Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Uighur dan Kisah Persekusi China

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 April 2019 14:55 2:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 April 2019 15:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Xiang Yi

 

DENGAN dalih “de-radikalisasi,” Partai Komunis China (CCP) telah memperluas kontrolnya terhadap populasi di Xinjiang ke setiap aspek kehidupan.

Persekusi pihak berwenang terhadap Uighur, etnis Kazakh, dan etnis Muslim lain di Xinjiang mempengaruhi semua aspek kehidupan, menyebabkan tradisi Islam yang makin terkikis.

Beberapa warga China beretnis Han yang bekerja dan tinggal di Xinjiang menceritakan kepada Bitter Winter bagaimana mereka melihat situasi di Xinjiang.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Mengikis Tradisi Islam Uighur

Salah seorang pemilik toko di kota Korla, Xinjiang mengatakan pada Bitter Winter kalau baru-baru dia mengundang beberapa teman etnis Huinya untuk makan bersama, dan mempersiapkan makanan halal.

Dia mengatakan, “Kalian tidak memakan daging babi. Ini semua makanan halal.” Salah satu dari mereka, dengan wajah ketakutan, cepat-cepat menyela: “Kamu tidak harus mengatakan hal-hal semacam itu di masa depan. Kami bisa memakan apapun sekarang. Kamu lihat kan, ketika kami datang, kami meletakkan telepon genggam kami di ruangan lain. Semua telepon genggam kami telah diproses secara khusus oleh polisi. Jika pernyataan ini terekam, kami akan dikurung di kelas belajar.”

Seorang penjaga toko yang menjual pakaian menceritakan bahwa seorang gadis Uighur datang ke tokonya untuk membeli pakaian, dan dia sangat menyukai sebuah rok. Namun, ibunya menunjuk pola Islami di bagian bawah rok tersebut dan mengatakan dengan tegas mereka tidak dapat membeli pakaian tersebut. Sang ibu juga mengatakan bahwa pemerintah telah menetapkan bahwa semua pakaian bermotif Islam tidak boleh dikenakan. Bahkan dekorasi rumah yang memuat pola semacam itu harus diturunkan.

Baca: Ittihad Ulama Uighur: Kamp Konsentrasi untuk Cuci Otak Agar Tak Percaya Agama

Pada Februari 2015, otoritas Xinjiang memberlakukan Peraturan Terkait Larangan Mengenakan Penutup Wajah dan Burqa di Tempat Publik Urumqi. Peraturan itu tidak hanya berurusan dengan burqa saja, mereka melarang pemakaian jubah atau pakaian yang menampilkan simbol atau pola Islam. Perempuan Uighur dilarang menutup wajah mereka, dan para lelaki dilarang memanjangkan janggut. Selain itu, Muslim Hui tidak diizinkan menggenakan kopiah putih.

Penjaga toko tersebut juga mengungkapkan bahwa, jika seorang Muslim memelihara jenggot panjang dan diketahui oleh pihak pemerintah, mereka akan langsung dipaksa mencukurnya, dan orang itu akan diminta untuk menulis pernyataan yang menyatakan, “Saya mencukur janggut saya secara sukarela.”

Etnis Uighur terbiasa menggelar selimut di lantai dan duduk di atasnya, namun sekarang CCP menuntut agar para etnis Uighur membeli sofa dan meja, dan duduk di sofa. Seorang kepala sekolah dengan putus asa mengatakan, “Saya diharuskan membeli sofa. Pemerintah menuntut Saya agar membelinya dalam watku satu bulan. Mereka akan datang dan memeriksa rumah saya.”

Seorang penduduk etnis Han mengatakan pada Bitter Winter bahwa dia bertanya pada seorang anak perempuan berumur sembilan tahun, “Apakah kamu belajar Bahasa Uighur di sekolah?”Anak perempuan itu menjawab, “Kami tidak mempelajari Bahasa Uighur. Guruku mengatakan tidak ada satupun buku berbahasa Uighur yang boleh disimpan di rumah. Saya membuang semua buku itu. Sekarang, saya tidak lagi bisa berbahasa Uighur. Ketika berbicara dengan adik laki-laki, kami harus menggunakan gerakan tangan tapi tidak pernah berbahasa Uighur. Saya juga takut menemui nenek saya, karena dia tidak bisa berbahasa Mandarin. Ketika saya melihat nenek saya, saya tidak bisa berkomunikasi dengannya.”

Pada tahun 2019, CCP memerintahkan warga etnis Uighur untuk merayakan Festival Musim Semi, terlepas dari kenyataan bahwa etnis Uighur tidak pernah merayakan festival etnis Han semacam itu di masa lalu. Sebelum Festival Musim Semi, otoritas kota Hotan merekrut orang-orang dari etnis Han untuk mengunjungi rumah ke rumah dan memaksa pemilik rumah untuk menggantung lentera yang khas untuk perayaan Han di rumah-rumah Uighur.

Otoritas mengupah 20 RMB (sekitar $3) untuk setiap lentera yang dipasang di rumah Uighur, dan mengklaim bahwa tujuan dari tindakan ini ialah untuk mengubah pemikiran orang Uighur, sehingga mereka dapat belajar dari etnis Han dan bersatu dengan mereka untuk membuat negara itu lebih kuat dan lebih sejahtera.

Baca: “Kejahatan Rezim China atas Uighur Melebihi Kekejaman Yahudi”

Pemeriksaan Kartu Identitas di mana-mana

Salah seorang guru di Xinjiang menceritakan padaku bahwa para penduduk sekarang harus membawa kartu identitas mereka ke manapun mereka pergi. Baik ketika pergi ke sekolah, kompleks pemukiman, rumah sakit, bank, restoran, atau toko, mereka harus selalu menunjukkan kartu identitas mereka. Tanpa kartu identitas, mereka bahkan tidak bisa makan di restoran. Ketika memasuki mall untuk membeli sesuatu, mereka harus menjalani pemeriksaan di seluruh tubuh, seperti ketika akan naik pesawat. Bahkan jika ada sedikit perbedaan antara foto di kartu identitas dan penampilan mereka, mereka diharuskan pergi ke tempat lain untuk pemeriksaan.

Dalam beberapa kasus ada yang ingin pergi ke mall sedangkan mereka tidak membawa kartu identitas mereka; ketika mereka dilarang memasuki mall, mereka melaporkan keluhan. Pihak yang berwenang langsung memanggil polisi setempat dan meminta mereka datang.

Guru itu menambahkan, “Untuk kegiatan sekolah, saya berupaya keras untuk membeli sebuah pisau dapur. Saya diminta membawanya ke kantor masyarakat, di mana nomor kartu identitas saya diukir di atasnya. Dan dicatat di komputer. Pisau dapur hanya dapat digunakan di dapur dan harus diikat dengan rantai besi.” Dia menjelaskan langkah oleh otoritas ini dimaksudkan untuk mencegah orang-orang menggunakan pisau dapur sebagai senjata.

Ditanya mengenai sampai kapan warga etnis Uighur ditahan di kamp-kamp, dia mengatakan, “Pemerintah sama sekali tidak berencana untuk melepaskan mereka. Pemerintah tidak pernah menjelaskan kejahatan apa yang para etnis Uighur ini lakukan. Partai Komunis ingin ‘menChinakan’ etnis Uighur. Saat ini, ketika berjalan di jalanan, etnis Uighur menundukkan kepala mereka ketika mereka melihat orang Han lewat. Jika mereka tidak sengaja menabrak seorang etnis Han, mereka sangat ketakutan sehingga mereka langsung meminta maaf. Ketika melintasi persimpangan, mereka khawatir seseorang akan melaporkan mereka dan mengklaim mereka melanggar lampu merah.”* Diterjemahkan oleh Nashirul Haq AR

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinaChinaisasikekerasan Uighurpartai komunis chinaTurkistan Timuruighurxinjian
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ribuan Rakyat Peringati Setahun Aksi ‘Kembali ke Palestina yang Terjajah’
Tulisan selanjutnya Pemimpin harus Kuat Jaga Kedaulatan Negara, Jamin Rakyat Sejahtera

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?