AS Jangan Mengail di Air Keruh
Menyusul krisis politik di Libya, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya sudah berancang-ancang melakukan intervensi militer untuk mempercepat penggulingan Qadhafy. Langkah ini dinilai dapat memicu krisis yang lebih luas, oleh karena dapat diikuti oleh negara-negara lain dengan berbagai kepentingan.
Selayaknya kita dukung sikap Liga Arab dan beberapa negara lain yang menolak agresi. Amerika janganlah memanfaatkan kesempatan untuk kepentingannya sendiri. Trauma invasi ke Iraq belum hilang, kini malah diperlebar. Padahal AS belum meminta maaf apalagi mengganti kerugian atas kesalahan langkah yang didasarkan pada informasi intelijen tidak akurat mengenai senjata pemusnah massal di Iraq.
Timur Tengah yang kaya minyak jelas membuat AS ngiler. Krisis yang melanda banyak negara itu ibarat pintu yang telah dibuka dan dibiarkan tanpa penjaga. Para penjarah dapat beraksi sewaktu-waktu, termasuk dengan dalih mengamankan keadaan.
Sinyalemen ‘invisible hand’ di balik pergolakan di Timur Tengah juga selayaknya dicermati. Dari setiap akhir krisis, akan muncul pemimpin baru yang ‘sudah disiapkan’. Walhasil, pemenang sesungguhnya dari krisis itu adalah para backing, yang memainkan ‘remote’ dari satu negara ke negara lainnya. Negara-negara Timur Tengah dapat belajar dari Indonesia, di mana pasca reformasi justru kepentingan asing lebih mudah masuk dan kian merajela menguasai berbagai sumber daya.
BM Wibowo
Sekretaris Jenderal DPP Partai Bulan Bintang




