Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Konsultasi Syariah

Keasyikan Main Game, Anak Bisa Malas Belajar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Juni 2017 16:56 4:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Juni 2017 16:56
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

SELAIN menonton siaran televisi, anak-anak biasanya sangat betah duduk berjam-jam di depan pesawat televisi jika pesawat televisi telah dilengkapi oleh playstation. Bila anak sudah main playstation, maka anak yang pada awalnya giat belajar, tak jarang menjadi anak yang pemalas.

Kita tahu bahwa perkembangan zaman akhir-akhir ini di bidang teknologi yang semakin canggih, membuat beberapa anak kehilangan minat dalam belajar. Mereka juga tidak bisa menghindari perkembangan iptek yang terus maju di Indonesia, meskipun beberapa faktor penyebab adalah budaya luar yang mulai masuk di Indonesia.

Beberapa contoh penyebab anak malas belajar, salah satunya yang paling banyak adalah game. Mungkin, bukan hal yang aneh lagi jika anak mulai malas belajar karena terlalu asyik bermain playstation atau lainnya. Di sinilah, para orang tua mulai mengantisipasi anak-anaknya agar tidak membebaskan anaknya dalam bermain.

Kecanduan playstation membuat anak menjadi kasar, suka mencaci, bahkan kehilangan pengendalian diri. Bagaimana cara mengatasinya? Bermain memang menjadi salah satu kebutuhan anak, bisa menjadi sebuah permainan yang mengasyikkan. Namun, tidak semua permainan memiliki dampak bagus bagi perkembangan mental dan membantu proses sosialisasi anak dengan lingkungan.

Di antara sekian banyak permainan yang ditawarkan di pasar, salah satu benda yang perlu diwaspadai, jika terlalu sering dimainkan anak, adalah playstation. Adrenalin yang memuncak, kemarahan yang disertai teriakan, bentakan, dan cacian, hampir selalu mewarnai permainan yang menggunakan stik dan layar televisi tersebut.

Baca Juga

Antara Qadha dan Syawal: Bolehkah Satu Kali Puasa Menggabungkan Dua Niat?
Masjid dan Mushalla menurut Al-Quran dan Hadis
Inilah Tempat-Tempat Terlarang untuk Shalat  
Tidak Sholat dan Membayangkan Porno di Bulan Ramadhan Apakah Membatalkan Puasa?
Hukum Membuka Aib Pasangan di Media Sosial

Agresivitas dan kebiasaan berbicara tanpa kendali, bahkan mencaci, tentu saja berdampak negatif bagi perkembangan mental anak. Anak jadi kehilangan kepedulian terhadap sesama, tidak mudah menerima kekalahan, bahkan menjadi lebih mudah menyakiti teman-teman seusia, ataupun si adik yang lebih kecil.

Bisa dikatakan tidak menguntungkan dengan membiarkan anak bermain playstation selama yang mereka inginkan. Salah satunya adalah kekurangan keinginan anak bersosialisasi dengan lingkungan. Bukan saja malas beradaptasi dengan lingkungan, playstation juga membuat anak malas melakukan rutinitas dan kewajiban sehari-hari, seperti belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. Pada tingkat kecanduan kronis terhadap permainan tersebut, anak bahkan bisa lupa waktu makan atau sekadar minum.

Itulah jeleknya permainan playstation, anak bisa menghabiskan waktu berjam-jam, duduk diam memainkannya. Kalau dilarang, anak bisa melawan orang tua. Jika itu terjadi, berarti tingkat ketergantungan anak pada playstation kronis.

Orang tua biasanya juga mengeluh bahwa mereka cukup kewalahan menghadapi anak-anaknya saat dilarang memainkan playstation. Kalau sedang bermain, rumah menjadi penuh teriakan, umpatan, cacian, ataupun tangisan. Yang menang berteriak senang, yang kalah mencaci maki.

Menghadapi anak-anak yang cukup sulit dikendalikan ketika dilarang bermain playstation, sebagian orang tua mengaku suka mengambil tindakan tegas. Terkadang, kalau anak-anak sudah tidak bisa dikendalikan, mereka akan menyimpan dan mengunci playstation mereka dalam lemari. Mereka membiarkan anak-anak mereka berteriak ataupun menangis meminta, daripada mereka kecanduan playstation yang tidak mendidik.

Selain efek yang terlihat, seperti anak jadi malas belajar dan malas bersosialisasi, playstation juga memiliki dampak yang melibatkan fungsi tubuh. Misalnya, anak jadi terbiasa duduk berjam-jam dengan posisi yang sama, padahal itu merusak tulang. Anak yang “keranjingan” playstation akan cenderung memiliki mata yang rusak. Selain itu, yang dipacu pada alat permainan elektronik ini adalah kemampuan anak untuk bereaksi cepat melalui latihan yang terus-menerus (drilling).

Pada permainan ini, umumnya anak tidak belajar karena kepraktisannya memencet tombol. Ia dihadapkan pada jawaban salah dan benar. Dalam permainan itu pula, umumnya tidak disajikan bagaimana cara untuk sampai pada jawaban benar. Jelas, ini bukan gambaran dari kondisi yang sebenarnya pada anak bahwa untuk mencapai keberhasilan perlu menyelesaikan masalah yang dihadapi.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Mengapa Anakku Malas Belajar, penulis: Imam Musbikin)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anak-anakgamemalas belajar
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Polisi Australia: Bendahara Vatikan George Pell Jadi Terdakwa Sejumlah Serangan Seksual
Tulisan selanjutnya Ikatan Alumni Santri Sidogiri Menilai, Permendikbud “Hari Sekolah” Berpotensi Matikan Madrasah Diniyah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Laporan: Israel Akan Bebastugaskan 10.000 Tentara Cadangan karena Krisis Anggaran

Berita
6 Juli 2026 10:44
PUI Dukung Perpres 111/2025 Soal LGBT, Ketahanan Keluarga Penting bagi Pertahanan Nasional
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian

Terbaru

  • Ormas Islam Tolak Kehadiran PM India ke Indonesia, Soroti Dugaan Pelanggaran HAM terhadap Muslim
  • RUU LGBT Berpeluang Dibahas DPR, Marwan: Mereka Harus Disembuhkan
  • Bakomubin Tolak Normalisasi dan Legalisasi LGBT di Indonesia
  • Hubungan Agama dan Sains
  • PUI Dukung Perpres 111/2025 Soal LGBT, Ketahanan Keluarga Penting bagi Pertahanan Nasional
  • Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
  • Ratusan Ribu Orang Padati Teheran, Hadiri Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
  • Laporan: Israel Akan Bebastugaskan 10.000 Tentara Cadangan karena Krisis Anggaran
  • Amerika dan Perang Salib Baru?
  • Prosesi Pemakaman Dimulai Rakyat Iran Berkabung Meratapi Kematian Ayatullah Ali Khamenei

Mungkin Anda Juga Suka

Konsultasi Syariah

Mengapa Niat Puasa dalam Madzhab Syafi’i Harus Disebutkan Secara Detail?

1 Maret 2025 18:00
Konsultasi Syariah

Tata Cara Niat Puasa Puasa Ramadhan menurut Empat Madzhab  

1 Maret 2025 16:00
Konsultasi Syariah

Hukum Mencium Mushaf, Bolehkah?

4 Februari 2025 12:47
Konsultasi Syariah

Hukum Nyanyian, Bagaimana Ulama Menyikapinya?

26 Januari 2025 04:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?