Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Bisakah Pers Netral?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 April 2018 05:05 5:05 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 April 2018 07:49
Bagikan
Jurnalis israel
Bagikan

Oleh: Beggy Rizkiyansyah

 

BISAKAH pers netral? Pertanyaan itu mungkin menggelayuti benak masyarakat hingga saat ini. Kita saat ini memang dipertontonkan keberpihakan yang telanjang tanpa malu-malu dari banyak media saat ini. Musim politik semakin menyuburkan praktek keberpihakan media hingga bukan saja terkesan partisan, tapi tanpa sungkan berpolitik praktis menjadi juru propaganda dalam pilkada atau pilpres.

Fenomena ini jika ditelisik lebih jauh menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Di satu sisi pers seringkali mengklaim independen, netral atau objektif. Tetapi keberpihakan pada satu kelompok atau partai dilakukan semakin telanjang. Jika demikian, apakah pers bisa netral?

Media massa atau tepatnya perusahaan pers sesungguhnya adalah kumpulan manusia dengan jurnalis sebagai ujung tombaknya. Ketika bersentuhan dengan fakta di lapangan, ia bukanlah perekam pasif, tetapi terjadi interaksi antara dirinya dengan realitas. Para jurnalis ini tentu saja bukan robot yang tak memiliki seperangkat nilai, kepercayaan, pandangan hidup atau ideologi dalam dirinya. Malah disadari atau tidak, hal-hal tadi turut membentuk dirinya menilai sebuah realitas.

Baca Juga

Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

Fakta dilapangan kemudian dibawa ke ruang redaksi yang terdiri dari sekumpulan manusia yang memiliki nilai-nilai pula. Menurut Mark Fisherman, “News story, if they reflect anything, reflect the practice of the workers in the organizations that produce news.” (Eriyanto: 2012)

Di dalam perusahaan pers, jurnalis hidup dalam institusi media dengan seperangkat aturan dan nilai-nilai tertentu. Hal itu memungkinkan bagi sebuah media mengontrol wartawan untuk melihat peristiwa dalam kemasan tertentu. Bahkan dapat dikatakan di ruang redaksi media condong menjadi kediktatoran, dalam arti seseorang yang berada dalam komando teratas yang membuat keputusan terakhir (Bill Kovach & Tom Rosenstiel: 2004).

Baca: Kelicikan Media Massa

Eriyanto, dalam Analisis Framing (2012) menyebutkan bahwa berita yang dibentuk oleh media massa bukan berasal dari ruang yang hampa, tapi diproduksi oleh ideologi tertentu. Begitu besarnya pengaruh ideologi dalam media massa sehingga ideologi berperan menampilkan pesan dan realitas hasil konstruksi tampak seperti nyata, alami dan benar. Melalui bahasa dan kata-kata, ideologi menjelma menjadi “realitas” yang harus dipahami oleh khalayak. (Eriyanto: 2012)

News, Discourse and Ideology (2008) yang ditulis Teun A. Van Dijk dalam The Handbook of Journalism Studies, menyebutkan ideologi yang rasialis misalnya, memberikan dampak pada produksi berita. Mulai dari pemilihan sumber daya jurnalis (hiring), pemilihan sumber (beats and sources), nilai berita (news values), penempatan berita (salience), hingga pilihan kata (rhetoric).

Jika demikian maka netralitas bukanlah sifat yang dapat diberikan pada pers. Bahkan Kovach dan Rosesnstiel tidak menempatkan ketidakberatsebelahan (fairness) dan keseimbangan (balance) dalam sembilan elemen jurnalisme mereka.

Baca: Pers dan Akhlak Jurnalistik

Ketidakberatsebelahan dan keseimbangan bukanlah tujuan, tetapi metode. Keseimbangan bukanlah semacam kesan matematis pada porsi berita yang disajikan. Begitu pula ketidakberpihakan. Bukanlah soal apakah berita terkesan berat sebelah? Seharusnya ketidakberpihakan dimaknai sebagai sikap jurnalis yang berlaku adil terhadap fakta dan pemahaman warga atas fakta-fakta tersebut.  (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Satu hal yang dapat dituntut dari jurnalis adalah objektivitas. “Objektivitas Meminta wartawan mengembangkan sebuah metode untuk secara konsisten menguji informasi –pendekatan transparan menuju bukti-bukti-dengan tepat sehingga bias personal dan bias budaya tidak melemahkan akurasi kerja mereka,” demikian menurut Kovach dan Rosenstiel. (2004)

Maka objektif yang dapat dituntut bukanlah pada sosok jurnalis itu sendiri, namun metode yang dipakai oleh jurnalis untuk memperoleh berita. Metode ini merupakan pencerminan dari disiplin verifikasi informasi yang harus dilakukan setiap jurnalis.

Seperangkat konsep inti dalam disiplin verifikasi yang ditawarkan Kovach dan Rosenstiel adalah; jangan pernah menambahi sesuatu yang tidak ada, jangan pernah menipu audiens, berlakulah setransparan mungkin tentang metode dan motivasi anda; andalkan reportase anda sendiri; dan bersikaplah rendah hati. Seperangkat prinsip tersebut dapat membantu jurnalis untuk menjadi objektif. (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Objektivitas tersebut yang dapat diharapkan. Bukan netralitas atau ketidakberpihakan. Oleh sebab itu bukanlah persoalan jika jurnalis memiliki ideologi, pandangan hidup atau nilai-nilai tertentu. Meminjam kalimat jurnalis Maggie Gallagher, “Ada perbedaan antara jurnalis dengan juru propaganda. Saya mencari berita tidak untuk memanipulasi audiens saya. Saya mencari untuk mengungkap dan menyampaikan kepada mereka dunia sebagaimana saya melihatnya.” (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Seorang jurnalis Muslim sudah seharusnya memiliki Islam sebagai pandangan hidupnya dalam situasi apa pun. Termasuk ketika ia menjadi jurnalis (meliput). Pandangan hidupnya tak dapat dilepaskan dari dirinya. Nilai-nilai Islam sebagai seorang Muslim akan memandu dirinya dan menjadi kacamata dalam melihat realitas. Islam memiliki cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu. (Hamid Fahmi Zarkasyi: 2013) Di saat yang bersamaan, sebagai jurnalis, ia tetap berpijak pada fakta dan disipilin verifikasi dalam menulis berita. Termasuk berlaku adil menyikapi fakta.

Baca: “Pentingnya Kebebasan Pers, Jangan Larang Media yang Mengajak Keimanan

Adalah menggelikan jika ada yang mengatakan, ketika jurnalis sedang meliput berarti harus menanggalkan sementara identitas agamanya agar tetap independen. Tidak ada manusia yang bebas dari nilai dan pandangan hidup. Pemahaman menanggalkan agama ketika meliput justru sebenarnya adalah bentuk lain dari pandangan hidup barat moderen yang mengusung sekularisme. (Hamid Fahmi Zarkasyi: 2013)

Baik seorang jurnalis Muslim, ataupun pers Islam tak perlu ragu untuk menerapkan dan mengungkapkan pandangan hidup Islam dalam dirinya. Justru keterbukaan atas pendirian dan sikap tersebut menjadi bagian dari kejujuran dalam menulis berita yang tetap bersandar pada fakta. Persoalannya betapa banyak saat ini media atau pers yang menepuk dadanya sebagai netral dan tidak berpihak, seakan bebas nilai, padahal hal tersebut adalah mustahil.

Lebih parah lagi betapa banyak saat ini pers yang menyokong satu kelompok, figur atau partai politik, namun mendapuk dirinya tak berpihak. Kekonyolan loyalitas semacam ini adalah manipulatif. Loyalitasnya pada partai atau faksi hendak ditutupi oleh jubah dengan slogan independensi. Jurnalis dan pers ketika meliput dan memproduksi berita seharusnya loyal pada tujuan, bukan pada faksi atau partai.

Kenyataannya, di Indonesia saat ini media arus utama begitu telanjang menunjukkan keberpihakan pada kelompok, partai atau figur. Misalnya, Kelompok Media MNC jelas dimiliki oleh pendiri partai Perindo. Metro TV didirikan oleh pendiri partai Nasdem.

Fenomena menyedihkan seperti ini terus melaju semakin kencang dan massif. Namun jurnalis Muslim dan pers Islam tak perlu terseret arus yang sama. Tak perlu menceburkan diri dalam politik praktis dan partisan. Cukuplah Islam sebagai pandangan hidup yang menjadi panduan tanpa menjadi media partisan. Karena pandangan hidup yang bersemayam dalam jurnalis Muslim dan disiplin verifikasi (objektivitas) adalah dua hal yang dapat hidup berdampingan dalam diri seorang jurnalis Muslim.*

Anggota Jurnalis Islam Bersatu. Tulisan ini merupakan Program #MelekMedia dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

  

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Analisis FramingBeggy Rizkiyansyahberitajurnalismediamedia mainstreamnetralperspilkadapilprespropagandawartawan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sejarawan: Islam Perekat Hubungan Keturunan Arab-Masyarakat Indonesia
Tulisan selanjutnya Ribuan Jamaah Padati Tabligh Akbar Ustadz Abdul Somad di Unair Surabaya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Berita
13 Juli 2026 17:00
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?