IBNU SAID BIN HAZM yang tidak lain merupakan ayah dari Ibnu Hazm ulama pengasas madzhab Adz Dzahari dari Andalusia merupakan seorang menteri di pemerintahan Al Manshur. Suatu saat sang amir memerintahkan Ibnu Said untuk menulis vonis mati terhadap seorang tahanan yang ditujukan kepada pihak aparat kemanan.
Ibnu Said pun menjalankan perintah Al Manshur, namun setelah sang amir mengetahui yang ditulis Ibnu Sa’id, ia justru marah besar, sambil melempar kertas itu kepada menterinya Al Mansur menyatakan,”Siapa yang menyuruh engkau membebaskan tahanan itu!?”
Ternyata Ibnu Sa’id keliru dalam menulis, mestinya ia menulis “yuslabu” (disalib) namun yang tertulis adalah “yuthlaqu” (dibebaskan). Ibnu Sa’id pun menyampaikan, “Aku berniat menulis “disalib”, demi Allah agar ia “disalib””.
Akhirnya Ibnu Sa’id pun menulis kembali apa yang diperintahkan sang amir. Namun setelah pesan tertulis, sang amir pun kian marah, karena hal tertulis di kertas itu sama dengan yang tertera di kertas yang pertama, bahwa tahanan itu “dibebaskan”.
Kembali Ibnu Sa’id menulis ulang perintah itu, namun Al Manshur semakin murka dengan apa yang tertulis bahwa tahanan itu “dibebaskan”, meski Ibnu Sa’id bermaksud menulis “disalib”. Akhirnya sang amir pun merasa heran dengan kesalahan itu dan mencoba merenung sampai akhirnya ia menyatakan,”Baik, ia dibebaskan meski aku tidak menghendaki hal itu. Barang siapa yang dikehendaki Allah bebas aku tidak mampu mencegahnya”. (lihat, Wafayat Al A’yan, 1/341)