Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Kisah Puasa Si Badui dan Menteri Rauh bin Zinba’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Mei 2019 14:34 2:34 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Mei 2019 14:33
Bagikan
Seorang warga Badui Tunisia berdoa di Sahara [ilustrasi]
Bagikan

SUATU hari, Rauh bin Zinba’ –salah satu wazir (mentri) Abdul Malik bin Marwan—menangis dengan cukup lama. Kronologinya demikian. Saat bersafar untuk keperluan ibadah haji, beliau singgah di suatu tempat oase yang terletak di antara Mekah dan Madinah.

Saat istirahat safar, beliau meminta pembantunya untuk menyiapkan bekal makanan yang sudah dibawa untuk keperluan perjalanan. Disediakanlah untuknya berbagai macam makanan untuk dimaka. Makanan itu dihidankan di hadapan beliu dan siap untuk disantap.

Ketika sedang menyantap makanan, terlihat oleh beliau seorang Arab badui penggembala kambing sedang lewat di depannya. Dipanggillah penggembala itu untuk menikmati makan bersamma-sama Rauh.

Si Badui memenuhi panggilan Rauh bin Zinba’. Namun, setelah memperhatikan dengan saksama, dirinya menjawab, “Aku sedang berpuasa!” Mendengar jawaban itu Rauh terlihat heran sehingga menyodorkan pertanyaan, “Di hari sepanjang dan sepanas ini kamu tetap berpuasa?” Sang penggembala menjawab dengan mantab, “Apa aku akan mengelabui hari-hariku hanya untuk memakan makananmu?” artinya si penggembala sama sekali tak tergiur dengan tawaran. Ia tetap teguh menjalankan puasa.

Setelah memberi jawaban yang sedemikian meyakinkan, Si Badui mencari tempat singgah di sekitar lokasi yang sama. Ia meninggalkan lokasi Rauh bin Zinba’. Dalam kondisi demikian, Rauh bin Zinba’ –sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidaayah wa al-Nihaayah (9/67)—menyenandungkan untaian sya’ir:

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

لَقَدْ ضَنِنْتَ بِأَيَّامِكَ يَا رَاعِي * إِذْ جاد بها روح بن زنباع

“Wahai penggembala! Engkau begitu pelit dengan hari-harimu. Sementara Rauh bin Zinba’  dermawan dengan hari-harinya.”

Maksudnya, si penggembala begitu menjaga hari-harinya dengan hal bermanfaat. Sedangkan Rauh malah menghambur-hamburkannya.

Atas sebab itulah Rauh bin Zinba’ lama menangis.  Kemudian makanan yang sudah disediakan disuruh diangkat kembali. Lantas Rauh menginggalkan lokasi, si penggembala terlihat begitu mantap hatinya sementara Rauh jiwanya merasa kecil.

Pertemuan dua insan yang berasal dari kalangan elit dan rakyat jelata ini begitu menarik untuk diambil pelajarannya. Puasa –bagi penggembala—adalah hal nikmat yang tidak bisa ditukar dengan iming-iming duniawi. Haus dan dahaga tidak membuatnya luluh untuk membatalkan puasa.

Baginya, mengisi hari-harinya dengan ibadah seperti puasa, lebih bermanfaat daripada memenuhi hajat perut yang sementara. Ia lebih memilih kepentingan akhirat daripada dunia. Sikap teguhnya ini rupanya membuat Rauh bin Zinba’ –sang menteri daulah Umayyah—terharu.

Begitu terharunya sehingga dirinya tak kuasa menahan tangis. Bayangkan! Dibanding dirinya yang merupakan orang elit dan hidup berkecukupan, apalah arti si penggembala miskin itu. Meski begitu, si penggembala seoalah memberi pelajaran berharga kepada Rauh bin Zinba’. Dalam kondisi sesempit dan semelarat apapun, rupanya dia masih memprioritaskan akhirat daripada dunia; mengutamakan Allah daripada selainnya.

Mungkin hatinya terketuk. Semestinya dirinya yang berkecukupan bisa lebih gencar beribadah daripada si penggembala. Dalam bait syairnya dirinya mengaku bahwa si penggembala begitu pandai dalam mengisi hari-harinya. Sementara dirinya malah menghambur-hamburkan waktunya walau dengan sesuatu yang mubah.

Dari kisah ini, minimal ada tiga pelajaran berharga bagi pembaca: Pertama, orang berpuasa itu tidak gampang tergiur dengan iming-iming duniawi. Kedua, orang yang mengisi hari-harinya dengan berpuasa berarti telah memanfaatkan waktunya dengan hal bermanfaat. Ketiga, puasa menanamkan kesadaran internal pada jiwa hamba bahwa kepentingan Allah harus lebih diprioritaskan daripada kepentingan apapaun.

Sangat jelas dari gambaran puasa Si Badui, puasanya adalah ibadah yang tak sekadar menahan lapar dan haus. Meminjam istilah Imam Al-Ghazali, tingkatan puasanya sudah mencapai “Khawasu al-Khawas” (VVIP). Lalu, bagaimana dengan puasa kita?*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BaduiduniaperutPuasaRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Polisi Bersama FPI Menghalau Massa Merusuh
Tulisan selanjutnya Begini Situasi di Petamburan setelah Kericuhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?