Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Kisah Orang-Orang Spanyol yang Lebih Memilih Islam [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Oktober 2016 14:31 2:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Oktober 2016 14:11
Bagikan
Muslim di Kota Madrid Spanyol sedang mengikuti shalat Jumat
Bagikan

Hidayatullah.com–Walaupun Spanyol adalah negeri dengan banyak orang imigran dari Afrika Utara, orang-orang Spanyol yang masuk Islam -khususnya yang memilih ajaran sufisme– adalah sesuatu yang langka.

“Nama saya,” sapa seorang wanita berkerudung serta bersandal warna merah muda dan ungu, “adalah Bahia, yang berarti lautan kecantikan dan kasih sayang’ dalam bahasa Arab. Selamat datang di sekolah saya,” lanjutnya.

Teh dituang ke gelas-gelas, makanan-makanan manis disodorkan, dan kami duduk di tempat teduh di bawah pepohonan zaitun berumur lebih dari 100 tahun yang berada di halaman belakang sekolah kecil bermetode Montessori untuk berbicara tentang ajaran sufi, bentuk Islam mistik.

Namun, kami tidak berada di negara Islam, melainkan di Spanyol selatan yang merupakan negara Katolik.

Órgiva, yang terletak di sekitar 60 km dari Granada di bagian tenggara dan menyempil di kawasan pegunungan Alpujarra, adalah tempat yang luar biasa.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Jumlah populasi kota kecil tersebut hanya di bawah 6.000 orang, tapi yang mengagumkan adalah jumlah tersebut meliputi 68 kebangsaan berbeda, juga termasuk komunitas umat Buddha, O.Sel.Ling, dan hamparan tenda-tenda di perkemahan orang-orang Rainbow (Pelangi) -suatu kelompok yang berkomitmen terhadap prinsip anti kekerasan dan pro egaliter- yang dinamakan Beneficio.

Tapi, saya datang ke pegunungan ini untuk menemui komunitas peradaban terbesar di sini, yang terdiri dari 35 keluarga Sufi yang masuk Islam dari agama Katolik.

Walaupun Spanyol adalah negeri dengan banyak orang imigran dari Afrika Utara, orang-orang Spanyol yang masuk Islam -khususnya ajaran Sufisme atau Tasawuf- adalah sesuatu yang langka.

Saya ingin tahu apa yang mendorong mereka untuk masuk Islam, dan mengapa mereka memilih untuk tinggal di daerah terpencil di Andalusia.

Bahia, yang nama aslinya adalah Maria Jose Villa Cascos, menjelaskan bahwa dia lahir di Seville, sekitar 320 km bagian barat dari Órgiva. Dia kuliah hukum dan bekerja di Madrid sebagai pengacara.

“Pencarian saya terhadap jalan hidup yang benar, sesungguhnya dimulai di perguruan tinggi Katolik tempat saya bersekolah di Seville,” katanya kutip BBC, Selasa (04/10/2016).

“Butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar, menggali, meragukan, dan bereksperimen hingga saya akhirnya menemukan filosofi dan ajaran Sufi. Cara hidup ajaran Sufi, ajaran toleransi, pemahaman luas, kasih sayang terhadap umat manusia tanpa pamrih, dan penolakan total terhadap kekerasan yang menjadikan alasan saya masuk Islam. Kami berkonsentrasi pada kesederhanaan hidup, lebih menghargai spiritual daripada material. Itu juga salah satu alasan kenapa saya meninggalkan profesi saya sebagai pengacara dan mengajar anak-anak,” lanjutnya panjang lebar.

Dia menjelaskan bahwa Umar, yang ditunjuk sebagai emir (kepala) ajaran Sufi pada 1970-an, kebetulan tinggal di Órgiva sebelum Umar memeluk ajaran tersebut.

Selama bertahun-tahun, para pemeluk Sufi baru lainnya pindah ke sini, seperti Bahia yang langsung memutuskan menjalankan sekolah saat peluang tersebut muncul.

Namun, pemeluk Sufi di Órgiva bukanlah orang-orang pengkhayal atau tertinggal. Mereka menggunakan ponsel, internet, dan Instagram.

Mereka menjalankan bisnis, seperti Bahia dengan sekolah Montessorinya serta suaminya yang memiliki toko peralatan listrik. Orang-orang lainnya bertani-beternak dan menjual produk-produk hasilnya.

Tapi, seluruh kehidupan mereka didominasi oleh kepercayaan Sufi.

Satu hal yang membedakan mereka adalah pakaiannya yang khas. Para pria mengenakan celana panjang serta kemeja longgar, dan para wanita mengenakan kerudung, baju berlengan panjang dan rok panjang semata kaki.

Saya bertanya-tanya, dengan adanya perasaan takut terhadap serangan-serangan teror di Spanyol akhir-akhir ini, juga beberapa orang mulai menghubungkan agama Islam dengan pejihad dan radikalisasi, bagaimana reaksi orang-orang terhadap mereka.

“Di sini, di Órgiva, tak ada orang yang menoleh dua kali karena kami berkomunitas cukup besar. Di tempat-tempat lain, orang-orang mungkin menatap dari cara saya berpakaian dan mungkin berpikir saya orang asing, tapi…,” dia mengangkat bahu.

Kota Granada yang elok
Kota Granada yang elok

Daripada merisaukan tatapan-tatapan orang dan bisikan-bisikan, Bahia fokus pada pengajaran toleransi, kasih sayang, dan memahami sesama.

“Dalam masa-masa bergejolak seperti saat ini, orang-orang memiliki pandangan yang sangat sepihak terhadap Islam. Bom dan serangan teror menjadi pokok berita, sedangkan (berita-berita) tentang kebajikan tidak,” ujar Bahia.

“Ketidakseimbangan ini perlu ditangani dan orang-orang harus memahami bahwa Islam dan sufi khususnya, berarti ajaran damai dan ketaatan total kepada Allah, yang merupakan perahu yang membantu kita mengarungi samudra kehidupan,” katanya.

Untuk mengetahui lebih lanjut, saya pergi ke Restoran dan Kedai Teh Baraka, yang dimiliki oleh pemeluk Sufi lainnya, Pedro Barrio, yang sekarang bernama Qasim.

Setelah Lima Abad, Muslim Granada Miliki Masjid

Qasim berasal dari keluarga Katolik di Bilbao di mana dia dulu menjalankan restoran keluarga. Dia juga mencari haluan spiritual mulai saat dia berusia muda.

“Saya sudah bereksperimen dengan banyak hal,” ucapnya.

“Pada suatu saat, saya bahkan mempraktikkan ajaran Buddha, lalu tertarik pada Syamanisme dan vivation yang merupakan teknik pernapasan. Melalui seorang teman, saya menjadi akrab dengan ajaran Sufi. Saat saya menemukan ajaran Sufi dan mengetahui bahwa Yesus adalah nabi dalam agama Islam, saya merasa saya sudah kembali ke jalan saya. Segalanya (terasa) akrab bagi saya dan saya tahu bahwa inilah kepercayaan yang ingin saya ikuti, jadi saya memutuskan untuk memeluknya. Ajaran ini memberikan saya kedamaian dan tujuan hidup,” jelasnya.

“Bagaimana reaksi keluarga Anda?” tanya saya.

“Tidak terlalu bagus. Ibu saya yang lebih memahami, tapi ayah saya marah. (Waktu itu saya) juga ada masalah dengan restoran kami. Saya sholat di masjid, lalu harus pergi ke restoran, menjamu pelanggan dengan minuman alkohol dan memotong ham. Saya tidak bisa menjalani hidup seperti itu,” ujarnya.

“Takdir menyelamatkan saya. Seorang kawan Sufi di Órgiva ingin membuka restoran Islamiah kecil, tapi tak punya uang. Dia menghubungi saya, dan karena saya mempunyai dana, saya menjadi mitra pertamanya dan sekarang saya adalah pemilik tunggal.” (bersambung)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:GranadaIslam di SpanyolSpanyol
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya sikap nu hti KH Said Aqil: Ahok Singgung Perasaan Umat Islam seperti ‘Bangunkan Macan Tidur’
Tulisan selanjutnya Aliansi Pergerakan Islam: Waspadai Upaya Cinaisasi di Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Berita
4 Juni 2026 09:00
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?