Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Haftar dan Israel: Dari Musuh menjadi Sekutu

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 29 Juli 2020 10:01 10:01 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 29 Juli 2020 10:01
Bagikan
Haftar
Bagikan

Hidayatullah.com— Kehadiran Israel di Libya telah lolos dari sebagian besar sorotan, tetapi banyak laporan media mengungkapkan bahwa Tel Aviv secara diam-diam mendukung jenderal pembangkang Khalifa Haftar melawan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) pimpinan Perdana Menteri Fayez al-Sarraj, yang diakui PBB.

Israel memandang dukungannya kepada Haftar sebagai alat untuk mencapai kepentingan keamanannya. Entitas Zionis yang memproklamirkan diri sebagai Negara Yahudi, bagaimanapun juga, ingin tetap merahasiakan hubunganya dengan Haftar agar sang jenderal tidak dipermalukan di depan opini publik Islam dan Arab, terutama pendukung nasionalis di Libya timur.

Namun, kerahasiaan ini terancam ketika media “Israel” dan Arab mengekspos hubungan antara Zionis dan pemimpin Tentara Nasional Libya (LNA).

Pertemuan Haftar dengan Mossad

Dalam sebuah rubrik opini yang diterbitkan oleh Middle East Eye yang berbasis di London, jurnalis “Israel” Yossi Melman mengatakan beberapa anggota dinas intelejen Zionis bertemu dengan Haftar di Kairo beberapa kali antara tahun 2017 dan 2019.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Menurutnya, Mossad melakukan pelatihan bagi para perwira senior LNA di Mesir mengenai taktik militer, pengumpulan dan analisis intelejen, prosedur kontrol dan komando serta mendapatkan peralatan penglihatan malam dan senapan penembak jitu.

Di sisi lain, surat kabar Israel The Jerusalem Post melaporkan bahwa para agen Zionis berada di daerah-daerah yang dikontrol LNA antara Agustus dan September 2019 untuk melatih para milisi Haftar tentang perang jalanan. Laporan itu menambahkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) memasok pasukan Haftar dengan sistem pertahanan rudal “Israel” untuk mengusir serangan pesawat tak berawak oleh tentara GNA.

Namun, surat kabar Prancis Monde d’Afrique mengatakan dalam sebuah laporan awal bulan ini bahwa hubungan Haftar dengan Zionis terjalin sejak 2015 ketika pemimpin LNA bertemu dengan agen Mossad di Yordania. Laporan itu mengungkapkan bahwa Angkatan Udara “Israel” mendukung Haftar dalam membom kota Sirte, yang terletak 450 km sebelah timur Tripoli, tanpa menyebutkan tanggal dan target serangannya.

Aliansi dengan musuh

Para pendukung Haftar sering memuji dia karena partisipasinya yang masih disangsikan dalam perang 1973 antara Mesir dan Zionis ketika dia masih seorang perwira muda di pasukan Libya. Terlepas dari keaslian klaim itu, Haftar sekarang berkolusi dengan mantan musuhnya untuk mendapatkan dukungan mereka untuk mencapai tujuannya memerintah Libya.

Meskipun berpangkat tinggi, para perwira Haftar kurang profesionalisme dan pelatihan, terutama dalam hal perencanaan dan perang kota, yang bersedia ditawarkan “Israel”. Lebih penting lagi, Haftar membutuhkan sistem pertahanan udara “Israel” untuk melawan drone Turki di Libya yang telah memainkan peran penting dalam kekalahan mereka di lingkungan selatan ibukota Tripoli, dan kehilangan berikutnya dari pangkalan udara strategis Al-Watiya di antara daerah lain ke tangan GNA.

Selain itu, Haftar mencari pengaruh lobi Yahudi di AS untuk mempengaruhi para pembuat keputusan di Gedung Putih untuk memihak LNA.

Bulan lalu, dalam sebuah wawancara dengan harian Makor Rishon yang berbasis di “Israel”, Abdul Salam al-Badri, wakil perdana menteri pemerintah yang berbasis di Libya timur berusaha untuk mencari dukungan Israel. Berbicara kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pejabat pro-Haftar itu mengatakan mereka “tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi musuh dengan Tel Aviv”, menambahkan bahwa mereka berharap untuk dukungan langsung “Israel”.

Al-Badri melanjutkan dengan mengundang “Israel” untuk bergabung dengan inisiatif politik baru dengan Yunani, Siprus, Mesir dan Libanon untuk mencapai kesepakatan maritim bersama untuk menantang perjanjian yang ditandatangani antara Turki dan GNA yang berbasis di Tripoli.

Pernyataan ini menyebabkan kegemparan di antara banyak orang Libya, mendorong al-Badri untuk menyangkal berita tersebut.

Mengapa Israel mendukung Haftar?

Kekhawatiran keamanan Zionis adalah dorongan utama untuk dukungannya kepada Haftar. Sejak jatuhnya rezim Muammar Gaddafi pada tahun 2011, ada laporan bahwa senjata yang datang dari Libya diselundupkan ke Jalur Gaza melalui Mesir, sesuatu yang menyebabkan masalah keamanan serius bagi “Israel”.

Selain itu, Tripoli juga menjadi perhatian keamanan bagi Tel Aviv selama periode awal era Gaddafi serta permulaan Musim Semi Arab di negara itu pada Februari 2011.

Kenaikan Haftar di teater politik Libya pada tahun 2014 dan pengambilalihan berikutnya atas bagian timur Libya memberikan kesempatan bagi “Israel” untuk membuat penyangga terhadap transfer senjata dari Libya ke Gaza serta memiliki pemerintahan “ramah” di Libya dengan membentuk sebuah aliansi dengan aktor politik baru.

Selain itu, Libya yang kaya minyak dapat menghadirkan pasar baru untuk industri “Israel” yang ekspor senjatanya merupakan pendapatan ekonomi yang penting.

Akankah Haftar meninggalkan Palestina?

Zionis telah mencari aliansi dengan UEA, Mesir dan Arab Saudi untuk menghadapi ancaman bersama dari Iran dan kelompok-kelompok Islam. Karena Haftar berbagi keprihatinan yang sama dengan “Israel” dalam hal ini, hubungannya dengan Tel Aviv diharapkan semakin kuat.

“Israel” mengadopsi kebijakan “teman dari teman saya adalah teman saya”, dan “musuh dari musuh saya adalah teman saya.” Dalam konteks ini, keterlibatan “Israel” di Libya kemungkinan akan meningkat meskipun secara diam-diam.

Zionis khawatir dengan peran Turki di Libya

Kemenangan oleh GNA dan Turki melawan milisi Haftar telah mengkhawatirkan “Israel”, yang percaya bahwa kemenangan ini akan memperkuat posisi Ankara dan GNA di wilayah tersebut mengenai ladang hidrokarbon di Mediterania Timur.

Turki dan GNA sebelumnya telah menandatangani perjanjian untuk demarkasi perbatasan maritim yang menurut Zionis tidak sesuai dengan “kepentingan”nya.

Dengan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan “Israel”, Haftar dapat membuat marah negara-negara lain yang bermusuhan dengan Tel Aviv di wilayah tersebut, seperti Aljazair dan Tunisia, serta nasionalis Arab di negara-negara yang saat ini mendukung Haftar.

Untuk menghindari terkikisnya basis dukungan Haftar di wilayah tersebut, keterlibatan “Israel” dengan Haftar dilakukan di belakang layar dan berkoordinasi dengan Kairo.*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HaftarisraelKhalifa HaftarLibyaSirte
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mendikbud Mohon Maaf dan Minta NU, Muhammadiyah, PGRI Gabung POP Lagi
Tulisan selanjutnya Inggris Latih Mata-mata Saudi, Mesir dan UEA

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?