Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Joe Biden Bukanlah ‘Penyelamat’ bagi Rakyat Palestina

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 11 November 2020 14:26 2:26 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 11 November 2020 14:26
Bagikan
cinta sejati israel
Joe Biden berjalan di pemakaman di Gunung Herzl di Yerusalem pada tahun 2010.
Bagikan

Hidayatullah.com | PADA Oktober 1973, Senator Delaware yang baru terpilih Joe Biden mengunjungi ‘Israel’. Ini merupakan perjalanan resmi pertamanya ke luar negeri dan bertemu dengan Perdana Menteri Golda Meir.

Pria yang kala itu berumur 30 tahun tampak tersentuh ketika Meir menjelaskan apa yang dia katakan adalah situasi berbahaya militer ‘Israel’ yang dikelilingi “negara musuh”. Tetapi dia terhibur ketika pemimpin Zionis itu mengungkapkan apa yang dia katakan sebagai senjata rahasia ‘Israel’: Pemukim Yahudi tidak punya tempat lain untuk dituju.

Biden telah menceritakan kembali kisah ini berkali-kali. Ia menggambarkan peristiwa tersebut sebagai “salah satu pertemuan paling penting yang pernah saya lakukan dalam hidup saya”.

Itu menandai awal dari dukungannya yang tak tergoyahkan untuk ‘Israel’ dan hubungan dekat dengan banyak pemimpin negara penjajah sejak saat itu.  Tiga belas tahun kemudian, ketika Biden menyampaikan pidato yang berapi-api kepada Senat AS, memperjelas bahwa kepentingan Amerika terkait erat dengan kepentingan ‘Israel’.

“Sudah waktunya kita berhenti meminta maaf atas dukungan kita untuk ‘Israel’,” katanya kepada anggota parlemen pada Juni 1986. “Itu adalah investasi  3 miliar AS Dolar terbaik yang kita buat. Jika tidak ada ‘Israel’, Amerika Serikat harus menciptakan ‘Israel’ untuk melindungi kepentingannya di wilayah tersebut,” tambahnya.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Tahun berikutnya menandai awal dari bantuan militer senilai  3 miliar AS Dolar yang terus diterima ‘Israel’ dari AS. Biden, yang mengakui dirinya Zionis, telah menghadiri banyak pertemuan kelompok lobi pro-‘Israel’, seperti Komite Urusan Publik Israel Amerika (AIPAC) dan J Street.

Kemenangannya pada hari Sabtu atas Donald Trump dalam salah satu pemilihan presiden AS terketat telah diterima dengan kelegaan dari para pejabat Otoritas Palestina. Ini bukan karena kemenangannya, tetapi lebih untuk kekalahan Trump.

Trump dan kepemimpinan Palestina

Di bawah pemerintahan Donald Trump, empat tahun terakhir telah secara radikal mengubah lanskap politik untuk ‘Israel’ dan Palestina. Sementara AS selalu menjadi pendukung besar ‘Israel’ – menjajakan jalur solusi dua negara selama bertahun-tahun, bahkan ketika Israel terus mencaplok tanah Palestina dan membangun lebih banyak permukiman – Trump membawa kebijakan ini ke ketinggian baru.

Dia menghentikan bantuan AS kepada Otoritas Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota ‘Israel’, dan memindahkan kedutaan AS di sana dari Tel Aviv.

Trump menolak untuk mengutuk pembangunan dan perluasan permukiman sebagai ilegal – yang bertentangan dengan hukum internasional. Dia juga menarik dana ke badan pengungsi PBB, yang diandalkan jutaan warga Palestina untuk pendidikan, makanan dan mata pencaharian.

Trump juga menjadi perantara kesepakatan “normalisasi” dengan tiga negara Arab yang mengakui ‘Israel’ tanpa banyak menuntut keuntungan Palestina sebagai imbalan, membuat kepemimpinan Palestina semakin terisolasi.

Melalui menantu laki-lakinya Jared Kushner, Trump menyusun rencana Timur Tengah yang menghindari solusi dua negara – yang ditolak keras oleh kepemimpinan Palestina.

Alih-alih mengusulkan negara Palestina di perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur yang diduduki sebagai ibu kotanya, rencana Trump mengakui kedaulatan ‘Israel’ atas blok pemukiman ilegal utama di Tepi Barat yang diduduki. Negara Palestina akan terdiri dari kanton tanah yang tidak bersebelahan, dan ibu kota di pinggiran Yerusalem Timur yang diduduki.

Jadi, apakah Joe Biden akan kembali ke kebijakan Timur Tengah yang diterima dari pemerintahan AS sebelumnya, atau akankah dia melanjutkan jalur upaya Trump?

Tidak ada perubahan strategis dalam kebijakan AS

Beberapa kantor berita Palestina memuat pernyataan pejabat Palestina dengan sudut pandang mereka tentang arti terpilihnya Biden mengalahkan Trump.  Nabil Shaath, perwakilan khusus Presiden Mahmoud Abbas, mengatakan kepemimpinan Palestina tidak mengharapkan perubahan strategis dalam kebijakan AS terhadap Palestina, tetapi menyingkirkan era Trump – yang dia gambarkan sebagai “yang terburuk” – adalah keuntungan.

“Dari apa yang kami dengar dari Joe Biden dan wakilnya Kamala Harris, saya pikir dia akan lebih seimbang dan tidak terlalu tunduk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu – sehingga tidak berbahaya bagi kami dibandingkan Trump,” katanya.*/ Artikel dimuat di laman Aljazeera

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:israelJoe Bidenpalestinayahudi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Uni Eropa Seru Myanmar Mengikutsertakan Muslim Rohingya dalam Pemilu
Tulisan selanjutnya Kecerdasan dan Keimanan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?