Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Pompeii: Kota “Kaum LGBT” yang Hilang [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 April 2016 11:44 11:44 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 April 2016 12:30
Bagikan
Sekitar 2,5 juta wisatawan mengunjungi reruntuhan Pompei, kota maksiatnya kaum homoseksual yang sudah terkubur sekitar 1.500 tahun
Bagikan

PERNAHKAH Anda menonton  “Film Pompeii (2014)”? sebuah film petualangan yang bercerita tentang meletusnya Gunung Vesuvius yang menghancurkan kota Romawi kuno, khususnya Kota Pompeii.

Film yang diangkat dari kisah tahun 79 Masehi ini bercerita tentang seorang budak yang tengah menjalin cinta dengan putri majikannya. Ia berharap suatu hari nanti dia bisa menghirup kebebasan dan menikah dengan gadis pujaannya.

Namun, perjalanan cintanya mengalami rintangan hingga munculnya musibah dasyat beruba meletusnya Gunung Vesuvius dengan kekuatan 40 bom nuklir selama dua hari. Alkisah, dalam film yang dibintaingi Emily Browning, Kiefer Sutherland dan Kit Harington ini menyebabkan kejadian mengerikan berupa  menghancurleburkan Kota Pompeii.

Kota Pompeii terkubur manjadi abu dan batu apung setinggi 4 sampai 6 meter.

Situs Arkeologi

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Pompeii adalah sebuah kota kuno yang telah didirikan pada abad ke 6 SM oleh keturunan berbahasa Oscan penduduk Neolitik Campania, kemudian berakhir di bawah Yunani, Etruscan, Samnite dan akhirnya di bawah kekuasaan Romawi.

Sebagai sebuah koloni Romawi, Pompeii sangat makmur sebagai pelabuhan dan sebagai tujuan wisata, bukti yang dapat ditemukan di banyak villa, kuil, teater dan pemandian dibangun di seluruh kota.

Pompeii juga memiliki amfiteater, forum, dan basilika. Pompeii adalah rumah bagi sekitar 20.000 jiwa. Pada 63 M gempa bumi menyebabkan kerusakan yang luas untuk Pompeii dan dalam tahun-tahun berikutnya ada upaya untuk memperbaiki beberapa kerusakan.

Musibah melandanya pada tanggal 24 Agustus, 79 M ketika gunung berapi Vesuvius meletus dan menyelimuti kota dengan debu dan abu. Menurut catatan sejarah, kota ini tersebut terkubur sekitar 1.500 tahun, sampai kemudian arsitek Italia, Domenico Fontana, menyingkap sedikit demi sedikit situs kota kuno tersebut.

Laporan saksi mata satu-satunya yang bertahan dan dapat diandalkan tentang peristiwa ini dicatat oleh Plinius Muda dalam dua pucuk surat kepada sejarahwan Tacitus.

Kala itu, dari rumah pamannya di Misenum, sekitar 35 KM dari gunung berapi itu, Plinius melihat sebuah gejala luar biasa yang terjadi di atas Gunungn Vesuvius: sebuah awan gelap yang besar berbentuk seperti pohon pinus muncul dari mulut gunung itu. Setelah beberapa lama, awan itu dengan segera menuruni lereng-lereng gunung dan menutupi segala sesuatu di sekitarnya, termasuk laut yang di dekatnya.

“Awan” yang digambarkan oleh Plinius Muda itu kini dikenal sebagai aliran piroklastik, yaitu awan gas yang sangat panas, debu, dan batu-batu yang meletus dari sebuah vulkano.

Plinius mengatakan bahwa beberapa gempa bumi terasa pada saat letusan itu dan diikuti oleh getaran bumi yang dahsyat. Ia juga mencatat bahwa debu juga jatuh dalam bentuk lapisan-lapisan yang sangat tebal dan desa tempat ia berada harus dievakuasi. Laut pun tersedot dan didorong mundur oleh suatu “gempa bumi”, sebuah gejala yang disebut oleh para geolog modern sebagai tsunami. [Wikipedia, Pompeii]

Ekskavasi besar-besaran baru dimulai tahun 1700-an, dan sejak itu Pompeii menjadi situs arkeologi yang penting di dunia. Informasi mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat Romawi kuno terungkap berkat reruntuhan Pompeii, yang “membeku” di bawah timbunan abu vulkanik.

Debu-debu hasil meletusnya gunung berapi Vesuvius pada 24 Agustus tahun 79 Masehi di kota tersebut telah mengawetkan semuanya, mulai dari penduduk sampai bangunan-bangunan di kota tersebut. Tapi tahukah Anda? Bahwa seluruh situs bersejarah ini juga ternyata ditemukan secara tidak sengaja.

Reruntuhan Pompeii pertama kali ditemukan oleh Domenico Fontana, seorang arsitek dalam penggaliannya menyusuri sungai Sarnus pada tahun 1599. Tak sengaja ia menemukan beberapa prasasti yang berkaitan dengan peninggalan Romawi Pompeii, namun ia belum menyadari bahwa dilokasi tersebut merupakan lokasi terkuburnya kota Pompeii.

Ketika Domenico Fontana bekerja pada sebuah proyek hidrolika, kota ini belum tergali sampai ditemukan kembali pada 1748 oleh insinyur Spanyol Rocque militer Joaquin de Alcubierre. [Indopos, Jumat, 4 Juli 2014, Ini Dia, Penemuan-Penemuan Peradaban yang Dianggap Penting]

pompeii_terawetkan
Bekas-bekas warga yang terawetkan usai dikubuh hujan batu dan debu [foto: fxguide.com]
Pada 1710, seorang petani juga sempat menemukan beberapa potongan marmer saat menggali sumur dilokasi terkuburnya kota Pompeii, dan menjualnya kepada seorang pangeran. Pangeran tersebut lalu memerintahkan penggalian untuk mencari artifak lainnya. Namun ketika itu penggalian terkendala oleh keterbatasan tenaga dan alat. Barulah pada tahun 1748, dilakukan upaya serius untuk menggali reruntuhan kota kuno Romawi tersebut. Rocque Joaquin de Alcubierre yang memimpin penggalian mengetahui bahwa artefak juga telah ditemukan di dekat kanal Sarno dan mulai menggali dilokasi yang sekarang kita tahu adalah Pompeii kuno.

Lalu pada tahun 1860, Giuseppe Fiorelli memimpin penggalian dan menemukan ruang-ruang kosong dalam lapisan-lapisan abu vulkanik. Dengan teknik injeksi plester, tampaklah bahwa ruang-ruang kosong itu tercipta karena membusuknya tubuh manusia yang pernah menempatinya. Apa yang ditemukan selanjutnya benar-benar menggambarkan kengerian warga Pompeii menjelang detik-detik akhir kehidupan mereka. [http://humaniora.uniknya.com, 5 Kecelakaan Penting & Paling Bahagia dalam Sejarah [Bag-2]]

Pasca penemuan ini, sisa-sisa reruntuhan dan bekas kota yang telah dihujani batu api dan lahar ini menjadi tontonan dan kunjungan para wisatawan.

Baca: Dinding di Pompeii Runtuh Lagi

Sekitar 2,5 juta wisatawan mengunjungi reruntuhan Pompeii, Italia, setiap tahunnya karena terpesona oleh peradaban manusia pada abad pertama dan bencana gunung berapi yang telah memusnahkannya. Bisa dibilang reruntuhan Pompeii dianggap peninggalan peradaban kuno yang terlengkap yang pernah ada.

Kota Maksiat dan LGBT

Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya.*(bersambung pemusnahaan Pompeii)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gunung berapiGunung Vesuviushomoseksualhujan abuItalialgbtmaksiatpompeii
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pertama Kali, Nelayan Gaza Melaut Hingga 9 Mil
Tulisan selanjutnya ‘Abdan Syakura; Pintu Bahagia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?