Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Perbaikilah Akhlak terhadap Ulama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Mei 2017 13:28 1:28 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Mei 2017 13:28
Bagikan
ILUSTRASI
Bagikan

DI saat ratusan bahkan ribuan santri begitu hormatnya pada kyai-nya, tidak sedikit orang justru berani menghina kyai, yang kemudian disebut juga ulama, orang yang lebih ahli dan lebih mengetahui perihal agama.

Bahkan dengan pongahnya menertawakan sorban saja, namun hingga menjadikan para ulama bahan bercanda. Tidak artis, tidak orang biasa. Trend ini semakin dianggap biasa, justru semakin hari semakin berani saja. Lebih-lebih setelah kekalahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Pilkada DKI 2017.

Mereka seakan berlindung di bawah payung hukum Hak Asasi Manusia (HAM) yang kemudian mereka salah artikan sebagai kebebasan mencela sesuka hatinya, seenak perutnya, terlebih jika fatwa sangat bertentangan dengan pendapat pribadi mereka. Umat Islam sendiri justru tidak mengerti bagaimana memposisikan ulama dan bagaimana berakhlak padanya.

Islam merupakan cerminan agama sekaligus cara hidup yang paling beradab. Mulai dari permasalahan hajat hidup paling sederhana hingga hajat hidup paling kompleks sekalipun, Islam sudah paripurna mengaturnya. Sehingga akhlak serta perilaku umat Islam menjadi indikasi apakah umat Islam dekat dengan agamanya ataukah sebaliknya. “Agama adalah nasihat”, sehingga sewajarnya justru umat Islam adalah umat Islam yang saling memberi nasihat dan berlapang diri terhadap orang yang menasihati. Dan merekalah para ulama yang sejatinya sering mengingatkan kita, memberi nasihat dan tausiyah pada kita, yang tanpa lelah berusaha menyelematkan hidup kita dari kemaksiatan demi kemaksiatan, baik itu sadar maupun tidak sadar. Mereka telah mencurahkan seluruh kemampuan mereka untuk menggali ilmu Islam dan kemudian menyampaikannya dengan bahasa semudah mungkin pada kita. Namun betapa kurang berterima kasihnya kita jika masih dengan gagahnya menghina dan menertawakannya. Tak sedikit di antara mereka justru umat Islam sendiri. Padahal Allah Subhanahu Wata’ala pernah mengingatkan:

ۥ كَذَٲلِكَۗ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (٢٨)

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama.” (QS: Fathir [35]: 28).

Baca:  Jejak Intelektual Muslim dan Ulama Membangun Indonesia [1]

Bagaimana seharusnya kita berakahlak terhadap orang-orang yang Allah muliakan itu?

Berikut adalah beberapa akhlak terhadap ulama yang harus kita pahami dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

Mematuhi

Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah mengutus wazir (pembantunya) untuk menghadap Imam Malik dan menyampaikan pesan agar Sang Imam mau datang kepadanya dan membacakan Kitab Al Muwattha untuknya. Imam Malik kemudian berkata, “Sampaikanlah salamku (untuk khalifah), dan katakan padanya bahwa ilmu itu dikunjungi, bukan mengunjungi, ilmu itu didatangi, bukan mendatangi”. Sang Khalifah pun mematuhi kemudian datang untuk mendengarkan pembacaan kitab Muwattha.

Tidak berhenti disitu, Sang Khalifah juga ditegur karena kedapatan duduk bersandar dalam majelis Sang Imam. Menurut Imam Malik, duduk bersandar dalam majelis ilmu bukanlah adab yang baik. Lagi-lagi, Sang Khalifah menurut tanpa mendebat, tanpa banyak alasan.

Memuliakan

Allah Subhanahu Wata’ala memuliakan orang-orang yang berilmu. Sebagaimana dalam surat Al-mujadalah ayat 11, bahwa Allah meninggikan orang-orang berilmu beberapa derajat.

Ulamapun menjadi perpanjangan dari para Nabi. Mereka mewairisi ilmu-ilmu yang dibawa oleh nabi dan Rasul bukan untuk disombongkan, namun untuk disampaikan dan menjadikan mereka orang-orang yang semakin takut tatkala semakin banyak ilmunya.

“Ulama adalah pewaris nabi.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Baihaqy).

Jika Allah saja memuliakan, lantas apa yang membuat kita sebagai orang biasa tidak mau memuliakan?

Baca:  Ulama Sesungguhnya

Menyayangi dan tidak menyakiti

Menyakiti sesama muslim adalah akhlak tercela. Bahkan sesama muslim mutlak harus saling menyayangi.

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘alaih).

“Barangsiapa yang tidak menyayangi (orang yang beriman), maka dia tidak akan diberi rahmat.” (Muttafaq ‘alaih).

Apa jadinya jika kita menyakiti hati ulama? Maka hal itu layaknya kita sedang menabuh genderang perang pada Allah Sang Pencipta Manusia.

Salah satu hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahwa ia Kuperangi”.

Ikrimah, seorang thabi’in pun menyebutkan, “Janganlah kamu menyakiti ulama. Sebab barangsiapa menyakiti ulama, berarti menyakiti Rasulullah.”

Dalam Surat Al-Ahzab, dijelaskan balasan bagi orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ لَعَنَہُمُ ٱللَّهُ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابً۬ا مُّهِينً۬ا (٥٧)

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghhinakan mereka.” (QS: Al-Ahzab: 57)

Dalam lanjutan surat yang sama, Allah tegaskan umat Islam untuk tidak saling menyakiti,

وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ بِغَيۡرِ مَا ٱڪۡتَسَبُواْ فَقَدِ ٱحۡتَمَلُواْ بُهۡتَـٰنً۬ا وَإِثۡمً۬ا مُّبِينً۬ا (٥٨)

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat. Maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS: Al-Ahzab: 58)

Baca:  Pak Presiden, Dengarkanlah Kata Ulama!

Tidak menjelekkan dan menyebut kejelekannya

Tidak ada seorang pun yang suka saat kejelekannya disebutkan pada orang lain. Sekalipun dengan kesabarannya seorang ulama tidak membalas dan mengomentari fitnah dan kata-kata yang menjelekkan, namun Allah mencelanya. Al Hasan bin Dzakwan mengatakan, “Janganlah kamu menyebutkan kejelekan ulama, karena Allah akan mematikan hatimu”.

Seringkali kita lupa bahwa yang menjelekkan belum tentu lebih baik derajatnya di sisi Allah.

Demikian adalah sebagian akhlak terhadap ulama. Memuliakan mereka adalah kewajiban kita. Memuliakannya tidak akan merugikan kita. Justru Allah memerintahkan kita untuk mencintai orang-orang yang kadar imannya terhadap Allah dan RasulNya melebihi kita. Siapa kita yang berani mencelanya?

Seberapa sempurna kita jika kita menjelekkannya dan membuat citra mereka buruk di hadapan manusia lainnya? Lantas, jika kita tidak memuliakan ulama, manusia mana yang akan kita banggakan dan muliakan? Wallahu ‘alam bi ash shawwab.*/Meyra Kris Hartanti

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabadab pada ulamaKhalifahmemuliakan ulamamencela ulamapewaris nabiulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Empat Tingkatan Taubat Menurut Ghazali
Tulisan selanjutnya ISIS Dikabarkan Akan Menarget Rusia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?