Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Menagih Janji Empat Istri (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 September 2015 16:36 4:36 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 September 2015 16:26
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

DIKISAHKAN ada seorang saudagar kaya raya yang memiliki empat istri. la sangat mencintai istrinya yang keempat, melebihi kecintaannya pada istri-istrinya yang lain. la memberikan baju yang paling bagus, memperlakukan dengan sangat lembut, memberikan perhatian lebih, dan selalu memberikan segala sesuatu yang terbaik.

Ia juga sangat mencintai istri ketiga dan bangga dengan kecantikan istrinya itu. Ia suka memamerkannya kepada teman-temannya. Namun ia khawatir istri ketiganya akan meninggalkannya dan pergi bersama lelaki lain.

Ia juga mencintai istri keduanya. Istrinya ini wanita yang sangat istimewa, memiliki sifat penyabar dan menjadi orang kepercayaan. la selalu mengadu kepada istri keduanya ketika menghadapi masalah, dan istrinya tersebut selalu membantunya dalam meniti, menghadapi, dan mengarungi saat-saat susah.

Ada pun istrinya yang pertama sangat ikhlas mencintainya. Sang istri ini memiliki peranan besar dalam menjaga kekayaan dan kesuksesannya dalam bekerja, di samping perhatiannya yang besar terhadap masalah rumah tangga. Meskipun demikian, ia tidak terlalu mencintai istri pertamanya. la tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istrinya itu.

Suatu ketika, sang saudagar jatuh sakit. Dia menyadari umurnya tidak lama lagi dan akan meninggalkan dunia fana ini. la memikirkan kehidupannya yang serba mewah dan berkata kepada dirinya sendiri: “Sekarang ini aku memiliki empat istri, namun ketika mati aku hanya sendiri. Sungguh betapa kesendirianku sangat menyiksa? Siapakah yang akan menjadi penghiburku? Siapa yang bisa meringankan kesendirianku dan keterasinganku?”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Lalu, ia mengumpulkan istri-istrinya di sekelilingnya. la memandangi istri keempatnya dan berkata kepadanya dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang, “Aku sangat mencintaimu lebih dari mereka semua. Aku memberikanmu baju yang paling bagus, dan memberikan perhatian yang banyak kepadamu. Sekarang aku akan mati, apakah kamu akan mengikutiku dan menemaniku dalam kesendirian?”

Istri keempatnya menjadi takut seraya menjawab, “Mustahil, aku tidak mungkin mengikutimu.” Kemudian, istrinya pun pergi menjauhinya tanpa sepatah kata pun. Ucapan istrinya itu mengiris hatinya, laksana pisau yang sangat tajam.

Ia beralih kepada istri ketiganya dan berkata, “Aku sangat mencintaimu sepanjang hidupku. Sekarang ini aku dalam perjalanan menuju gerbang kematian. Apakah kamu mau mengikutiku dan menjaga kasih sayang di antara kita?”

Sang istri menjawab dengan ketus, “Tidak, kehidupan di dunia ini indah. Aku akan menikah dengan orang lain setelah kematianmu.”

Hati saudagar tersebut sakit ketika mendengar jawaban istrinya. Hatinya berubah dingin, seperti rasa dingin yang menyelinap di sela-sela sendi tubuhnya.

Kemudian saudagar tersebut bertanya kepada istrinya yang kedua. “Engkau sudah mendampingiku selama hidupku. Engkau selalu menjadi tempat curhatku dan membantuku. Sekarang ini aku membutuhkan bantuanmu sekali lagi. Apakah kamu akan mengikutiku ketika meninggal dan mendampingiku dalam kubur, seperti kamu mendampingiku ketika masih hidup?”

Sang istri menjawab tanpa ragu-ragu, “Aku minta maaf. Kali ini aku tidak bisa membantumu.” Lalu ia melanjutkan, “Yang bisa aku lakukan sejauh ini adalah mengantarmu hingga liang kubur.”

Jawaban istrinya tersebut seperti petir menyambar. Ketika itu, ia mendengar perkataan yang lembut, seolah-olah datang dari bawah tanah, “Aku akan mengikutimu, sayang. Aku akan pergi meninggalkan dunia ini bersamamu, tanpa peduli ke mana engkau akan pergi. Aku akan menjadi pelipur laramu, meringankan bebanmu, menghibur kesendirianmu, dan menghapus keterasinganmu. Aku akan bersamamu selamanya.”

Sang suami melihat ke sekelilingnya mencari sumber suara tersebut. Suara itu berasal dari istri pertamanya, yang tubuhnya sudah mengurus, rambutnya rontok, rona wajahnya berubah, dan kedua matanya menjorok ke dalam. Kondisinya seperti orang mengalami kelaparan, kurang gizi, kurang perhatian, dan kasih sayang. la berkata dengan wajah penuh kesedihan, haru, dan sengsara.

Saudaraku… istri keempat itu ibarat jasad kita. Selama hidup, kita telah meluangkan banyak waktu, tenaga, dan harta untuknya, serta membuat penampilannya menarik. Namun ketika kita mati, ia akan meninggalkan dan tidak mau menemani dalam perjalanan baru kita.

Istri ketiga ibarat harta, yang ketika mati akan meninggalkan kita dan pergi bersama orang lain.

Istri kedua ibarat keluarga dan teman. Meskipun mereka dekat sekali dengan kita ketika masih hidup, tetapi mereka hanya menemani kita hingga liang kubur saja.

Istri pertama pada hakikatnya adalah kehidupan ruhani kita dan hubungan kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang sering kita lalaikan ketika kita terlalu memperhatikan urusan materi dan mengejar kepuasan duniawi, kekayaan, kemuliaan, pangkat, dan hal-hal lain. Padahal, ia satu-satunya yang akan mengikuti ke mana pun kita pergi.

Waktu berlalu termakan oleh usia
duhai orang yang terkungkung oleh nafsu semata
Waktumu hilang tanpa sisa
Bersenang-senang, bergadang,
dan tidur tanpa usaha
Terus hidup dalam sesat yang
hingga saat ajal tiba

Engkau telah berusaha untuk jasadmu, demi ketenangan dan kebahagiaan semampumu. Engkau telah memberi makanan dan minuman yang terbaik. Engkau memberi tempat tinggal yang paling indah dan tenang. Engkau telah berusaha untuk memberi kesenangan dan kemewahan, sesuai dengan kemampuanmu. Namun engkau melalaikan aspek terpenting dan tuntutan hidup yang paling mulia.

Tuntutan itu adalah tuntutan ruhani, hati, dan keimanan. Makanan dari itu semua adalah ketaatan, bekalnya adalah takwa, perapiannya adalah ibadah, balsemnya adalah amal saleh. Apakah engkau sudah menunaikan hak-hak ruhanimu, sebagaimana engkau telah menunaikan hak-hak jasadmu?

Hai pengagung ragawi, begitu besar usahamu
memberikan pelayanan
Membuatmu lelah dan berujung pada kerugian
Sambutlah panggilan jiwa dan sempurnakan
Sekarang juga.*/
Dr. Majid Ramadhan, dari bukunya Do It Now. [Tulisan selanjutnya]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kehidupan materikehidupan ruhanitaubat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lukman Hakim: Sikapi Isu Global Umat Islam Harus Pro-Aktif Bukan Defensif
Tulisan selanjutnya Menagih Janji Empat Istri (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?