Hidayatullah.com | SALAH SATU efek musim pandemi adalah dampak hubungan sekolah dan rumah yang semakin menjauh. Tak ada pandemi saja, orangtua jarang menjalin hubungan dengan pihak sekolah. Nah, apa sebenarnya yang harus dilakukan sekolah dan rumah agar terjalin hubungan yang harmonis.
Mendidik satu anak, membutuhkan peran banyak orang. Jika anak pergi ke sekolah, di rumah pendidikan anak dilengkapi dan dilanjutkan peran kedua orangtua. Ayah sebagai kendali utama penanggungjawab di rumah dibantu oleh Sang Bunda. Karenanya anak yang sekolah jangan dibiarkan dan hanya diantar hingga sampai pintu gerbang sekolah saja.
Usahakan untuk melakukan kontak bilateral fisik dan hati dengan para guru anak-anak. Jalin pula keadaban antara orangtua dengan ahli ilmu dalam hal ini guru yang dijadikan rujukan tuntunan anak kita.
Orangtua seharusnya tidak hanya banyak menuntut para guru. Banyak orangtua memperlakukan sekolah, seolah-olah sekolah adalah penitipan, yang bisa merubah total secara fikriyah maupun batiniah anak. Padahal sesungguhnya perubahan perilaku anak justru lebih banyak berperan akibat keteladan para orangtua di rumah.
Seharusnya pendidikan formal di sekolah, dilanjutkan orangtua di rumah, ditambah dengan contoh-contoh nyata keteladanan. Jika anak mempunyai masalah di sekolah, maka Ayah Bunda segera bisa membantu kesulitan guru di kelas dituntaskan penyelesaiannya di rumah. Jangan saling menghancurkan hati dan pikiran anak, baik di rumah atau di sekolah sama-sama tak terselesaikan masalahnya.
Maka kerjasama seperti apa yang harus dilakukan pihak sekolah dengan pihak rumah (orangtua)? Dr. Khalid Ahmad Asy-Syantut dalam bukunya Rumahku Sekolahku memberikan beberapa tips;
Pertama, membiasakan anak agar perhatian dengan kitab dan bukunya serta menjaga tasnya.
Kedua, membimbing anak mengerjakan pekerjaan sekolah yang belum terselesaikan dan memastikan bisa diselesaikan di rumah.
Ketiga, membiasakan waktu tidur istirahatnya lebih awal dan berkomitmen mendisiplinkan anak dalam jam belajar dan istirahat serta bermainnya.
Keempat, menanamkan diri anak sikap hormat dan patuh pada guru.
Kelima, memenuhi permintaan sekolah tentang kelengkapan belajar.
Apabila orangtua melihat ada hal yang tidak baik di sekolah, maka hendaknya segera melakukan beberapa hal:
Pertama, mendatangi sekolah dan memberikan nasihat kepada pihak yang bermasalah agar dia sadar bahwa orangtua mengontrol, memperhatikan dan mau memperbaiki.
Kedua, jika tidak diperhatikan, maka nasihati lagi secara rahasia bersama teman-temannya dari kalangan guru.
Ketiga, jika tidak berhasil, orangtua melaporkannya pada bagian menejemen sekolah yang lebih berwenang agar persoalan segera terselesaikan.
Keempat, rumah harus menjelaskan kesalahan guru kepada anak-anaknya, kemudian memindahkan anak dari sekolah jika sekolah tidak mampu menghentikan sikap yang merusak tersebut.
Jadi jalinan hubungan sekolah dan rumah sangat diperlukan agar upaya pendidikan berlangsung harmonis di kedua lembaga pendidikan utama yaitu sekolah dan rumah.*/Akbar Muzakki