Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Semoga Lekas Sembuh, Media

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Februari 2017 10:02 10:02 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Februari 2017 10:02
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

 

TAHUN lalu ditutup dengan berbagai peristiwa luar biasa di negara Kita. Awal tahun ini juga tidak kalah hebohnya, berbagai kejadian silih berganti kita hadapi.

Yang paling menarik perhatian adalah kehebohan Pilgub Jakarta, kasus penistaan agama yang tak kunjung usai, juga aksi-aksi bela Islam yang mampu menarik massa luar biasa banyaknya.

Memasuki bulan Februari, situasi negeri semakin tidak terkendali. Debat panas pasangan calon gubernur dan wakil gubernur jadi santapan masyarakat.

Kasus perlakuan kurang mengenakkan terhadap Kiai Ma’ruf Amin di persidangan Ahok yang berbuntut kontroversi panjang, belum lagi penetapan Habib Rizieq sebagai tersangka pelecehan agama.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Media berlomba-lomba memberitakan kejadian-kejadian ini dengan berbagai versi, dengan ulasan semenarik mungkin, sebombastis mungkin, sehiperbola mungkin.

Pengamat Komunikasi: 5 Alasan Mengapa Media Mainstream Vulgar Alihkan Kasus Penjarakan Ahok dalam Aksi Damai

Ada yang terang-terangan menunjukkan keberpihakannya pada satu golongan.

Ada juga yang secara halus mengubah perspektif pembaca, kurang pintar sedikit, pembaca bisa langsung percaya dan terpengaruh apa kata media.

Parahnya, ada media yang terang-terangan menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.

Lantas, bagaimana seharusnya menyikapi media agar adil dalam menilai berita?

Ada baiknya kita flashback sedikit ke beberapa bulan lalu. Sebuah video pengusiran terhadap beberapa awak media ketika aksi bela Islam menjadi viral di media sosial.

Kejadian ini membuktikan bahwa media mulai timpang memberitakan, jadilah antara media dan massa tercipta kekecewaan yang berujung ketidakpercayaan.

Tanggal 9 Februari 2017 ini, merupakan peringatan ‘Hari Pers Nasional’. Ada baiknya hari tersebut tidak hanya sekedar momen untuk diperingati, tetapi juga momen evaluasi.

Apa yang salah dengan pers di negara kita hari ini?

Jumlah media sudah tak terhitung banyaknya. Awaknya juga mumpuni dan profesional, namun mengapa masyarakat semakin sulit percaya pada media?

Mungkin yang salah adalah orientasinya. Kalau dulu, dengan jumlah yang sedikit media mampu menggugah perjuangan anak bangsa, fasilitas minim namun beritanya berbobot, membaca berita jadi nutrisi bagi otak.

Hoax Muncul Akibat Hilangnya Kredibelitas terhadap Media Mainstream

Masyarakat pintar, rakyat bersatu, pemimpin berwibawa. Pembaca dan media sevisi, menjadikan Indonesia merdeka, Indonesia bermartabat.

Kini media bicara bisnis, jadi sponsor maka dijamin pemberitaan positif. Media juga bernuansa politik, tergantung siapa yang diusung.

Lawan politik berarti jadi pesakitan di headnews. Kini, membaca berita rawan fitnah, bisa jadi perpecahan dimana-mana, pemimpin hilang wibawa.

Media tidak lagi peduli Negara ini babak belur. Sesederhana itu saja.  Media sekarang ini secara kuantitas mengesankan, namun kualitas berada di titik nadir.

Jumlah media sehat dengan berita objektif tidak sebanding dengan media sakit yang subjektif.

Beberapa hari ke depan akan ramai diwarnai berbagai macam peristiwa yang isunya berhembus di media-media.

Dengan demikian akan semakin tampak pula keberpihakan masing-masing media.

Jadilah pembaca cerdas, jangan hanya membaca beritanya, namun baca juga bekingan medianya. Jangan ikut-ikutan sakit!*

Ema Syamsi | pegiat komunitas menulis PENA Malika

Ada juga yang secara halus mengubah perspektif pembaca, kurang pintar sedikit, pembaca bisa langsung percaya dan terpengaruh apa kata media.

Parahnya, ada media yang terang-terangan menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.

Lantas, bagaimana seharusnya menyikapi media agar adil dalam menilai berita?

Ada baiknya kita flashback sedikit ke beberapa bulan lalu. Sebuah video pengusiran terhadap beberapa awak media ketika aksi bela Islam menjadi viral di media sosial.

Kejadian ini membuktikan bahwa media mulai timpang memberitakan, jadilah antara media dan massa tercipta kekecewaan yang berujung ketidakpercayaan.

Tanggal 9 Februari 2017 ini, merupakan peringatan ‘Hari Pers Nasional’. Ada baiknya hari tersebut tidak hanya sekedar momen untuk diperingati, tetapi juga momen evaluasi.

Apa yang salah dengan pers di negara kita hari ini?

Jumlah media sudah tak terhitung banyaknya. Awaknya juga mumpuni dan profesional, namun mengapa masyarakat semakin sulit percaya pada media?

Mungkin yang salah adalah orientasinya. Kalau dulu, dengan jumlah yang sedikit media mampu menggugah perjuangan anak bangsa, fasilitas minim namun beritanya berbobot, membaca berita jadi nutrisi bagi otak.

Masyarakat pintar, rakyat bersatu, pemimpin berwibawa. Pembaca dan media sevisi, menjadikan Indonesia merdeka, Indonesia bermartabat.

Kini media bicara bisnis, jadi sponsor maka dijamin pemberitaan positif. Media juga bernuansa politik, tergantung siapa yang diusung.

Lawan politik berarti jadi pesakitan di headnews. Kini, membaca berita rawan fitnah, bisa jadi perpecahan dimana-mana, pemimpin hilang wibawa.

Media tidak lagi peduli Negara ini babak belur. Sesederhana itu saja.  Media sekarang ini secara kuantitas mengesankan, namun kualitas berada di titik nadir.

Jumlah media sehat dengan berita objektif tidak sebanding dengan media sakit yang subjektif.

Beberapa hari ke depan akan ramai diwarnai berbagai macam peristiwa yang isunya berhembus di media-media.

Dengan demikian akan semakin tampak pula keberpihakan masing-masing media.

Jadilah pembaca cerdas, jangan hanya membaca beritanya, namun baca juga bekingan medianya. Jangan ikut-ikutan sakit!*

Ema Syamsi | pegiat komunitas menulis PENA Malika

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahokberitaGubernur DKIHabib Rizieq ShihabHari Pers Nasionalmedia mainstreamMedia massamedia socialpenistaan agama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Qatar Bantu Dana Pengungsi Rohingya di Malaysia
Tulisan selanjutnya Ahok dan Penggembosan ‘Socio-Cultural Capital’ Umat Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?