Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Untuk Pertama Kali, Cacing Ditemukan Hidup di Otak Seorang Wanita

Ahmad
Terakhir diupdate: 30 Agustus 2023 12:41 12:41 pm
Ahmad
Dipublikasikan 30 Agustus 2023 12:45
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Tim dokter di sebuah rumah sakit di Australia terkejut menemukan cacing parasit masih hidup di otak seorang wanita saat operasi. Penemuan cacing hidup di otak pasien merupakan kasus pertama di dunia.

Kasus ini diterbitkan pada hari Senin (28/8/2023) di Jurnal Emerging Infectious Diseases.

Menurut The Guardian, ahli bedah saraf Dr. Hari Priya Bandi mengeluarkan cacing gelang parasit berukuran delapan sentimeter dari otak pasien wanita berusia 64 tahun itu. Situasi ini membuat Dr Priya menghubungi rekanya, dokter spesialis penyakit menular di rumah sakit tersebut, dan rekan lainnya untuk meminta saran apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Ya Tuhan, Anda tidak akan percaya apa yang baru saja saya temukan di otak wanita ini – dan otak itu hidup dan menggeliat,” ujar Dr. Sanjaya Senanayake.

“Saat Anda mengoperasi otak seseorang dan melakukan biopsi terhadap sesuatu, Anda tidak pernah menyangka akan menemukan sesuatu yang hidup, ” kata Dr Sanjaya Senanayake, salah satu penulis kepada Reuters.

Baca Juga

Studi: Kopi Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Kanker dan Sirosis Hati
Temuan BRIN, Bahaya Vape: 100% Berdampak Diabetes, 92% pada Paru-Paru
Gemini AI Milik Google Bisa Melakukan Serangan Siber, Menebak Kata Sandi
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan

Wanita asal New South Wales ini awalnya dirawat di rumah sakit pada Januari 2021 setelah mengeluh sakit perut dan diare selama tiga minggu, disusul TBC dan demam terus-menerus.

Setelah wanita tersebut mulai mengalami gejala pelupa dan depresi pada tahun 2022, dia dirujuk ke rumah sakit Canberra. Hasil pemindaian MRI (magnetic resonance imaging) menemukan adanya kelainan pada lobus frontal kanan otak pasien sehingga memerlukan pembedahan.

“Tetapi ahli bedah saraf tersebut tidak berpikir mereka akan menemukan cacing yang menggeliat,” kata Sanjaya Senanayake. “Ahli bedah saraf secara rutin menangani infeksi di otak, tetapi ini merupakan temuan yang hanya terjadi sekali dalam kariernya. Tidak ada seorang pun yang menyangka akan menemukannya,” jelasnya dalam laporan tersebut.

Sementara itu, kata Sanjaya, ia mengirimkan sampel cacing gelang ke laboratorium ilmuwan CSIRO yang memiliki pengalaman dan pengetahuan luas tentang parasit. Dia mengatakan laboratorium memastikan itu adalah Ophidascaris robertsi.

Kabarnya, Ophidascaris robertsi merupakan cacing gelang yang banyak ditemukan pada ular piton. Pasien di rumah sakit di Canberra ini menandai kasus pertama di dunia yang menemukan parasit pada manusia.

Pasien tinggal di dekat kawasan danau yang terdapat ular piton karpet. Meskipun tidak ada kontak langsung dengan ular, dia sering mengumpulkan rumput asli, termasuk sayuran hijau, dari sekitar danau untuk dijadikan masakan, kata Senanayake.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, tiga perempat penyakit menular baru atau yang baru muncul pada manusia berasal dari hewan.

Senanayake mengatakan kasus pertama di dunia ini menyoroti bahaya penyakit dan infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama karena manusia dan hewan mulai hidup lebih berdekatan dan habitat semakin tumpang tindih.

“Ada sekitar 30 infeksi baru di dunia dalam 30 tahun terakhir,” katanya. “Dari infeksi yang muncul secara global, sekitar 75% bersifat zoonosis, artinya telah terjadi penularan dari dunia hewan ke dunia manusia. Ini termasuk virus corona.

“Infeksi Ophidascaris ini tidak menular antar manusia, sehingga kasus pasien ini tidak akan menyebabkan pandemi seperti Covid-19 atau Ebola. Namun, ular dan parasit tersebut juga ditemukan di belahan dunia lain, sehingga kemungkinan besar kasus-kasus lain akan ditemukan di negara-negara lain di tahun-tahun mendatang.”

Dokter penyakit menular Prof Peter Collignon, yang tidak terlibat dalam kasus pasien tersebut, mengatakan beberapa kasus penyakit zoonosis mungkin tidak akan pernah terdiagnosis jika penyakit tersebut jarang terjadi dan dokter tidak tahu apa yang harus dicari.

“Terkadang, orang meninggal tanpa diketahui penyebabnya,” ujarnya. “Perlu berhati-hati saat bertemu dengan hewan dan lingkungan, dengan mencuci makanan secara menyeluruh dan memasak makanan dengan benar, serta memakai pelindung seperti baju lengan panjang agar tidak tergigit,” ujarnya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Australiacacing parasitdokterHeadlineophidascaris robertsiotakular pitonwanita
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemberantasan Judi Online Dinilai hanya Menjerat Pelaku Kecil, Polisi Harus Tegas
Tulisan selanjutnya Aktivis Muslim: Hanya Pendidikan yang Bisa Meredakan Kekerasan Hindu terhadap Muslim di India

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran

Berita
17 Oktober 2026 10:37
Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak
Serangan Drone Paramiliter Sudan Tewaskan 41 Orang Dekat Perbatasan Ethiopia
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato

8 Juli 2026 08:09
Iptekes

UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa

3 Juli 2026 20:54
Iptekes

Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat

21 Juni 2026 13:43
Iptekes

Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah

25 Mei 2026 08:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?