Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Infiltrasi Politik Syī`ah dalam Daulah Islam [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Januari 2015 20:17 8:17 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Januari 2015 13:00
Bagikan
Era Bani Abbasiyah
Bagikan

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

BERBICARA masalah Syi`ah, tidak bisa dilepaskan dari aspek historis yang menggambarkan proses kelahirannya. Dari ranah ini, yang paling bisa dirasakan terutama pada bidang politik. Pada zaman Abu Bakar dan Umar, sekte ini masih belum ada. Namun, di akhir kekhilafaan Umar bin Khatthāb, gejala ini mulai muncul. Paling tidak bisa dimulai dari peristiwa terbunuhnya Umar Ra. (23 H).

Dalam literatur sejarah (spt: al-Bidāyah wa al-Nihāyah, al-Kāmil fī al-Tārikh, Tāriku al-Islām li al-Dzahabi, al-Mihan dll), sudah jamak diketahui bahwa pembunuh Umar adalah Abu Lu`lu`ah (Fairūz) al-Majusi, budak al-Mughīrah bin al-Syu`bah. Pembunuhan ini murni faktor politik, yang dilatarbelakangi oleh rasa dendam yang begitu tinggi, akibat jatuhnya negeri Persia ke tangan kaum Muslimin (baca: Minhāju al-Sunnah al-Nabawiyah, Ibnu Taimiyah, 6/371). Kelak -meskipun Abu Lu`lu` beragama Majusi- ia dianggap sebagai pahlawan agung bagi orang Syi`ah (baca: Farhatu al-Zahrā`, Syaikh Abu `Alī al-Ashfahāni, 125). Bahkan oleh ulama Syi`ah, ia dijuluki sebagai ‘Bābā Sujāu al-Dīn’ [Bapak Pemberani Agama] (baca: al-Kunā wa al-Alqāb, `Abbās al-Qummi, 2/62). Kejadian ini minimal sedikit menggambarkan bagaimana cara pandang politik Syi`ah dalam Daulah (baca: negara) Islam. [Baca juga: Umar: Sang Pemadam Api Majudi [1] dan bagian [bagian 2]]

Di zaman Khalifah Utsman, wilayah Islam yang sedimikian luas meliputi Yaman, Hijāz, Syām, Afrika dan Persia, menimbulkan tantangan tersendiri. Bagaimanapun juga, meluaskan wilayah jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Umar dalam posisi meluaskan, sedangkan Utsman mempertahankan wilayah. Pada zaman Utsman inilah, nantinya lahir pemberontakan-pemberontakan. Orang-orang persia yang pura-pura beragama Islam (menyimpan dendam kusumat) di bawah komando Abdullah bin Saba`(orang Yahudi yang mengaku Islam) untuk menyulut pemberontakan (baca: Tārikhu al-Umam wa al-Rusul wa al-Mulūk, Imam Thabari, 2/647).

Singkat cerita, sifat lembut Utsman, dan kengototannya untuk tetap tinggal di Madinah –padahal sudah ditawari Mu`awiyah untuk pindah ke Damskus atau mengirim pasukan ke Madinah, namun tetap ditolak (baca: Taisīr al-Karīm al-Mannān fī Sīrati Utsmān bin `Affān Syakhshiyatuhu wa `Ashruhu, Muhammad al-Shallābi, 363)-, serta kekuatan militer di Madinah yang begitu rawan, ditambah pula ketidakbersediaan Utsman dalam menghabisi kaum pemberontak (di bawah pimpinan al-Ghāfiqi bin Harb) –lantaran tak mau terjadi pertumpahan darah karena dirinya (baca: Tārikh Dimasyq, Ibnu `Asākir, 398)-, akhirnya Utsman berhasil dibunuh pemberontak dirumahnya sendiri. Kelak, Abdullah bin Saba` -otak di balik pemberontakan ini- adalah sosok yang membidani lahirnya Syi`ah.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Dalam suasana yang begitu mencekam pasca pembunuhan Utsman, negara dalam kondisi tidak stabil. Keadaan inilah yang mendesak Ali bin Abi Thalib segera menerima jabatan Khalifah. Awalnya ia tidak mau -karena yang memaksanya menjadi pemimpin adalah para pemberontak-, namun demi terciptanya kestabilan negara, akhirnya –meskipun terpaksa- ia mau menjadi khalifah pengganti Utsman (baca: al-Khulafāu al-Rāsyidūn, Mushthafā Murād, 583).

Dengan sangat sigap dan cekatan, Ali segera berusaha menstabilkan kondisi negara. Yang menjadi prioritas di awal kekhilāfaannya, ialah mewujudkan stabilitas keamanan, dan menyatukan kaum Muslimin, baru kemudian mengeksekusi pembunuh Utsman. Ternyata, kondisi lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Belum tuntas ia mengamankan negara, pihak dari kalangan sahabat yang tak terima atas pembunuhan Utsman, meminta Ali segera mengeksekusi pembunuh Utsman. Suasana pun memanas. Ali bersikeras dengan pendapatnya, sahabat lain seperti Thalhah, Zubair dan Aisyah, juga bersikeras dengan pendapatnya (dalam Tārikh Thabari, Imam Thabari, 5/481).

Perang saudara pun tak dapat dihindarkan. Perang Jamal, yang melibatkan Thalhah, Zubair dan Ibunda Aisyah, melawan Ali bin Abi Thalib –sebagai kepala negara resmi- tak terelakkan. Pihak Aisyah akhirnya kalah. Beliau diperlakukan dengan sebaik-baiknya dan dikembalikan ke Madinah. Baru saja masalah ini tuntas, muncul lagi persoalan baru di mana Mu`awiyah bin Abi Sufyan tidak mengakui Ali sebagai khalifah (al-Khulafāu al-Rāsyidūn, Mushthafā Murād, 606) sebelum menindak tegas para pemberontak yang membunuh Utsman. Akhirnya terjadilah pertempuran Shiffīn (36 H). Waktu itu kemenangan hampir di pihak Ali, namun atas kecerdikan Amru bin Ash terjadilah peristiwa tahkīm [arbitrase] (Riwayat ini bersumber dari Abu Mikhnaf, Sejarawan Syi`ah, yang didustakan oleh Ibnu al-`Arabi dalam kitabnya, al-`Awāshim min al-Qawāshim,31).

Dari pihak Mu`awiyah diwakili Amru bin Āsh, sedangkan dari Ali diwakili Abu Musa al-Asy`ari. Kesepakatan damai pun terjadi. Namun dari peristiwa ini, muncul lagi masalah yang tidak kalah peliknya. Kaum Muslimin semakin terpecah-pecah. Sebagian pihak yang mendukung Ali, ada yang pro Muawiyah. Ada juga yang kecewa dan keluar dari keduanya yang kemudian dinamakan: Khawārij. Dari sebagian pendukung Ali inilah, Syi`ah lahir secara nyata untuk pertama kalinya (yang dibidani Abdullah bin Saba`).

Kondisi yang tidak stabil seperti ini damanfaatkan dengan baik oleh para pemberontak. Direncanakanlah -oleh orang Khawārij- pembunuhan para petinggi kaum Muslimin, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Mu`awiyah bin Abi Sufyan, dan `Amru bin Ash. Dari rencana tersebut, yang berhasil dibunuh hanya Khalifah Ali bin Abi Thalib, oleh Abdurrahman bin Muljam (baca: al-Thabaqāt al-Kubrā, Ibnu Sa`ad, 3/25-27). */bersambung.. ‘Syiaisasi dan Pemberontakan..

Penulis adalah peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Shalahuddin al-Ayyubisunnisyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pengesahan RUU PUB Berpotensi Penafsiran Bebas Teks Syariah
Tulisan selanjutnya Infiltrasi Politik Syī`ah dalam Daulah Islam [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?