GELIAT keislaman di Indonesia yang sebelumnya hanya berada di pesantren tradisional, dalam satu dasawarsa terakhir menerobos ke perkotaan, menembus tak hanya sentra-sentra pendidikan ternama namun juga perusahaan raksasa bahkan juga gedung megah wakil rakyat. Kesan Islam yang kuno dan kumuh kian memudar berganti dengan wajah Islam yang segar dan modern. Citra ini dipertegas dengan semakin banyaknya perempuan menutup aurat yang mampu berkiprah di ranah-ranah yang sebelumnya tak ramah terhadap busana muslimah. Sebut saja peran sebagai ilmuwan, dokter, dosen, wirausahawan, aktris film dan pemain sinetron, model, dan juga sebagai politisi.
Beragamnya profesi yang bisa disandang mengokohkan muslimah Indonesia untuk secara terbuka menunjukkan identitas keislamannya termasuk melalui busana yang dikenakannya di area publik.
Keberadaan busana muslimah memang tak bisa dianggap sepele. Pencatatan transaksi dari sektor busana muslimah Indonesia di pasar dunia mencapai angka fantastis 96 miliar dollar AS atau sekitar Rp 820,799 triliun. Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC) bersama pemerintah dan para pelaku industri mode bahkan menargetkan Indonesia untuk menjadi kiblat busana muslim dunia di tahun 2020. Karenanya tak berlebihan rasanya bila kemudian ada yang berpendapat sekarang ini adalah era kebangkitan muslimah Indonesia.
Di sisi lain, fakta menunjukkan ternyata banyak muslimah yang menutup aurat namun menjadi subyek tindakan amoral. Berbagai berita di tanah air menyodorkan kenyataan adanya muslimah sebagai penipu, penyuap, pengedar narkoba, pelaku trafficking, pembunuh, juga menjadi koruptor. Tak jarang pula dijumpai muslimah yang menutup aurat, namun mengemban pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam; Seperti sekulerisme, liberalisme, pluralisme, dan kesetaraan gender.
Sesungguhnya, derasnya propaganda materialisme yang mengagungkan penampilan fisik menyebabkan banyaknya muslimah tergiur materi dan sibuk dengan penampilan fisik namun lalai di dalam menjaga pola pikir dan sikapnya agar sejalan dengan Islam. Maka kini sudah waktunya muslimah merenungkan kembali kebangkitan yang seharusnya diraih. Allah Swt sebagai Zat Yang Maha Mengetahui telah memberikan jalan untuk mencapai kebangkitan yang shohih, bukan didasarkan kepada materi namun dengan dengan melaksanakan Islam secara kaffah. Dengan itu, akan tercipta muslimah berkepribadian Islam seutuhnya; yakni memiliki pola pikir Islami dan pola sikap Islami.
Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban Islam yang agung dipahat di atas kontribusi muslimah-muslimah berkepribadian Islam. Cukuplah muslimah bercermin kepada sosok-sosok mulia Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra, Sitti Fathimah Az-Zahra ra., Asma binti Abu Bakar ra., Sumayyah ra., Ummu Habibah binti AbuSufyan ra., Lubabah binti al-Harits al-Hilaliyah ra., Fathimah binti al-Khaththab ra., Ummu Jamil binti al-Khaththab ra., Ummu Syarik ra., dll yang sejak bersentuhan dengan Islam keseharian mereka hanya dipersembahkan demi kemuliaan Islam. Merekalah pelopor dan peletak dasar pilar-pilar pergerakan muslimah yang hakiki, yang layak menjadi teladan pergerakan muslimah dari zaman ke zaman.
Oleh: Nurismawati Machfira
Penulis adalah ibu rumahtangga. Saat ini berdomisili di Nottingham, Inggris