ketika akan berbelanja, mereka tahu kalau kita bukan orang Thailand, dan mereka akan bertanya, “Muslim, Muslim..? Dan mereka memberikan isyarat dengan tangan, yang artinya makanan ini tidak boleh untuk orang Muslim, karena mengandung Babi. Begitulah cara penghormatan para penjual kepada kaum Muslim seperti saya. Hal seperti ini sangat berbeda dengan Indonesia.

Muslim Club

Perkembangan mahasiswa Muslim yang belajar di Burapha University selalu mengalami perkembangan, selain orang Thailand sendiri juga berasal dari berbagai Negara. mereka bergabung dalam suatu wadah bernama Muslim Club.

Komunitas ini adalah perkumpulan mahasiswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan, mulai dari pengajian, sholat berjama’ah, dan musyawarah. Untuk pengajian meggunakan bahasa Indonesia, dan ada juga pengajian yang menggunakan bahasa Thailand untuk mahasiswa/mahasiswi Thailand.

Setelah 4 hari kami berada di Burapha University, salah satu kegiatan dan usaha yang baru dibuka oleh Muslim Club adalah membuka kantin yang menyediakan makanan halal untuk mahasiswa Muslim.

Selain itu disekretariat Muslim Club dalam kampus juga dijadikan tempat pelaksanaan Sholat berjama’ah dan sholat Jum’at.

Gunawan, seorang mahasiswa S3 asal Lombok yang  juga salah satu pengurus Muslim Club mengatakan, dulu sebelum terbentuk Muslim Club untuk melakukan Sholat Jum’at mahasiswa mengalami kesulitan, karena harus menuju satu-satunya masjid yang berada kota Chon Buri yang tempatnya sangat jauh dan berada dipinggiran kota.

Memang betul. Di saat saya dan teman-teman ingin melaksanakan sholat jumat di masjid Al-Hidayah, kami harus carter shomteo (angkot) pulang pergi sebesar 500 bath atau sekitar Rp. 200.000.

Namun setelah terbentuk Muslim Club, barulah diadakan Sholat Jum’at di dalam Kampus Burapha University.

Pihak kampus Burapha juga memberikan sikap yang sangat toleran terhadap Muslim/Muslimah yang sedang belajar. Mulai dari kebebasan menggunakan jilbab dan saling menghormati.

Merokok hal yang Bodoh

Ada sesuatu yang berbeda di Thailand khususnya jika kita berjalan di tempat-tempat umum di sana yang biasanya sering tidak kita jumpai di Indonesia. Saat berada di Kampus Burapha University, Chon Buri, Thailand,  saya temukan banyak tanda larangan merokok.

 Bahkan ada tulisan di beberapa tempat umum di Thailand yang berbunyi; “Smoking in this area prohibited”, “Fine 2000 baht” (Denda 2000 baht atau senilai Rp. 760.000), sebuah peringatan mengerikan bagi mereka yang kecanduan merokok.

Usut punya usut, merokok bagi masyarakat Thailand dipandang sebagai hal yang bodoh dan umumnya hanya dilakukan oleh orang-orang kelas bawah yang tidak berpendidikan, sehingga sebagian besar orang Thailand tidak mau disebut demikian.

Bahkan larangan merokok di Thailand juga tidak hanya di lakukan dalam bentuk peringatan denda jika merokok di area umum namun juga ada cara unik yang dilakukan pemerintah Thailand. Yaitu dengan cara mengganti gambar-gambar di kotak rokok menjadi gambar yang menyeramkan seperti gambar paru-paru rusak, gigi hitam, orang terkena sakit jantung, orang tubuh yang luka-luka, dan masih banyak lagi.

Menurut sejarah, sejak tahun 1939 pemerintah Thailand telah merencanakan untuk menjalankan bisnis tembakau itu sendiri. Caranya dengan mengambil alih pabrik tembakau Burapha Tembakau Co, Ltd Thailand. Kemudian Departemen Cukai Thailand yang berada di bawah Departemen Keuangan telah ditugaskan untuk mengambil kendali atas pabrik itu sejak 19 April 1939.

Dari kebijakan pemerintah Thailand itu bisa ditebak arahnya kenapa gambar-gambar seram mesti dipasang di bungkus rokok yang ada di negara tersebut.

Selain itu, jumlah perokok Thailand harus dikurangi habis habisan. Maklum rokok lokal kalah bersaing di sini. Bisa dibayangkan jika rokok lokal tersebut kalah bersaing dengan rokok impor, bisa dihitung devisa negara Thailand yang akan tersedot untuk membiayai pembelian impor rokoknya.

Itulah beberapa hal yang saya ketahui sebagai penyebab kenapa larangan merokok sangat gencar dilakukan di Negeri Gajah Putih ini. Selain masyarakatnya sangat peduli dengan kesehatan dan lingkungan, pemerintah Thailand pun sangat antisipasi dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi di negaranya yang diakibatkan oleh rokok.

Selama di Thailand, jarang saya menemukan orang merokok di areal kampus, trotoar, halte, pasar, dan ditempat strategis mana saja, sebagaimana di Indonesia.

Etika tidak merokok di Thailand adalah cerminan bagi kita semua yang tentunya bermanfaat bagi kesehatan, membuat wajah tetap fresh, lingkungan tetap bersih, dan tidak terpolusi.*/Sulardi, penulis adalah mahasiswa Pascasarjana  dan pernah belajar di Burapha University

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:halalrokok
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mantan Staf Mursy: Kudeta Mesir Telah Menewasnya 40 Wanita, 500 Ditangkap
Tulisan selanjutnya Saatnya Mencurigai Batas Umur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?