Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Adzan Bukan Sekadar Tanda Shalat

Thoriq
Terakhir diupdate: 7 Januari 2021 13:58 1:58 pm
Thoriq
Dipublikasikan 7 Januari 2021 13:11
Bagikan
Bagikan

Adzan bukan sekadar penanda waktu shalat. Ini adalah bagian dari peradaban Islam yang mulia

 

Hidayatullah.com–Para Sahabat Rasulullah ﷺ suatu saat berkumpul. Mereka bermusyawarah dengan Nabi mengenai bagaimana memberikan tanda kepada masyarakat tatkala datang waktu shalat.

Ada yang menyampaikan  menabuh genderang seperti orang-orang Yahudi. Ada pula yang mengusulkan  memukul lonceng seperti orang-orang Nasrani.

Lalu  ada seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid yang pernah bermimpi ditalqin kalimat-kalimat adzan dan iqamah. Ia pun pergi menuju Rasulullah ﷺ lalu menceritakan perihal mimpi itu.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Setelah mendengar apa yang diceritakan Abdullah, Rasulullah ﷺ menyetujuinya. Beliau kemudian memerintahkannya untuk mengajarkan kepada Bilal bin Rabah. Akhirnya Bilal menyerukan adzan dengan kalimat-kalimat yang diajarkan itu. Demikianlah proses disyariatkannya adzan. (Syarh al-Yaqut an-Nafis, hal 219).

Baca: Adzan Pertama Sejak 86 Tahun Berkumandang dari 4 Menara Masjid Hagia Sophia

Para ulama akhirnya mendefiniskan bahwa adzan adalah perkataan khusus dan dengannya diketahui waktu shalat. (Hasyiyah at-Tarmasi, 2/448).  Meski demikian, adzan bukanlah sekadar tanda waktu shalat tiba. Ini juga bagian dari syiar Islam.

Pendapat utama dalam Mazhab asy-Syafi’i menghukumi adzan termasuk sunnah. Namun ada pendapat kedua yang menyatakan bahwa hukumnya fardhu kifayah, karena adzan merupakan syiar Islam. Jika demikian ketika seluruh penduduk sebuah negeri sepakat untuk meninggalkannya, maka mereka harus diperangi. (Mughni al-Muhtaj, 1/319).

Suara Keras dan Merdu

Sebagai syiar, maka disunnahkan muadzin (pelantun adzan) memiliki suara yang tinggi sehingga bisa didengar dari jarak yang cukup jauh. Oleh sebab itu, ketika Abdullah menyampaikan mimpinya mengenai kalimat-kalimat adzan kepada Rasululullah ﷺ, maka beliau bersabda, “Sampaikan kepada Bilal, sesungguhnya suaranya lebih tinggi daripada suaramu.” (Riwayat Ahmad).

Selain memiliki suara yang kuat hingga bisa didengar dari jarak yang jauh, disunnahkan juga muadzin memiliki suara yang merdu. Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan dua puluh orang untuk mengumandangkan adzan, dan beliau kagum dengan suara Abu Mahdzurah. (Riwayat Ibnu Khuzaimah).

Ketika peristiwa Fathu-Makkah terjadi, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan di atas Ka’bah. Orang-orang musyrik pun marah besar, hingga mereka meniru adzan Bilal dengan bermaksud untuk mengejek. Di antaranya Abu Mahdzurah, yang memiliki suara paling merdu di antara yang lain.

Baca: Zionis ‘Israel’ Telah 298 Kali Larang Adzan di Masjid Ibrahimi

Mendengar kumandang adzan yang bermaksud mengejek itu, Rasulullah ﷺ memerintahkan para Sahabat untuk memanggil Abu Mahdzurah. Lelaki ini mengira hendak dibunuh. Namun ternyata Nabi mengusap kening serta dadanya dengan telapak tangannya yang mulia. Kemudian Abu Mahdzurah berkata, “Demi Allah, maka hatiku saat itu dipenuhi dengan keimanan dan keyakinan, dan saya tahu bahwa beliau adalah utusan Allah.”

Rasulullah ﷺ kemudian mengajarkan adzan kepada Abu Mahdzurah dan memilihnya sebagai muadzin bagi penduduk Makkah. Saat itu Abu Mahdzurah berumur 19 tahun. Kelak anak-anaknya juga mewarisi posisinya sebagai muadzin di Makkah. (Hasyiyah at-Tarmasi, 2/514).

Menurut Imam asy-Syarbini, sunnahnya memilih muadzin yang memiliki suara bagus adalah agar hati orang yang mendengar menjadi lembut dan condong untuk menjawabnya. Juga karena seorang penyeru hendaklah memiliki ucapan yang manis. (Mughni al-Muhtaj, 1/324).

Adzan yang merdu bahkan bisa menjadi wasilah datangnya hidayah. Raja Frederick II (penguasa Jerman, Italia, dan Sisilia), meski seorang Nasrani, ia meminta izin kepada Sultan al-Kamil al-Ayyubi untuk menginap satu malam di Kota al-Quds. Tujuannya hanya ingin mendengarkan merdunya suara adzan di kota itu. (Mufarrij al-Kurub, 3/244-245).

Detak Nadi Kehidupan

Mengumandangkan adzan juga disunnahkan di tempat yang tinggi, seperti menara dan atap. Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i, di samping hal ini mengikuti Sunnah, juga agar suara adzan menjangkau tempat yang jauh.

Disebut mengikuti sunnah berdasarkan Hadits dari ‘Aisyah RA, “Tidak ada jarak di antara adzan Bilal dan Ibnu Ummi Maktum kecuali jika salah satu dari mereka turun maka lainnya naik.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana juga dalam Hadits bahwasanya seorang wanita Bani Najjar mengatakan, “Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang berada di sekitar masjid, dan Bilal adzan di atasnya ketika fajar.” (Riwayat Abu Dawud).

Baca: Adzan, Keindahan dan Peradaban

Sedangkan menara, awal mula dibangun di Masjid Nabawi oleh Khalifah al-Walid I di masa Bani Umayah.. Dan Khalifah Umar bin Abdil Aziz kemudian membangun menara Masjid Nabawi di keempat sudutnya. Sedangkan di Makkah, yang pertama kali membangun menara adalah Abu Ja’far al-Manshur, khalifah kedua Bani Abbasiyah. (Hasyiyah at-Tarmasi, 2/ 516).

Selanjutnya menara tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan. Di menara masjid-masjid di seluruh wilayah Muslim di malam hari dinyalakan lilin-lilin sebagai penerangan, sebelum masa digunakannya listrik. (Ifadah Dzawil Awham, hal 67).

Ketika menara terang dengan lampu-lampu, maka para penduduk merasa tenang. Sedangkan para musafir menjadikannya sebagai tanda, demikian juga kapal-kapal menjadikan menara masjid yang berada di pesisir sebagai mercusuar.

Adzan juga memiliki fungsi sosial. Sebagai contoh, dengan adanya adzan fajar, maka dimulailah aktivitas kehidupan masyarakat. Kumandang adzan Zhuhur membuat situasi menjadi tenang, dan masa istirahat berlangsung hingga waktu Ashar. Kemudian setelah itu aktivitas berlangsung kembali hingga waktu Maghrib. Datangnya waktu Isya’ menandakan segala aktivitas mulai berhenti. (Muhadharat fi Tarikh al-Alam al-Islami wa al-Hadharah al-Islamiyah, hal 149 dan 151).

Jelas sudah bahwa adzan bukanlah sekadar penanda waktu shalat. Ini juga merupakan syiar serta sudah menjadi bagian dari peradaban umat Islam sejak dahulu, sekarang, dan terus di masa yang akan datang.* 

Redaktur: Thoriq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Adzansuara adzan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Fatwa Penetapan Halal Tetap Kewenangan MUI
Tulisan selanjutnya Lebih dari Separuh Pasukan AS akan Meninggalkan Iraq dalam Beberapa Hari

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?