Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Puasa Jasmani dan Rohani

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Juni 2017 10:46 10:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Juni 2017 10:46
Bagikan
Bagikan

MENURUT definisi Ilmu Fikih, puasa adalah: “Menahan diri -dengan niat beribadah- dari makan, minum, serta menggauli istri dan segala hal yang membatalkannya sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.” (Al-Jazâiri, Minhâju al-Muslim, 232).

Secara fikih memang orang yang sudah melakukan pengendalian yang bersifat jasmani tersebut, dianggap sah puasanya. Tapi bagaimana jika rohaninya tidak dikendalikan, sehingga dengan mudahnya mengejek, merendahkan, menghinakan orang lain dengan perkataan-perkataan yang menyakitkan?

Di sinilah kita akan memahami sabda nabi berikut yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak mempunyai sebuah keperluan pun untuk meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Boleh secara jasmani seorang muslim sudah puasa dan gugur kewajibannya di bulan Ramadhan, tapi akibat tidak bisa mengendalikan diri secara rohani, maka dengan enteng berkata dan beramal dusta sehingga Allah tidak butuh puasanya.

Bagaimana mau diterima Allah, untuk hal yang sebelum Ramadhan halal (makan, minum, berhubungan intim dengan istri) bisa ditahan, sedangkan hal yang jelas haram (berkata dan beramal dusta) malah tetap dilakukan? Ini membuktikan, puasa bukan saja persoalan jasmani, tapi sekaligus rohani.

Baca:  Waspadai Para Pencuri Ibadah Puasa

Pada riwayat lain, ada sindiran nabi yang begitu tajam bagi orang yang hanya mencukupkan diri pada puasa jasmani:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani). Puasa jenis demikian, anak SD juga kuat.

Dalam bait syair Arab ada ungkapan:

Tidaklah (bernilai) puasa orang yang menahan diri dari lapar
Sedangkan (pada saat bersamaan) ia tunduk pada dosa dan syahwat
Orang yang berpuasa hanya karena menahan lapar. Maka sungguh hanya kerugian dan penyesalan yang akan didapat

Suatu saat, Hasan Bashri lewat di depan komunitas yang bersenda gurau dan main-main saat bulan Ramadhan. Melihat kondisi demikian, beliau berkomentar: “Sesungguhnya Allah menjadikan Ramadhan sebagai arena perlombaan bagi manusia agar berpacu melakukan ketaatan. Ada yang menang dan bergembira. Ada pula yang kalah dan merana. Yang aneh ialah orang yang sedang bergelak tawa dan main-main di saat orang-orang sedang bertanding di bulan agung ini. Demi Allah, seandainya tabir disingkap, maka terlihat dengan jelas bahwa orang yang baik sibuk dengan kebaikannya, sedangkan orang buruk sibuk dengan keburukannya.”

Baca:  Ramadhan untuk Selamanya

Hafidz Zainuddin Abdurrahman bin Rajab mendapat cerita dari Hafidz Musa al-Madini, “Sebagian ulama salaf menganggap bahwa puasa yang paling ringan adalah meninggalkan minum dan makan.” Sedangkan Jabir RA berkata, “Jika kamu puasa, maka puasakan juga pendengaran, pengeliahatan, dan lisanmu dari kedustaan dan yang diharamkan. Di samping itu, jangan mengganggu tetangga. Ketika berpuasa hendaklah bersikap tenang, takzim. Jangan sampai hari puasamu sama dengan hari ketika tidak berpuasa.” (Hasan Masyâth, 1392: 44-45)

Maka dari itu, jika ingin puasa berkualitas, puasa pada level jasmani harus ditingkatkan ke level rohani. Artinya, berpuasa bukan lagi mengendalikan diri dari urusan perut atau di bawah perut, tapi lebih dari itu adalah pengendalian diri secara total lahir batin.

Sebagai penutup, pernyataan Ibnu Rajab berikut bisa diresapi:

كل قيام لا ينهى عن الفحشاء والمنكر لا يزيده صاحبه إلا بعدا وكل صيام لا يصان عن قول الزور والعمل به لا يورث صاحبه إلا مقتا وردا يا قوم أين آثار الصيام أين أنوار القيام

“Setiap shalat malam yang tidak dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar maka hanya akan menambah jauh pelakunya. Dan setiap puasa yang tidak terjaga dari perkataan dan amalan dusta maka hanya akan mewariskan kemurkaan dan penolakan kepada pelakunya. Wahai kaum, mana bekas puasa dan cahaya shalat malam?” (Ibnu Rajab, Lathâifu al-Ma’ârif, 174). Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bulan RamadhanLahir batinPuasaPuasa RamadhanRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Petasan Bikin Penonton Sepakbola di Turin Panik, Seribu Orang Terluka
Tulisan selanjutnya Ramadhan Bersama Suku Togutil

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?