Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Haji Agus Salim dan ‘Tanah Air Islam Indonesia’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Juli 2022 16:21 4:21 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Juli 2022 17:45
Bagikan
Bagikan

Dalam lanskap sejarah Indonesia, Haji Agus Salim dikenal sosok multitalenta, sastrawan pejuang, bahkan memiliki pikiran yang brilian tentang Islam di Indonesia

Hidayatullah.com | HAJI AGUS SALIM (1884-1954) dalam lanskap sejarah Indonesia terhitung sebagai sosok multitalenta, juga dikenal sastrawan pejuang. Ini bisa dilihat dari keragaman kontribusi dan bidang garapan beliau yang sangat luas didukung dengan pikiran yang brilian.

Selain itu, beliau pernah penjadi jurnalis, politisi, diplomat, ulama, filosof, ahli hukum Islam, orator, ahli debat dan masih banyak lagi sematan lainnya. Sisi lain yang jarang diungkap adalah beliau sebagai tokoh Islam yang handal dalam membuat syair dan puisi bahasa lain bisa disebut sebagai sastrawan. 

Asvi Marwan Adam dalam buku “H. Agus Salim (1884-1954) Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme” (2004: 41) menyebut beliau sebagai manusia komplet. Bukan saja sebagai ulama, penerjemah, wartawan dan diplomat, tapi juga sastrawan.

Masih terkait dengan masalah kepiawaian beliau dalam bidang sastra, dalam buku “Seratus Tahun Haji Agus Salim” (1984: 252-265) dimuat tulisan Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) berjudul “Haji Agus Salim Sebagai Sastrawan dan Ulama”.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Tulisan ini sangat menarik, sebab mengangkat sisi dari Haji Agus Salim yang jarang diperhatikan orang kebanyakan. Secara khusus HAMKA menulis:

“Menjadi seorang sastrawan, atau disebut lebih luas dengan Pujangga, bukanlah tujuan beliau. Sebagai juga Maulana Mohammad Iqbal di Pakistan, beliau ini terkenal sebagai penyair, padahal penyair bukanlah jadi tujuan hidupnya. Penyair bagi beliau ini adalah semata-mata alat untuk menyampaikan apa yang terasa di hatinya.” Bisa diistilahkan : syair sebagai alat untuk mewujudkan cita-cita.

Jadi keindahan kata-kata yang lahir dari lisan dan tulisan beliau, tujuan utama bukan sastra untuk sastra; seni untuk seni; keindahan untuk keindahan; tapi dijadikan alat untuk mewujudkan cita-cita luhur yang kala itu di antaranya adalah : kemeredakaan.”

Berikut ini beberapa contoh tulisan H. Agus Salim. Pada tahun 1930, H. Agus Salim menulis puisi berjudul “Tanah Air Kita”. Berikut bait-baitnya:

Apa keikatan kita?

Menyebuahkan usaha

Menjadi asas utama

Pada tujuan mulia

Tujuan kita yang sama

Meninggikan derajat Indonesia

Pesan penting dari puisi ini adalah adalah tujuan besar bangsa Indonesia adalah meninggikan derajat Indonesia. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan kerja sama melalui ikatan tanah air yang dijadikan asas untuk menggapai tujuan luhur itu: meninggika derajat Indonesia.

Penulis dapat data menarik mengenai puisi tersebut dengan isi lebih lengkap dan judul yang asli dimuat dalam koran lawas, yaitu:  Koran Mustika No. 5 (8 Mei 1931), rubrik “Serba Serbi” dengan judul dan isi sebagai berikut:

TANAH-AIR ISLAM INDONESIA

Karangan Hadji A. Salim

I

Mana tanah-air kita?

Sumatra-kah atau Djawa

Borneo, Selebes, Sumbawa,

Ambon, Ternate, Papoea?

Tiada begitoe terpetjah:

Indonesia melimpoeti semoeanja!

II

Apa kebangsaa kita,

Melajoe-kah atau Djawa

Berlainan adat dan basa.

Berbeda toetoer dan kata.

Tidak begitu terpisah:

Indonesia satoe nasib dan asalnja!

III

Apa perikatan kita?

Menjeboeahkan oesaha,

Mendjadi asas bersama.

Pada toedjoean moelia:

Islam, agama kita berbahagia!

IV

Mana persatoean kita?

Pakaiankah atau roepa?

Njanjian ataoe soeara?

Tidak itoe teroetama

Toedjoean kita jang sama:

Meninggikan deradjat Indonesia.

Bila menurut catatan Asvi potongan puisi Haji Agus Salim berjudul Tanah Air Kita, maka dalam koran yang diasuh langsung oleh Agus Salim ini diberi judul lengkap “TANAH-AIR ISLAM INDONESIA”. Melalui puisi ini beliau memberi pesan-pesan penting kepada bangsa Indonesia bahwa tanah air kita bukan terutama pada daerah masing-masing tapi semuanya menjadi satu kesatuan yaitu: INDONESIA.

Demikian juga mengenai bangsa. Meski berlainan bahasa, budaya dan lain sebagainya, tapi muaranya tetap satu, yaitu: INDONESIA.

Menariknya, dalam asas usaha untuk mewujudkan itu semua, sebagai muslim maka agama Islam menjadi asasnya. Bahkan disifati dengan kebahagiaan.

Di sini terlihat betapa Islam tidak bertentangan dengan keindonesiaan. Justru untuk mencapai tujuan luhur menjadi Indonesia utuh bisa ditempuh melalui asas Islam. Dan pada tujuan besarnya, semuanya akan bertemu pada cita-cita mulia yaitu : meninggikan derajat INDONESIA.

Dalam buku “Pepatah” karya A. Hassan, ada beberapa kata Indah yang dinukil dari H. Agus Salim. Contohnya sebagai berikut:

Tak dapat kita mengolah keyakinan kita,

Bahwa jika kita anak Indonesia

hendak memuliakan,

memerdekan ibu Indonesia,

Hendaklah ia mengikhlaskan

diri kepada Allah.

Misal lain yang bisa disebutkan pada tulisan ringkas ini:

Jangan kita memuji suatu hari,

sebelum datang maghribnya.

Yang tidak kalah indah juga sebagai berikut:

Kalau engkau tidak takut kepada Tuhan,

dan tidak mau jaga kehormatan,

maka apa yan engekau suka

boleh engkau kerjakan.

Sebagai penutup akan penulis nukilkan karya Agus Salim berjudul “PERSATUAN”. Disusun dengan cukup puitis:

Persatuan

Kaum Muslimin suka berkehendak,

Mencari persatuan.

Tetapi apabila Islam mau diinjak,

Dimana keislaman mau dimuskahkan,

Dimana keimanan mau ditindas,

Kaum Muslimin selalu mengutamakan Allah dari:

persatuan ibu bapak,

persatuan anak dengan istri,

persatua kaum dengan kaum,

persatuan bangsa dengan bangsa,

persatuan badan dengan jiwa.

Pendeknya: Mengutamakan agama Allah,

dari apa saja,

yang dapat difikirkan,

oleh manusia.

Inilah beberapa contoh yang menunjukkan sisi kesastrawanan H. Agus Salim. Yang menjadi catatan menarik, sebagaimana tulisan Buya HAMKA, bagi Agus Salim, seni bukan untuk sekadar seni, sastra bukan berhenti pada sastra, tetapi sebagai alat untuk perjuangan menggapai cita-cita luhur.*/ Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:H Agus SalimHaji Agus SalimIslam Indonesiasastrawan pejuangTanah Air Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya negara seperti nabi Mahfud Md: Transaksi Pakai Dinar Sah-sah Saja, Bukan Radikal!
Tulisan selanjutnya Turki Raih Label Negara Paling Dermawan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?