Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Menyoal Kunjungan Elit Indonesia ke Israel

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Juli 2018 12:55 12:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Juli 2018 12:55
Bagikan
Yahya C Staquf bersalaman dengan PM Israel, Benyamin Netanyahu
Bagikan

Oleh: Teuku Zulkhairi

 

 

SEBENARNYA hingga sejauh ini sudah cukup banyak tokoh-tokoh di negeri muslim “merapat” ke Israel. Tidak sedikit elit-elit dunia Islam yang diundang atau mengunjungi negeri zionis itu. Dan yang terbaru, seperti kita ketahui adalah kunjungan dari tokoh Indonesia, Yahya Cholil Staquf yang kebetulan saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.  Di Timur Tengah sendiri, sudah bukan rahasia lagi banyak elit negara-negara Arab yang menjalin hubungan terang-terangan atau dalam sunyi dengan Israel, seperti para elit di UEA, Mesir dan lain-lain.

Di Mesir, setelah As-Sisi mengkudeta Muhammad Mursi, presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis, lalu setelah itu kita menyaksikan video-video kunjungan menterinya As-Sisi ke Israel. Pada titik ini, maka janganlah heran jika sampai saat ini Palestina masih terjajah. Sebab, kiri, kanan, depan dan belakang Palestina, mereka adalah kawannya Israel. Mereka lebih nyaman mendukung Israel, atau setidaknya diam atas apa yang Israel lakukan ketimbang menentang.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Merapat ke Israel berarti merapat ke Amerika Serikat sebagai “penguasa” dunia saat ini. Merapat ke Israel berarti akan meraih “syurga dunia”. Sementara itu, mendukung Palestina maka akan beresiko dimusuhi, diperangi, dikucilkan atau dikriminalisasi. Itu berat, kecuali bagi orang-orang mukmin. Ada semacam kepercayaan di tengah para para pembesar dunia Islam, bahwa jika ingin mendapatkan “kekuasaan dunia”, maka mesti menjadi jongos Israel. Ini misalnya yang dilakukan As-Sisi di Mesir, seperti dijelaskan di awal.  Jika tidak mau menjadi jongos mereka, maka pemerintahannya akan dikudeta oleh pion-pionnya, seperti yang menimpa pemerintahan Erdogan di Turki. Meski alhamdulillah, kudeta terakhir ini berhasil digagalkan rakyat Turki dengan izin Allah.

Lalu bagaimana dengan kunjungan salah satu tokoh muslim Indonesia ke Israel beberapa waktu lalu? Bagaimana kita melihat persoalan ini secara kritis? Sebab, para pendiri bangsa Indonesia telah sangat jelas menempatkan posisi Indonesia dalam isu Palestina, yaitu menentang penjajahan Israel. Artinya, sampai saat ini Indonesia masih memandang Israel sebagai penjajah. Jadi, beramah-tamah dengan Israel berarti berteman dengan penjajah bukan?

Pertama, mari kita lihat respon Yahudi yang ditunjukkan langsung oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu melalui cuitan akun Twitternya. Sembari mengupload foto-foto bersama Yahya Cholil Staquf, Netanyahu menulis “I’am Very Happy” (saya sangat senang). Jadi, sebagai pimpinan Yahudi Israel, Netanyahu jelas sangat senang atas kunjungan tersebut.

Kedua, mari kita lihat respon umat Islam di Palestina dan Indonesia. Di Palestina, sikap kontra telah ditunjukkan oleh dua faksi utama, HAMAS dan Fatah. Keduanya mengecam kunjungan tersebut via website mereka, karena kunjungan tersebut dianggap gagal memahami apa yang sedang dihadapi umat Islam di Palestina berupa penjajahan yang semakin tak berperikemanusiaan.

Baca: Wawancara Rabi David Rosen dengan Yahya C Staquf

Sementara di Indonesia, kunjungan tokoh tersebut, praktis telah menimbulkan kontra muslim Indonesia karena posisi yang bersangkutan sebagai elit pemerintahan yang sedang berkuasa. Dari para politisi sampai rakyat biasa mengkritisi kunjungan tersebut. Para ulama juga ikut mengecam. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menegaskan kunjungan tersebut tidak mewakili organisasi ulama tersebut. Dan pemerintah juga telah menegaskan, kunjungan tersebut adalah inisiatif pribadi, bukan mewakili pemerintah.

Kendati pun demikian, kita memang cukup prihatin karena efek perpecahan ummat yang ditimbulkan. Dan cukup prihatin karena seharusnya muslim Indonesia kompak mendukung kemerdekaan Palestina sesuai amanat pendiri bangsa ini. Di sini kita melihat, bahwa kita punya banyak pekerjaan rumah untuk memperkuat pemahaman muslim Indonesia, bahwa rakyat biasa, maupun tokohnya, bahwa kita perlu konsisten bersikap tegas kepada Israel hingga mereka mengakhiri penjajahannya di bumi Palestina.

Juga penting untuk kita melihat kembali penjelasan Islam tentang watak Yahudi. Sehingga kita tidak seperti pungguk merindukan bulan. Berharap bisa berteman dengan Israel, tapi mereka sedang menyiapkan belati di balik meja pedamaian.  Kita berbusa-busa berbicara Islam itu rahmat di depan mereka, tentang konsep kasih sayang dalam Islam, tapi gagal memahami penjelasan Islam tentang watak dan karakter Yahudi yang juga dijelaskan dalam Islam.

Akibatnya, kita gagal mengejawantahkan pesan Islam untuk, “Keras kepada kaum kuffar dan lemah lembut kepada sesama muslim” (baca QS.Al-Fath: 29). Kondisi ini justru mengakibatkan tidak jarang banyak yang lebih keras kepada sesama muslim.  Jadi, adalah penting untuk memahami karakter Yahudi, sehingga, sekali lagi, jangan sampai kita seperti pungguk merindukan bulan. Kita berharap bisa mendakwahi Yahudi dengan konsep Rahmah (kasih sayang) dalam Islam, tapi setelah itu yang kita saksikan adalah semakin menggilanya penjajahan Yahudi di bumi Palestina.

Baca: KH Ma’ruf Amin: Kita Tidak Mendukung Yahya Staquf Kunjungi Israel

Millah Yahudi

Betul kita perlu mendakwahi siapapun, termasuk Yahudi, itu juga perintah Islam, tapi jangan melupakan karakter dasar mereka dan apa yang sedang mereka perbuat untuk umat Islam di Palestina.  Di antara penjelasan Al-Quran yaitu, “Dan sekali-kali Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha (senang) kepada kamu sehingga kamu mengikuti millaj mereka” [al-Baqarah: 120]”. Ayat ini adalah penegasan Islam tentang watak Yahudi, bahwa Yahudi tidak akan pernah senang kepada kita (umat Islam/pengikut Nabi Muhammad Saw)  Dan mereka baru akan senang jika kita mengikuti ‘millah’ mereka.  Tentulah tidak kita meragukan penjelasan Alquran ini, bukan? Dari berbagai literatur diterangkan, Millah Yahudi itu baik kategori budaya, agama, pola atau cara berfikir (wordview), kebijakan-kebijakan dan seterusnya. Jadi bukan hanya agama.

Dari keterangan Alquran ini seharusnya kita bisa memahami berbagai fenomena dunia saat ini sehingga kita bisa melihat garis demarkasi yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Bahwa jika Yahudi senang kepada kita, itu karena kita telah terperangkap dalam millah mereka. Kalau tidak, maka tidak mungkin mereka akan senang. Itu cara mudah untuk berfikir. Kalau kita mengadakan pertemuan dengan Yahudi lalu mereka senang kepada kita, itu artinya besar kemungkinan kita telah terperangkap dalam millah mereka.

Begitu juga sebaliknya, jika Yahudi tidak senang kepada seseorang atau sekelompok orang, maka itu artinya orang tersebut jauh dari millah Yahudi. Dan jauh dari millah Yahudi itu pertanda konsisten dalam Islam. Jika hari ini kita melihat sejumlah umat Islam sangat tidak disukai Yahudi, maka itu artinya mereka sedang berada di atas jalan Islam.

Lalu bagaimana dengan kunjungan tokoh muslim Indonesia di atas? Kunjungan ini, pada faktanya telah membuat Benjamin Netanyahu (bos Yahudi) sangat senang seperti dituliskannya dalam akun twitternya.  Kita tidak perlu menyimpulkan kunjungan tokoh tersebut ke Israel telah terperangkap dalam agenda Yahudi. Karena Allah Subhanahu Wata’ala Maha Penerima Taubat. Namun yang pasti, kita harus selalu meyakini kebenaran Al-Quran, bahwa Yahudi tidak akan pernah senang kepada kita (umat Islam) sebelum kita ikuti millah mereka. Apalagi, cukup banyak ayat-ayat Alquran yang lain yang menegaskan watak dan karakter Yahudi.

Oleh sebab itu, marilah kita terus berdoa agar istiqamah di jalan Islam, meskipun seperti kita mengenggam bara api di lautan. Berat untuk berdiri pada posisi Islam, tapi balasan yang Allah janjikan sangat besar kelak di hari akhirat. Marilah kita berdo’a agar Allah Subhanahu Wata’ala memperlihatkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran, dan kebatilan sebagai kebatilan. Agar kita tidak tertipu melihat kebatilan sebagai kebenaran. Wallahu a’lam bishshawab.*

Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Alumnus Dayah Babussalam Matangkuli Aceh Utara

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baitul MaqdisBenjamin NetanyahuindonesiaisraeljerusalempalestinaYahya C StaqufYerusalem
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya KJRI Jeddah Sewa Pengacara untuk Ungkap Pembunuh WNI
Tulisan selanjutnya Najib Razak Hadapi Tuduhan Berlapis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?