Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Konsultasi Syariah

Satu Shalat Imam untuk Dua Shalat Makmum

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 April 2010 07:00 7:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 April 2010 07:00
Bagikan
Bagikan

Tanya:

Assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh

Ustaz, saya melihat ada orang yang sudah tergolong tokoh dari kalangan kaum muslimin yang melakukan cara bermakmum agak aneh. Dia bermakmum shalat Dzuhur, dengan tetap mengqashar dua rakaat, yaitu bersalam ketika imam selesai tasyahhud awwal. Setelah itu dia berdiri lagi dan bermakmum kembali. Saya yakin ia melakukan shalat Ashar dengan qashar dua rakaat dan bersalam bersama salamnya imam.

Yang saya tanyakan, bolehkah menjamak qashar dua shalat seraya bermakmum di belakang imam yang shalat secara sempurna karena memang sang imam tidak dalam kondisi safar? Syukron.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Baca Juga

Antara Qadha dan Syawal: Bolehkah Satu Kali Puasa Menggabungkan Dua Niat?
Masjid dan Mushalla menurut Al-Quran dan Hadis
Inilah Tempat-Tempat Terlarang untuk Shalat  
Tidak Sholat dan Membayangkan Porno di Bulan Ramadhan Apakah Membatalkan Puasa?
Hukum Membuka Aib Pasangan di Media Sosial

Cak Hud, Surabaya

Jawab:

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Akhi fillah rahimakallah, membaca pertanyaan Anda, hal pertama yang tertangkap dalam benak saya adalah adanya semangat yang tinggi dari saudara kita –yang Anda katakan sebagai tokoh itu- untuk menjaga shalat dalam kondisi berjamaah. Karena hanya ada satu kali jamaah yang berlangsung, maka dia beride untuk “menjamaahkan” dua shalatnya itu. Melihat bahwa jamaah shalat yang berlangsung terdiri dari empat rakaat –sebab diimami oleh orang mukim–, maka jadilah kreasi bermakmum sebagaimana yang Anda sebutkan.

Semangat tersebut sangat bagus, namun masih harus disempurnakan dengan pengetahuan tentang teknis pelaksanaannya. Karena shalat adalah ibadah, maka kaidah pelaksanaan ibadah jelas berlaku di sana.

Kaidah yang dimaksud, pertama, ikhlas karena Allah dan kedua ialah mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. Dalam hal shalatnya seorang musafir, pada dasarnya sunnahnya adalah qashar. Tetapi bila demi keutamaan jamaah harus bermakmum di belakang seorang yang mukim, maka tentang ini sudah ada petunjuknya dari Rasulullah s.a.w.

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Ibn Abbas ditanya seseorang: ”Kenapa seorang musafir shalat dua rakaat ketika sendirian, dan shalat empat rakaat saat bermakmum di belakang seorang yang mukim?” Ia menjawab: ”Itu adalah sunnah.”

Jawaban tegas Ibn Abbas bahwa yang demikian adalah sunnah Nabi telah menutup ruang ijtihad yang menghasilkan pendapat di luar sunnah tersebut. Hadis ini diperkuat dengan riwayat shahih dari Nafi’ tentang perilaku sahabat Nabi yang masyhur. Nafi’ mengatakan: ”Adalah Ibn Umar, jika ia shalat bersama imam, maka ia shalat empat rakaat. Dan bila shalat sendiri, maka ia shalat dua rakaat.” (HR. Muslim). Apalagi secara umum yang namanya imam memang diadakan dalam rangka untuk diikuti. Untuk itu Nabi bersabda: ”Sesungguhnya imam itu diadakan untuk diikuti, maka janganlah kalian berbeda dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memang ada satu macam shalat di mana imam hanya diikuti separuh shalatnya, kemudian makmum meneruskan sendiri, yaitu shalat khauf. Tetapi upaya mengqiyaskan shalat jamaah seorang musafir di belakang imam mukim adalah pengqiyasan yang tidak berdasar dan jauh dari kesamaan ‘illah (alasan hukum). Dalam bahasa fikih qiyas, demikian dikatakan, sebagai “qiyas ma’a al-faariq”. Apalagi menurut kaidah ushul dikatakan “ la qiyaasa fi ma’rid al-nash” (tiada qiyas dalam masalah yang telah ditetapkan hukumnya melalui teks hukum, baik hadis maupun ayat al- Qur’an).

Kesimpulannya, cara shalat sebagaimana yang Anda tanyakan, adalah tidak benar secara hukum, sekaligus tidak sah. Tetapi tetap saja kita berdoa semoga Allah berkenan menerimanya. Dan selanjutnya semoga segera mengetahui yang sunnah dan kemudian mengikutinya. Wallahu a’lam.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya NU Dukung Syarat Moral Calon Kepala Daerah
Tulisan selanjutnya PDI-P Tolak Asusila Jadi Persyaratan Pilkada

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Konsultasi Syariah

Mengapa Niat Puasa dalam Madzhab Syafi’i Harus Disebutkan Secara Detail?

1 Maret 2025 18:00
Konsultasi Syariah

Tata Cara Niat Puasa Puasa Ramadhan menurut Empat Madzhab  

1 Maret 2025 16:00
Konsultasi Syariah

Hukum Mencium Mushaf, Bolehkah?

4 Februari 2025 12:47
Konsultasi Syariah

Hukum Nyanyian, Bagaimana Ulama Menyikapinya?

26 Januari 2025 04:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?