Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Tafsir Ayatul Ahkam Surat Al-Baqarah 258-260:  Kisah Nabi Ibrahim dan Namrud (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Januari 2023 11:01 11:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Januari 2023 10:45
Bagikan
Bagikan

Selain mengulas kisah Nabi Ibrahim dan Raja Namrud, Surat ini juga menjelaskan bagaimana Allah menghidupkan kembali keledai yang sudah mati, menyusun kembali tulang-tulang yang telah berserakan, dan membalutnya dengan daging, urat saraf dan kulit

Sambungan artikel PERTAMA

Hidayatullah.com | AYAT di atas menunjukkan bolehnya melakukan dialog dan perdebatan dalam masalah agama dan keyakinan. Jika tujuan perdebatan menjelaskan kebenaran dan di prediksi membawa maslahat dakwah diantara dalilnya adalah sebagai berikut,

a) Firman-Nya,

 وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

Baca Juga

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

“dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: :125 ).

b) Firman-Nya,

وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, ”Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” (QS. Al-Ankabut [ 29 ] : 46)

 c) Firman-Nya,

 وَقَالُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلَّا مَنْ كَانَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

 “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.”  (QS. Al-Baqarah [2]: 111).

 d) Firman Allah tentang perdebatan Nabi Nuh dengan kaumnya; 

قَالُوْا يٰنُوْحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَاَ كْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ

 “Mereka berkata, “Wahai Nuh! Sungguh, engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar.” (QS. Hud [ 11 ] : 32 )

Kisah Uzair bin Syarkhiya

 اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [ 2 ] : 259 )

Ayat di atas menjelaskan tentang kisah Uzair bin Syarkhiya, salah satu ulama Bani Israil yang melewati sebuah kota yang hancur, tembok-tembok yang telah runtuh di atas atap-atapnya. 

وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ

“yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya.”

Khawiyah artinya: kosong, sedangkan “urusy adalah atap-atap sehingga diartikan, “kosong karena runtuh atap-atapnya.”

Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan kota yang dimaksud. Yang paling masyhur di kalangan ahli tafsir  bahwa kota tersebut adalah Baitul Maqdis yang dihancurkan oleh Bukhtanasar.

Kemudian Uzair berkata, 

اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا

“Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?”

Pertanyaan ini mengandung dua hal;

a) Bagaimana Allah menghidupkan kembali kota yang sudah hancur ini ?

b) Bagaimana Allah menghidukan orang-orang yang sudah mati?

Allah berfirman;

فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَه

“Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali.”

Imam Al-Qurthubi berkata, “Makna lahiriyah dari ayat ini adalah kematian yang sebenarnya (keluarnya ruh dari jasad). ”Jadi bukan pingsan dan bukan pula koma atau mati suri. Hal ini juga dinyatakan oleh Ibnu Katsir.

Kemudian setelah 100 tahun, Allah menghidupkannya kembali. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa setelah berlalu 70 tahun dari kematiannya.

Allah mengirim seorang Raja Persia yang agung bernama “Kusyka” ke tempat tersebut dan membangun kembali kota tersebut selama 30 tahun.

Dalam Al-Quran disebutkan;

قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ

“Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.”

Diriwayatkan bahwa Allah mematikannya pada pagi hari, kemudian menghidupkan setelah 100 tahun ppada sore harinya. Oleh karenanya ia mengira baru tidur sehari satu setengah hari.

Hal ini mirip dengan jawaban ashabul kahfi ketika ditanya, berapa lama kalian tinggal di dalam gua ini?

 قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ

“Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” (QS. Al-Kahfi [ 18 ] : 19 )

Allah berfirman;

قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَ

“Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang).”

Makanan di sini maksudnya buah (tin) yang ia kumpulkan dari pohon-pohon sekitar kota tersebut. Dahulu kota Baitul Maqdis dan sekitarnya banyak tumbuh pohon tin dan zaitun. Ini sesuai dengan firman Allah, 

وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.” (QS. At-Tin [ 95 ] : 1)

Maksudnya yang tumbuh di kota Baitul Maqdis, mengisyaratkan tentang Nabi Isa Alaihi Salaam.

Adapun minuman di sini adalah minuman hasil perasan buah. Makanan dan minuman tersebut tidak berubah (لَمْ يَتَسَنَّهْ) makna aslinya tidak berubah dengan perubahan tahun.

Tetapi ketika melihat keledainya ternyata dia telah mati tidak tersisa darinya kecuali tulang belulangnya saja. Terkait ini Allah berfirman;

وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا

“Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.”

Uzair dijadikan Allah sebagai salah satu bukti kekuasaan-Nya hal itu karena dia diperintahkan untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah menghidupkan kembali keledai yang sudah mati tersebut, setahap demi setahap, mulai dari menyusun kembali tulang-tulang keledai tersebut yang telah berserakan, kemudian dibalutnya dengan daging, urat saraf dan kulit. Seperti terbalutnya  tubuh oleh pakaian. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh  ke dalam jasad keledai  tersebut, lalu keledai itu pun hidup kembali.

Kata (نُنْشِزُهَا) artinya kami tinggikan. Dikatakan wanita Nasyizah yaitu wanita yang meninggi dan melawan suaminya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ

“Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz.” (QS. An-Nisa [4]: 34 )

Berarti makna ayat 259 dari Surat al-Baqarah di atas adalah “Kami mengangkat tulang-tuang keledai tersebut dari muka bumi dan menggabungkan satu dengan yang lainnya, kemudian kami tiup dengan daging.”/Dr Ahmad Zain An-Najah, Pusat Kajian Fiqih Indonesia (PUSKAFI) (BERSAMBUNG)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineKisah Nabi Ibrahim dan NamrudRaja NamrudTafsir Ayatul AhkamTafsir Surat Al-Baqarah 258-260
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Di Amerika Bocil Bawa Senjata Api Tembak Guru, Pihak Sekolah Tak Ambil Pusing
Tulisan selanjutnya ‘Israel’ Menghancurkan Rumah Pejuang Palestina yang Telah Melancarkan Aksi Serangan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola

Berita
8 Juni 2026 17:20
Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
Pasokan Avtur Saudi ke Eropa Melebihi Sebelum Penutupan Selat Hormuz

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan

14 Mei 2026 08:46
Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hikmah

Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba

5 Mei 2026 11:04
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?