Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
HikmahKajian

Teladan Imam Abu Hanifah dan Ibunya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Oktober 2023 11:06 11:06 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Oktober 2023 11:05
Bagikan
Bagikan

Ibunda Imam Abu Hanifah memerintahkannya menemui Umar bin Dzurr untuk bertanya hukum, padahal, saat itu tidak ada yang lebih faqih kecuali dirinya

Hidayatullah.com | KEBANYAKAN UMAT ISLAM pasti mengenal Imam Hanafi atau Abu Hanifah. Seorang ulama besar sekaligus mujtahid mutlak.

Ia adalah pendiri Mazhab Hanafi, salah satu mazhab terkemuka di kalangan ulama Ahlus Sunnah. Imam Abu Hanifah lahir pada tahun 80 Hijrah/699 Masehi, di sebuah kota bernama Kufah.

Imam Hanafi bukan orang Arab (‘Ajam), namun ia adalah keturunan Persia.

Imam Hanafi adalah seorang yang kokoh dan kuat jiwanya. Ia selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalan banyak beribadah dan berakhlaqul karimah.

Baca Juga

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi

Setiap harinya ia sangat rajin menunaikan kewajiban. Ia pun jarang tidur dengan pulas meski malam hari.

Setiap malam ia selalu menunaikan shalat malam. Setiap malam pula ia membaca Al-Quran sampai khatam.

Imam Syaqiq al-Balkhi pernah berkata; “Imam Abu Hanifah adalah seorang yang terhindar jauh dari perbuatan yang dilarang oleh agama. Ia adalah sepandai-pandai orang yang berilmu agama dan seorang yang banyak ibadahnya kepada Allah SWT. Ia pun amat berhati-hati dalam hukum-hukum agama.”

Imam Ibrahim bin Ikrimah berkata, “Pada masa hidupku, belum pernah aku melihat seorang alim yang amat benci kemewahan hidup, yang lebih banyak ibadahnya kepada Allah dan yang lebih pandai tentang urusan agama, selain Imam Abu Hanifah.”

Karena itulah, sebagaimana umumnya ulama salafush-shalih, Imam Abu Hanifah bukan hanya terkenal karena keilmuannya yang mumpuni hingga ia mencapai derajat mujtahid mutlak. Ia juga termasyhur karena kepribadiannya yang sangat mulia dan agung.

Berikut adalah secuil fragmen kepribadian Imam Hanafi  yang mulia dan agung, yang tentu layak diteladani.

***

Suatu hari Imam Abu Hanifah pulang mengunjungi salah seorang sahabatnya yang sakit. Saat di perjalanan, ia melihat seorang laki-laki yang berusaha bersembunyi dan mencoba menghindar mencari jalan lain.

“Fulan, tetaplah di jalan yang engkau lalui!” seru Imam Abu Hanifah.

Saat lelaki itu tahu bahwa Imam Abu Hanifah telah melihat dia, dia pun terlihat salah tingkah dan berhenti. Imam Abu Hanifah lalu menghampiri dia.

“Mengapa engkau membatalkan untuk berjalan melalui jalan yang engkau telah lalui?” tanya Imam Abu Hanifah.

“Abu Hanifah, saya masih memiliki hutang kepada Anda 10 ribu dirham (sekitar Rp 700.000.000,-) dan dalam waktu yang cukup lama hingga saat ini aku belum melunasi utang itu. Karena itu saat saya melihat Anda, saya malu kepada Anda,” jawab lelaki tersebut.

 “Mahasuci Allah. Keadaanmu sampai seperti ini. Jika engkau melihat aku, engkau bersembunyi. Jika demikian, aku telah merelakan hartaku itu untuk engkau dan engkau sekarang sudah bebas dari tanggungan utangmu kepadaku,” jawab Imam Abu Hanifah (dalam Al-Manaqib Imam Abi Hanifah, 1/206).

Dalam peristiwa lain, suatu hari Abu Hanifah didatangi oleh seorang perempuan yang menawarkan kain sutra. “Apakah Anda berkenan membeli sutra ini?,” kata perempuan itu.

“Berapa harganya?” tanya Abu Hanifah.

“Seratus dirham,” jawab perempuan itu.

“Pakaian seperti ini bisa dijual lebih tinggi dari 100 dirham,” kata Abu Hanifah.

Perempuan itu akhirnya menambah 100 dirham lagi hingga menjadi 200 dirham. Abu Hanifah berkata bahwa harga barang itu masih layak dinaikan lagi.

Dan perempuan itu pun menambah hingga 400 dirham. Namun, sekali lagi Abu Hanifah berkata, “Masih ada harga yang lebih baik dari itu?”

“Anda pasti menghina saya,” jawab perempuan itu.

“Cobalah Anda mencari seorang yang ahli dalam menaksir harga barang ini. Saya tidak ingin menzalimi Anda,” jawab Abu Hanifah.

Perempuan itu lalu mendatangkan seorang ahli menaksir harga barang. Abu Hanifah segera meminta dia untuk menaksir harga barang yang ditawarkan oleh perempuan itu.

Penaksir itu kemudian menaksir barang tersebut dengan harga 500 dirham. Akhirnya, Abu Hanifah membeli kain sutra itu (Syeikh Muhammad Hasan al-Jamal, Biografi 10 Imam Besar [edisi Indonesia] hlm 19, Pustaka Al-Kautsar).

Imam Abu Hanifah dan Ibundanya

Dalam peristiwa lain lagi, suatu saat Ibunda Imam Abu Hanifah berkata; “Aku melihat darah (haid) setelah hari-hari suci hingga aku tidak tahu apakah aku harus meninggalkan shalat atau tidak. Pergilah kepada Abu Abdurrahhman Umar bin Dzurr. Lalu tanyalah dia.”

Padahal saat itu tak ada ulama yang lebih faqih daripada Imam Abu Hanifah  Namun demikian, untuk memenuhi perintah ibundanya, Imam Abu Hanifah tetap berangkat menuju rumah Umar bin Dzurr.

Ia lalu bertanya tentang masalah yang ditanyakan sang Ibunda. Tentu saja Umar bin Dzurr tertawa.

“Bagaimana Anda bertanya tentang satu persoalan, sedangkan kami mengambil ilmu dari Anda?,” kata Umar bin Dzurr.

“Sungguh, ibuku memerintahkan aku bertanya kepada engkau. Ia memiliki hak atas diriku,” jawab Imam Abu Hanifah.

“Abu Hanifah, apa yang telah Anda sampaikan mengenai masalah itu?” tanya Umar bin Dzurr.

“Aku berkata demikian, demikian,” jawab Imam Abu Hanifah.

“Pergilah dan katakanlah kepada Ibu Anda demikian, demikian,” jawab Umar bin Dzurr.

Lalu pulanglah Imam Abu Hanifah dan berkata kepada Sang Ibunda dengan penuh adab. “Abu Abdurrahman Umar bin Dzurr berkata untuk Ibu demikian, demikian.” (Manaqib Imam Abi Hanifah li al-Qurdi, 2/403).

Begitulah secuil kepribadian mulia dan agung dari Imam Abu Hanifah. Semoga kita bisa mengikuti jejak keteladanannya, juga mereguk ilmunya yang luar biasa,  yang telah ia wariskan kepada kita.*/ Arief B. Iskandar, khadim Ma’had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah Bogor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abu HanifahHeadlineIbunda Imam Abu HanifahImam Hanafiimam madzabUmar bin Dzurr
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya HIV Kalangan Gay di Klaten Naik 100 Persen, KPA Kumpulkan Guru BK
Tulisan selanjutnya Arsitek Jepang bernama Islam di luar Masjid Tokyo Penasaran dengan Islam, Ribuan Orang Jepang Datangi Masjid Tokyo

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Berita
1 September 2026 09:01
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?