Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Model Kebangkitan Umat Islam

Ahmad
Terakhir diupdate: 7 Agustus 2022 22:06 10:06 pm
Ahmad
Dipublikasikan 7 Agustus 2022 21:31
Bagikan
Umat Islam
Bagikan

Buku karya Dr. Majid Irsan al-Kilani,  tentang kebangkitan umat Islam, 50 tahun gerakan pendidikan melahirkan generasi Shalahudin merebut Palestina layak dibaca

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | PADA kajian akhir tahun di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), tahun 2019 dibedah buku karya Dr. Majid Irsan al-Kilani,  berjudul ”Model Kebangkitan Umat Islam: Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahudin dan Merebut Palestina.” Pembahasnya, Ustad Asep Sobari Lc, penerjemah buku, yang juga peneliti INSISTS.

Judul asli buku tersebut adalah: ”Hakadza Zhahara Jilu Shalahuddin wa Hakadza ’Adat al-Quds”. Menurut Asep Sobari, ia mengenal buku ini saat kuliah di Universitas Islam Madinah, dimana sang dosen, Dr. Ghazi bin Ghazi al-Muthairi, meminta para mahasiswa membaca buku penting tersebut.

Berdasarkan hasil telaahnya yang mendalam terhadap kondisi umat Islam di masa Perang Salib, Irsan al-Kilani menjelaskan, bahwa kebangkitan umat Islam yang hakiki harus dilakukan melalui lahirnya satu generasi baru. Cara seperti ini sudah menjadi model, yang berulang kali terjadi dalam sejarah Islam.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Karena pentingnya model kebangkitan melalui proses pendidikan ini, Irsan al-Kilani mengimbau para insan pendidikan, agar mereka benar-benar paham, bahwa untuk mengubah kondisi suatu kaum yang lemah, harus dilakukan dengan mengubah kondisi internal mereka sendiri. Yakni, mengubah keyakinan, pemikiran, konsep, orientasi, cara berpikir, nilai, dan parameter kehidupan mereka.

Yang perlu diubah adalah sistem pendidikan yang telah melahirkan generasi lemah, layak kalah, hina, inferior, berorientasi duniawi, meninggalkan jihad, menghamba pada harta dan para penguasa.

*****

Mengambil kasus lahirnya generasi Shalahuddin dan pembebasan kembali Masjid al-Aqsha, Irsan al-Kilani menceritakan bagaimana kaum Muslimin mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50 tahun pada awal Perang Salib. Tahun 1095 Perang Salib dimulai.

Pada tahun 1099, Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Ribuan umat Islam dibantai dengan sadis di Masjid al-Aqsha dan berbagai daerah lainnya.

Meskipun ada kekhalifahan, umat Islam berada dalam kondisi sangat terpuruk. Mereka terjangkit penyakit cinta dunia, tercengkeram aneka paham sesat, dan terlibat konflik antar mazhab yang parah, sampai saling bunuh di kampus.

Di zaman ada kekhalifahan itu, umat Islam perlu waktu 88 tahun untuk membebaskan kembali kota Jerusalem. Itu terjadi di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi, tahun 1187.

Nah, buku ini memaparkan data, bahwa Shalahudin bukanlah pemain tunggal yang ”turun dari langit”. Tetapi, dia adalah bagian dari satu ”generasi” yang merupakan produk pendidikan para ulama yang hebat.

Al-Kilani menyebut contoh dua ulama yang berjasa besar dalam menyiapkan generasi baru itu, yakni Imam al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Menurut Dr. Irsan al-Kilani, dalam melakukan upaya perubahan umat yang mendasar, Imam al-Ghazali lebih menfokuskan pada upaya mengatasi kondisi internal umat.

Menurut al-Ghazali, masalah paling besar adalah rusaknya pemikiran dan diri kaum Muslim yang berkaitan dengan aqidah dan kemasyarakatan. Sang Hujjatul Islam tidak menolak pentingnya perubahan aspek politik dan militer.

Tetapi yang dia tekankan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan pemikiran, akhlak,  dan perubahan diri manusia itu sendiri. Untuk itu, al-Ghazali melakukan perubahan dimulai dari dirinya sendiri dahulu, kemudian baru mengubah orang lain.

Kata penulis buku ini: ”Al-Ghazali lebih menfokuskan usahanya untuk membersihkan masyarakat muslim dari berbagai penyakit yang menggerogotinya dari dalam dan pentingnya mempersiapkan kaum Muslim agar mampu mengemban risalah Islam kembali sehingga dakwah Islam merambah seluruh pelosok bumi dan pilar-pilar iman dan kedamaian dapat tegak dengan kokoh.”

Melalui hasil kajian dan perenungannya yang mendalam terhadap kondisi umat Islam, al-Ghazali sampai pada kesimpulan bahwa yang harus dibenai pertama dari umat adalah masalah keilmuan dan keulamaan. Oleh sebab itu, kitabnya yang terkenal dia beri nama Ihya’ Ulumuddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama).

Adalah menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam Ghazali mampu merumuskan masalah umat secara komprehensif dan mendasar. Melalui Ihya’ Ulumuddin, al-Ghazali menekankan pentingnya masalah ilmu, ibadah, akhlak, dan juga aktivitas ’amar ma’ruf nahi munkar’.

Bahkan, aktivitas “amal ma’ruf dan nahi munkar”, dikatakan sebagai kutub terbesar dalam urusan agama. Ia adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar’  hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajalela, satu negeri akan binasa. Begitu juga  umat secara keseluruhan.

Jadi, simpul Irsan al-Kilani, yang pertama kali harus dilakukan adalah perubahan dalam diri manusia itu sendiri. (QS 13: 11). Nabi Muhammad ﷺ juga menyatakan: ”Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh. Namun, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, itu adalah qalb.” (HR Muslim).

Umat Islam kalah dan hina bukan karena kehebatan musuh-musuh mereka. Tapi, lebih karena kelemahan internal umat sendiri. Mereka memang dalam kondisi yang ”pantas kalah  dan terbelakang” (al-qabiliyyah lit-takhalluf wa al-hazimah). Inilah yang harus diatasi terlebih dahulu, sebelum menghadapi kekuatan eksternal yang hebat.

Sejalan dengan pemikiran Dr. Irsan al-Kilani, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas juga menyatakan bahwa kondisi umat Islam saat ini secara mendasar sama persis dengan kondisi di masa Imam al-Ghazali. Dalam Konferensi Pendidikan Islam Pertama di Kota Mekkah, tahun 1977, Syed Naquib al-Attas merumuskan akar masalah umat Islam adalah ”loss of adab”. Dan solusinya adalah pendidikan (ta’dib). Bahkan, Prof. Al-Attas juga sudah membuktikan konsepnya melalui satu isntitusi pendidikan di peringkat tinggi.

Banyak kalangan umat Islam yang telah menyadari dan mencoba mewujudkan pendidikan yang mampu melahirkan generasi gemilang. Kita perlu terus berpikir dan mengevaluasi apa yang telah dan sedang kita kerjakan.           

Bagaimana aplikasi model pendidikan untuk melahirkan generasi hebat, seperti generasi Shalahudin? InsyaAllah, itu bisa dibaca dalam buku: Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045 (YPI Attaqwa, 2018).

Tentu saja, penerapan model pendidikan yang ideal (ta’dib)  sangat tidak mudah. Tantangan, hambatan,  dan ujian internal dan eksternal begitu berat. Ketika hal ini saya sampaikan kepada Prof. Wan Mohd Nor, beliau berkata: ”Ya memang berat. Dan untuk itulah Nabi diutus.” Wallahu A’lam bis-shawab. (Depok, 22 Desember 2019).*

Penulis pengasuh Pondok Pesantren Attaqwa-Depok

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kebangkitankebangkitan umat IslamMesir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muslim Jadi Target Pembunuhan di New Mexico Sudah 4 Korban
Tulisan selanjutnya ‘Israel’ Bunuh Pemimpin Jihad Islam, 29 Warga Jalur Gaza Gugur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Iptekes

Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat

Iptekes
21 Juni 2026 13:43
AI Grok Besutan Elon Musk Dipakai dalam Serangan AS Terhadap Iran
Pesepakbola Paraguay Jadi yang Pertama Diusir dari Lapangan Piala Dunia karena Menutup Mulut
MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
Dua Ledakan di Jalan Raya Khyber Pakhtunkhwa Sedikitnya 7 Orang Tewas

Terbaru

  • Iman, Ilmu, dan Amal: Tiga Pilar Kebangkitan Umat
  • ‘Israel’ Gelontorkan Dana untuk Ubah Situs Arkeologi Palestina Jadi Situs Yahudi
  • Trump Sebut Dana Iran yang Dibebaskan Akan Dipakai Beli Produk AS
  • Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh
  • Ledakan di Fasilitas Gas Terbesar Qatar Merenggut 13 Nyawa
  • Turki Tangkap 209 Orang di Ankara Jelang KTT NATO
  • Prancis dan Jerman Sepakat Kelola Bersama Perusahaan Senjata KNDS
  • Serangan Islamofobia, Imam Masjid di Kanada Diserang usai Pimpin Shalat Berjamaah
  • Kabar Mualaf Giancarlo Esposito: Aktor “Breaking Bad” Dilaporkan Memeluk Islam di Saudi
  • Al Jazeera Desak Masyarakat Internasional Hukum ‘Israel’ usai Pembunuhan Jurnalisnya

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?