Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
None

Tantangan Besar Jurnalis adalah Membedakan Opini dan Fakta di Lapangan

Ahmad
Terakhir diupdate: 31 Maret 2014 10:25 10:25 am
Ahmad
Dipublikasikan 31 Maret 2014 10:25
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Membedakan opini dan fakta merupakan tugas berikutnya dari seorang jurnalis setelah ia terjun ke lapangan. Demikian penulis buku ‘Bokis’ dan ‘Matahati’, Maman Suherman di depan jamaah MY Night (Muslim Youth Night) Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA), Sabtu, 29 Maret 2014 kemarin.

Pada acara bertema “Let’s Speak, Grab Your Audience!” yang diadakan oleh Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) ini, Maman Suherman, menjelaskan banyak  orang terkecoh membaca sebuah berita.

Apa yang sekilas dianggap fakta ternyata hanya sebatas opini.

Mencampuradukkan keduanya, mengaburkan kronologis berita dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Penyakit inilah yang terjadi pada kalangan jurnalis. Tiba-tiba asal menyambung-nyambungkan fakta seolah-olah menjadi satu kesatuan,”ulas pria yang pernah menduduki posisi Redaktur Pelaksana di beberapa media Kelompok Kompas Gramedia (KKG) itu.

Baca Juga

Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah
Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah
200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang
Jerman Penjarakan Seorang Pria Libanon Anggota Hizbullah
Kurma Israel Beredar di Eropa dengan Label Palsu

Pergeseran media kearah media cyber, meningkatkan kecepatan penyampaian informasi. Maraknya penggunaan media sosial membuat akun yang termasuk dalam genre tersebut (seperti Twitter dan Facebook), dibanjiri “celotehan” dalam hitungan per-detik.

Akibatnya, sebuah fakta diperoleh dengan konfirmasi dan verifikasi.

“Hari ini kita dengar gosip kemudian kita langsung munculkan di Twitter tanpa bertanya apakah benar atau tidak,”tuturnya. Menurutnya, hal itu bisa sangat berbahaya.

Di hadapan jamaah Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Maman menceritakan sebuah peristiwa naas akibat seorang pewarta berita tidak mengindahkan unsur konfirmasi dan verifikasi data.

Beberapa tahun lalu, di Aceh, tersiar kabar mengejutkan seorang gadis belia ditemukan gantung diri. Secarik surat tergeletak tidak jauh dari tempatnya tergantung.

“Inti surat itu Ia minta maaf pada ayahnya karena telah membuat aib keluarga,”tutur Maman dengan ekspresi sedih dan suara parau.

Lalu apa sebab Ia melakukan tindakan yang paling dibenci oleh Allah itu? Ternyata beberapa hari sebelumnya terdapat pemberitaan di sebuah koran lokal di sana tentang seorang gadis yang tertangkap bersama beberapa Wanita Tuna Susila (WTS) lainnya.

“Padahal anak ini keluar malam karena ingin mendapatkan hiburan. Bersama temannya, Ia berjalan untuk mendengarkan organ tunggal. Karena sudah malam Ia tunggu di alun-alun supaya ramai. Tidak disangka, di malam yang sama terjadi penggrebekan,”jelas Maman.

Tanpa diwawancarai, tanpa dikonfirmasi dan verifikasi, berita itu diterbitkan. Ayah sang gadis mendapat kabar tersebut dari tetangga. Ia kaget setengah mati dan langsung memaki anaknya setelah anaknya pulang. Sang anak, dikatakan oleh Maman merupakan gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Kemiskinan keluarganya membuatnya putus sekolah dan tidak bisa membaca berita. Kesedihan si gadis yang tidak tahu apa-apa itu membuatnya memutuskan mengakhiri hidupnya. Semua itu bermula dari pemberitaan yang tidak terverifikasi. “Tantangan ini terbesar bagi umat Islam untuk tidak mudah melakukan fitnah dan pembunuhan karakter,”ulasnya.

Selain itu Maman juga menyoroti fenomena infotainmen di Indonesia.

“Yang masuk infotainmen di Indonesia adalah entertainmen news. Hati-hati! Yang bahaya itu bukan infotainmen. Karena infotainmen cuma seperti gelas. Kadang-kadang namanya bukan infotainmen tapi isinya lebih gosip dari infotainmen!”ulas Mentor Stand-Up Comedy di Kompas TV itu.

Hal itu dilakukan untuk meningkatkan rating televisi. Untuk memancing adegan melodrama bertabur tangisan, biasanya ada dua jurus pertanyaan disampaikan sang reporter.

“Bagaimana perasaan Ibu sekarang dan ada nggak firasat sebelumnya?”

Selain karena bentuk kedua pertanyaan itu tidak terdapat dalam kaidah jurnalisme, memunculkannya, ujar Maman, terkesan tidak memiliki empati. Apalagi jika pertanyaan tersebut ditanyakan pada keluarga korban kecelakaan.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Media Islamwartawan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islam Didiskreditkan, bergeraklah dengan Menulis
Tulisan selanjutnya Mari Berislam secara Total

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaNone

Video: Pria Disabilitas di Nepal Viral Menjaga Masjid dari Serangan Kelompok Radikal

11 Februari 2026 05:26
None

“Kemunafikan Barat Terbongkar”: Celah Hukum Pernikahan Anak di AS Disorot Aktivis HAM

2 Februari 2026 19:30
None

Tolak Gabung ‘Dewan Perdamaian’, Jerman: Penyimpangan Sistem Internasional

23 Januari 2026 09:30
None

AS Kerahkan Kapal Induk ke Dekat Iran, Trump: Untuk Berjaga-Jaga

23 Januari 2026 09:08
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?