Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Badiuzzaman, Ramadhan dan Al-Qur’an

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 1 Mei 2020 21:44 9:44 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 1 Mei 2020 21:25
Bagikan
Bagikan

~Di antara sekian banyak hikmah puasa Ramadhan yang tertuju kepada turunnya Al-Qur’an dan bahwa bulan Ramadhan merupakan waktu turunnya yang terpenting~ (Badiuzzaman Said Nursi)

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

 

Hidayatullah.com |Allah berfirman dalam Al-Qur’an, شهر رمضان الذى أنزل فيه القرآن

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an…” (QS. 2:185).  Terkait ayat di atas Badiuzzaman Said Nursi menyatakan bahwa firman Allah itu merupakan penegasan bahwa Ramadhan benar-benar merupakan bulan Al-Qur’an. (Badiuzzaman, Misteri Puasa, 8).

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Untuk itu Badiuzzaman berpesan agar anugerah ini tidak disia-siakan. Beliau kemudian memberikan tips berinteraksi dengan Al-Qur’an sebagai berikut:

“Karena Al-Qur’an telah turun pada bulan Ramadhan yang penuh berkah, maka jiwa harus bersih dari berbagai keinginan hina dan jauh dari berbagai perkara buruk guna bersiap-siap menyambut kalam samawi tersebut dengan baik. Yaitu dengan menghadirkan hati pada saat turunnya di bulan ini serta menyerupai kondisi  malaikat dengan tidak makan dan tidak minum, membaca Al-Qur’an Al-Karim seakan-akan ayat-ayatnya baru turun kembali, menyimaknya dengan khusyuk, serta mendengarkan pesan ilahi tersebut agar bisa meraih kondisi spiritual yang mulia seakan-akan si pembaca mendengar langsung dari Rasul ﷺ. Atau, seakan-akan ia mendengarnya dari Jibril ‘alayhis-salam. Atau bahkan mendengarnya dari Sang Penutur Azali, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian ia menyampaikan dan membacakannya kepada orang lain seraya menjelaskan salah satu hikmah turunnya.” (Badiuzzaman Said Nursi, Misteri Puasa, 7-8).

Mengagungkan Kalamullah

Jika begitu, maka berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini harus sungguh-sungguh dan serius. Disamping harus persiapan penuh: bersih lahir dan batin. Menyiapkan kondisi spiritual yang prima. Karena ia bukan kata-kata biasa. Al-Qur’an adalah ‘Firman’ atau Kalamullah: perkataan Allah Yang Mahasuci dan Mahaagung.

Seorang Sahabat Nabi yang mulia, Abū Umāmah al-Bāhilī pernah berkata,

اقرؤوا القرآن ولا تغرنكم هذه المصاحف المعلقة، فإن الله لا يعذب قلبا هو وعاء للقرآن

“Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kalian terlena dengan mushaf-mushaf yang tergantung ini. Sungguh, Allah tidak akan menyiksa hati seseorang yang menampung Al-Qur’an.” (Imam Abū Hāmid al-Ghazālī, Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, ed. Shidqī Muhammad Jamīl al-‘Atthār (Beirut-Lebanon: Dār al-Fikr, 1429 H/2008 M): (I/344)

Artinya, tidak sembarang hati dapat disinari oleh cahaya Al-Qur’an. Hanya hati yang bersih dan jauh dari keinginan dan hasrat hina itu yang dapat disentuh cahaya Al-Qur’an, sebagaimana yang disampaikan Badiuzzaman.

Bahkan, ini yang luar biasa, kata kata Sahabat Nabi yang lain, ‘Amr ibn al-‘Āsh,

من قرأ القرآن فقد أدرجت النبوة بين جنبيه إلا أنه لا يوحى إليه

“Siapa yang membaca Al-Qur’an ia telah diberi anugerah kenabian. Hanya saja ia tidak menerima Wahyu.” (Imam al-Ghazālī, Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn (I/344).

Maka, Imam al-Ghazāli memberi nasihatnya bahwa diantara adab batin bagi yang membaca Al-Qur’an ada sepuluh, yaitu:

Pertama, memahami keagungan Kalam (Al-Qur’an), ketinggian derajatnya dan karunia Allah dan kasih-sayang-Nya kepada makhluk-Nya yang menurunkan Al-Qur’an dari Singgasana keagungan hingga memahamkannya kepada manusia.

Dua, mengagungkan Allah ketika membacanya. Dan dia harus tahu bahwa apa yang dibacanya bukan ucapan manusia. Ia adalah Kalamullah.

Tiga,  menghadirkan qalbu dan tidak sibuk dengan urusan sendiri; Empat, tadabbur;  Lima, tafahhum (berusaha memahami ayat-ayatnya; Enam, menjauhkan segala yang menghalangi pemahaman (ada empat, yaitu: (a) sibuk dengan makhraj huruf, (b) taqlid dan fanatik pada satu mazhab, (c) tenggelam dalam dosa, sombong, dan cinta dunia, (d) berkutat pada tafsir zahir dan meyakini bahwa tidak ada makna lain dari kata-kata Al-Qur’an selain pendapat Ibn ‘Abbās, Mujāhid, dan yang lainnya. Padahal ada makna lain.

Tujuh,  at-Takhshīsh: merasa dirinya yang menjadi sasaran ujaran Al-Qur’an. Ketika membaca ayat tentang perintah atau larangan dia merasa bahwa dialah yang sedang diperintah Allah atau dilarang. Begitu juga dengan ayat-ayat lainnya.

Delapan, at-Ta’attsur: hatinya dihadirkan agar terpengaruh oleh ayat yang dibacanya. Karena ayatnya banyak, maka kondisi dan situasi hatinya akan berubah-ubah, sesuai keadaan ayat yang dibacanya.

Sembilan, at-Taraqqī, yakni: hendaknya ketika membaca ia seakan-akan menerimanya dari Allah, bukan dari dirinya. Maka level bacaan Al-Qur’an ada tiga, yaitu: (a) hendaknya hamba yang membaca merasa bahwa ia membacanya di hadapan Allah dan Allah sedang melihat dan mendengarkan bacaannya; (b) qalbunya menyaksikan bahwa Allah melihatnya dan menyapanya dengan penuh kelembutan. Inilah maqam malu, pengagungan, mendengar, dan memahami; (c) hendaklah ketika membaca ia mendapati Allah dalam Kalam-Nya dan dalam kata-kata Al-Qur’an ia temukan sifat-sifat-Nya.

Sepuluh, at-Tabarrī, yaitu: hendaklah hamba yang membaca Al-Qur’an berlepas dari daya dan upayanya. Jika membaca ayat yang berisi janji dan pujian bagi orang-orang salih dia merasa bahwa dia tak layak mendapat derajat itu. Ia tak menemukan dirinya dalam golongan itu. Sebaliknya, ketika membaca ayat-ayat yang berisi celaan dan hardikan bagi pelaku maksiat dan kurang taat maka dia merasa bahwa dia bagian dari mereka. Bahkan, sebenarnya ayat-ayat itu untuk dirinya sehingga ia merasa takut. (Imam al-Ghazālī, Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn (I/-352362).

Apa yang dipaparkan oleh Hujjatu’l-Islām Imam al-Ghazālī itu “disarikan” oleh Badiuzzaman sebelumnya. Istilah Badiuzzaman adalah “kondisi spiritual yang mulia”. Dari kondisi itu si pembaca, ketika membaca Al-Qur’an, seakan-akan ia mendengar langsung dari Rasulullah, atau dari Jibril, bahkan mendengarnya langsung dari Sang Penutur Azali, Allah. (Badiuzzaman Said Nursi, Misteri Puasa, 8).

Maka, bulan Ramadhan ini harus menjadi momentum dan kesempatan emas dalam berinteraksi intensif dengan Al-Qur’an. Sehingga kesan bersamanya begitu indah dan mendalam. Namun tentu syarat-syaratnya harus mengacu kepada nasihat Imam al-Ghazālī yang diringkas dan digemakan kembali oleh Said Nursi. Wallāhu A‘lam bis-Shawāb.*

Penulis pengasuh Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah

 

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Badiuzzaman Said NursiPuasaRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya muhyiddin malaysia Di Malaysia Balik Kampung Dilarang, Tapi PSBB Diperlonggar
Tulisan selanjutnya Sudan Pidanakan Mutilasi Genital Wanita

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?