Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Cinta di Mata Syafruddin Prawiranegara

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 April 2019 12:59 12:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 April 2019 13:15
Bagikan
Syafruddin Prawiranegara
Bagikan

“MANUSIA itu tidak dapat hidup tanpa dicintai dan mencintai.” Begitu tutur H. Syafruddin Prawiranegara dalam buku berjudul “Cinta dan Keadilan” (1976: 5-8) yang diterbitkan oleh Penerbit Fajar Shadiq Kramat Sentiong Jakarta.

Buku saku keci ini merupakan khutbah Idul Fitri yang disampaikan beliau di Proyek Senen pada 1 Syawal 1396 H (25 September 1976). Dalam khutbah tersebut, beliau menyinggung tema cinta dengan sangat menarik.

Semua orang –asal– masih normal, sebagaimana kata beliau butuh dicintai dan mencintai. Cinta tak terbatas hanya pada cinta antara laki-laki dan perempuan. Ada juga cinta misalnya kepada orangtua, guru, dan lain sebagainya.

Cinta ini memberi manfaat yang begitu penting bagi hidup manusia. Dengannya, manusia bisa memiliki tujuan hidup. Hidup tanpa cinta, kata beliau tampaknya akan kosong melompong dan merasa terasing. Sehingga, bisa saja dengan kondisi itu, dia bersedih dan menghabisi diri dengan bunuh diri.

Oleh karenanya, biar cinta tidak sampai memberi dampak negatif seperti tadi, maka perlu ditanamkan kesadaran internal bahwa di atas cinta pada sesama manusia ada cinta Allah yang lebih tinggi.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Mengapa manusia perlu mencintai Allah di atas yang lainnya? Karena Allah sebagai sebab dan sumber hidup yang abadi, dan dari sanalah sumber mencintai manusia agar hidup tak sia-sia bak daun mati yang ditiup angin dan kemudian gugur diterpa angin entah ke mana.

Berdasarkan surah Ali Imran ayat 112, tokoh Muslim yang menjadi Menteri Keuangan ini bertadabbur; pertalian atau hubungan cinta antar sesama manusia (misalnya: istri, anak, dan lain-lain) tanpai didahului cinta kepada Allah, maka cinta itu bersumber pada egoisme dan hawa nafsu.

Cinta demikian membuat makna cinta menyempit. Cintanya hanya sebatas nafsu untuk memiliki dan menguasai yang dicintai. Cinta seperti itu tak akan abadi, bahkan bisa berakhir dengan malapetaka. Misalnya, perceraian suami-istri, bapak-anak, dan lain sebagainya.

Siapakah manusia yang mau menjadi hak milik, meski itu adalah bapak atau ibunya sendiri? Hanya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kata beliau, yang dapat menghindarkan diri dari cinta semacam itu.

Lebih menukik kesadaran batin pembaca, beliau melanjutkan, “Orang dan barang yang kita cintai adalah amanah dan fitnah.” Artinya, itu hanya titipan dan ujian dari Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Allah-lah yang mestinya lebih dicintai lebih dari apapun.

Berdasarkan surah At-Taubah ayat 24, beliau mengambil pelajaran berharga: hanya kalau kita benar-benar cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, berpegang teguh dengan jalan usaha yang diridai Allah (jihad), maka cinta dunia beserta penghuninya tidak akan menimbulkan pertentangan, perpecahan, dan kekecewaan yang timbul dari cinta serakah yang bersumber dari egoisme.

Dengan demikian, cinta di mata Syafruddin adalah cinta yang hulu, hilir dan muaranya adalah Allah Subhanahu wata’ala. Cinta kepada sesama makhluk adalah fitrah, namun ketika itu mengabaikan cinta Allah, hanya sekadar menuruti nafsu, maka cinta demikian tidak akan bertahan lama dan tak akan melahirkan kebahagiaan.

Mari bersama mengeja cinta kita; apakah sudah menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai yang utama?* Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Allahcintacinta kepada AllahSyafruddin Prawiranegara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ponsel BPN Prabowo-Sandi Diretas & Diserang Ratusan Panggilan dari China-AS
Tulisan selanjutnya Siapa Pemenang Pilpres? Aa Gym: Tenang, Sabar, Tunggu Keputusan yang Adil

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Berita
2 September 2026 21:40
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?