Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Meminang Surga

Menghadapi Epidemi dan Pandemi dengan Ilmu Ulama

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 25 Maret 2020 11:28 11:28 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 25 Maret 2020 11:28
Bagikan
Kitab Shahih Bukhari
Bagikan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

 

Hidayatullah.com | BELIAU menulis kitab syarah Shahih Bukhari yang sangat terkenal, Fathul Bari judulnya. Inilah kitab yang paling otoritatif dalam memberikan syarah Shahih Bukhari. Saya tidak tahu adakah dari kita yang telah membaca hingga tuntas, memahami dan menghafalkannya. Padahal Fathul Bari hanya salah satu karyanya di antara 270 kitabnya. Sebagian ulama kontemporer menyebutkan bahwa berdasarkan riset, kitab yang ditulis ada 282 judul. Belum termasuk yang belum dicetak.

Dialah Al- Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Sebutan Al-hafizh bukan karena hafal Al-Qur’an karena pada masa itu gelar al-hafizh hanya bagi mereka yang hafal ratusan ribu hadis beserta sanadnya. Hafal di dalam kepala. Bukan hafal di luar kepala yang apabila data internet habis, hilang hafalannya. Gelar lain yang disematkan kepadanya adalah Syaikhul Islam.

Di antara kitab yang jarang disebut, tidak seperti Bulughul Maram yang masyhur, adalah Badzlul Ma’un fi Fadhlith Tha’un (Pemberian Pertolongan kepada Para Penderita Penyakit Epidemik).

Baca Juga

teman
Membebaskan Anak dari Label Negatif
Lembut Itu Tak Berkata Kasar
Diistimewakan Allah Bersebab Niat Jujur Orangtua
Tanpa Ta`dib dan Pendidikan Adab, Boarding School Ibarat Rumah Kost Belaka
Kreatif Tanpa Musik

Buku ini ditulis tahun 819 Hijriyah, 622 tahun silam, setelah beliau kehilangan tiga putri kesayangannya, yakni Fathimah, Zeinah dan Ghaliyah. Ini sekaligus hujjah bahwa epidemi maupun endemi tidak hanya menimpa orang-orang kafir maupun ahli maksiat sebagaimana khayalan beberapa orang yang hafalan hadisnya tidak sampai seperempat, seperempat puluh atau bahkan seperempat-ratusnya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.

Tetapi yang menjadikan beliau menulis adalah permintaan banyak orang kepada beliau hingga kemudian beliau mengumpulkan berbagai dalil serta pendapat para ulama terpercaya mengenai waba dan tha’un beserta penjelasan yang mudah dipahami.

Tentu saja kitab yang ditulis oleh Syaikhul Islam Al-Imam Al-hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani sangat terbuka untuk dikritisi dan dibantah jika Anda memiliki hafalan yang lebih banyak dibandingkan beliau, ilmu yang lebih mendalam, dan kitab yang lebih sekaligus lebih otoritatif.

Buku Badzlul Ma’un fi Fadhlith Tha’un sendiri tergolong tipis, hanya 456 halaman, dibandingkan berbagai kitab beliau lainnya, terutama Fathul Bari. Melalui buku tersebut menjelaskan dasar dari sikap beliau yang menolak ajakan untuk melakukan berdo’a bersama, berhimpun di satu tempat bersama muslimin untuk bermunajat, meskipun yang meminta adalah penguasa saat itu. Beliau memilih untuk tinggal di rumah dan membatasi interaksi.

Ada pelajaran penting yang patut kita renungkan dari kitab tipis ini (meskipun menurut saya sangat tebal). Pada tahun 749 Hijriyah terjadi waba (endemi) di Syam. Menghadapi itu, muslimin keluar dan berkumpul untuk berdo’a. Setelah itu jumlah korban yang terkena waba’ semakin banyak. 15 tahun kemudian, yakni pada tahun 764 hijriyah, barulah untuk pertama kali para ulama kembali berkumpul. Sebuah masa yang sangat panjang.

Beberapa abad sebelumnya, Mesir pernah mengalami endemi. Ibnu Hajar Al-Asqalani menukil perkataan Al-’Allamah Imam Adz-Dzahabi rahimahuLlahu Ta’ala dalam kitabnya yang bertajuk Siyarul A’lam An-Nubala’ tentang penutupan masjid saat terjadi waba’, “Dan pada tahun 448 hijriyah pernah terjadi bencana kemarau dahsyat yang menimpa Mesir dan Andalusia, beserta periode kekeringan dan waba (endemi) sebagaimana yang pernah menimpa Cordoba, hingga yang tersisa ialah masjid-masjid ditutup tanpa ada yang shalat di dalamnya. Masa ini dinamai Tahun Kelaparan yang Besar (The Great Famine Year).”

Endemi terjadi lagi di Mesir pada tahun 833 hijriyah. Dalam sehari, korban yang meninggal dunia mencapai 40 orang. Mereka kemudian keluar dan berkumpul untuk berdo’a, melakukan istighatsah dan setelah itu jumlah korban yang meninggal dunia semakin banyak. Bahkan mencapai 1000 setiap harinya.

Seribu. Per hari. Dari awalnya empat puluh. Lonjakan yang luar biasa besar.

Karena itulah, Syaikhul Islam Al-Imam Al-hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menegaskan sikapnya berdasarkan hujjah yang kuat, sejalan dengan sebagian ulama di masa itu yang memfatwakan larangan keluar berkumpul, meskipun dimaksudkan untuk berdo’a dan ibadah pada saat terjadi waba’. Larangan keras ini difatwakan karena khawatir waba’ semakin meluas-mengganas. Dan andaipun tidak, dikhawatirkan orang-orang berburuk sangka bahwa do’a para ulama dan orang-orang shalih tidak dikabulkan.

Ulama dari Madzhab Syafi’i ini menegaskan bahwa berkumpul di lapangan saat terjadi waba tha’un dengan didahului puasa tiga hari, lalu shalat bersama sebagaimana orang melakukan shalat Istisqa’ untuk meminta hujan, merupakan perbuatan bid’ah yang sangat tercela.

Ini bukanlah gambaran utuh tulisan beliau. Bagi yang ingin mengambil faidah dari kitab tersebut, juga bagi orang-orang yang merasa lebih tinggi ilmunya dan yakin lebih kuat imannya dibandingkan Syaikhul Islam Al-Imam Al-hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani sehingga ingin menulis kitab bantahan yang lebih baik, dapat langsung mengkaji kitab aslinya beserta berbagai kitab lain yang membahas persoalan serupa.

Wallahu a’lam bish-shawab. Hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang memiliki sesempurna-sempurna ilmu dan Dialah yang menggenggam segala rahasia dari setiap urusan.

Ketika hujan berlalu di kampung Karangjati, 23 Maret 2020. Ditulis dengan segenap kekurangan dan kefakiran ilmu.*

Ayah dari 7 anak, orang awam yang kunjung berilmu, Guru Motivasi di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu 

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Badzlul Ma’un fi Fadhlith Tha’unepidemiFathul BariIbnu Hajar al-'AsqalaniMohammad Fauzil Adhimpandemiulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Coronavirus: Di Australia Pemakaman Hanya Boleh Dihadiri 10 Pelayat
Tulisan selanjutnya Kisah Lockdown Nabi Yunus dan Nabi Ayyub

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Berita
30 Agustus 2026 10:13
Cari Suara, Netanyahu Tegaskan ‘Israel’ Tak akan Biarkan Negara Palestina Berdiri
Zaitun Rasmin Kembali Pimpin Wahdah Islamiyah, Terpilih untuk Periode 2027–2031
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?

Terbaru

  • Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
  • Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
  • AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
  • Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
  • Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
  • Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
  • Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
  • Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
  • 10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
  • Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup

Mungkin Anda Juga Suka

perjuangan
Meminang Surga

Matinya Perjuangan

17 Januari 2022 14:00
Meminang Surga

Lembut Itu Ada Takarannya

30 November 2021 15:00
Za'faran Herbal
Meminang Surga

Tiap Obat Ada Dosisnya ⁣

8 Oktober 2021 07:33
Jepang, Negeri Yang menua
Meminang Surga

Keengganan Mengurusi Anak Dan Masa Depan Demografis Jepang. ⁣⁣

13 September 2021 17:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?