Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Begini Seharusnya Memposisikan Islam dan Negara secara Benar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Agustus 2018 11:05 11:05 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Agustus 2018 11:05
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—  Pernyataan seorang muslim mustahil menjadi warga negara yang baik jika belum bisa mengamalkan syariat secara utuh dan seorang negarawan yang taat, haruslah mau mengedepankan aturan negara daripada aturan tuhan dinilai sama-sama memiliki pandangan yang keliru.

“Dalam pandangan Ahlus Sunnah, dimana saja kita hidup (di negara manapun) kita masih bisa hidup dengan ajaran dari Rasulullah Muhammad ﷺ. Apalagi di Negara Indonesia yang lahirnya akibat perjuangan dari para ulama dan santri. Maka keislaman dan kebangsaan di Indonesia bukanlah hal yang perlu lagi dipertetangkan hari ini,” demikian dinyatakan Ustad Kholili Hasib M.Ud sebagai pembicara utama dalam Kajian Khusus Bedah Buku: Keislaman dan Kebangsaan,  Ahad, 26 Agustus 2018 yang diselenggarakan  Ikatan Santri Alumni Aqdamul Ulama (IKASA) dan Aswaja Pandaan.

Menurutnya, banyak orang gagal paham mengenai hubungan agama dan Negara (NKRI) di Indonesia ahir-ahir ini.

Baca: Islam dan Negara, Senyawa yang Tak Terpisahkan

Pada hakikatnya, Islam hadir telebih dahulu daripada kedaulatan negara (NKRI) kita. Dalam sejarah pendidikan Indonesia, kita lebih mengenal lembaga pesantren  lebih dulu ada dibandingkan adanya sekolah umum.

“Islam lebih melekat dengan masyarakat daripada negara itu sendiri karena memang lahirnya kemerdekaan didahului dengan datangnya Islam. Namun hari ini ada upaya dengan sistematik dan untuk  mempertentangkan Islam dan bangsa ini,” ujar pria yang akrab disapa Gus Kholili ini.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Indonesia dijajah oleh Belanda 350 tahun. Padahal, sebelum itu, bangsa Indonesia hidup dalam satu kesatuan. Hanya saja kedatangan para penjajah disertai dengan membawa penyebaran Kristen.

Politik divide et empera merekalah yang kini membuat negara menjadi terpecah dan tersekat-sekat, ujar pria yang juga peneliti di Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS)-Surabaya ini.

Ia mengutip pernyataan Imam al Ghazali yang mengatakan bahwa agama dan negara adalah ‘saudara kembar’. Maka menegakkan Islam harus juga dengan melalui negara. Namun Negara sebagai alat, ia bukanlah menjadi hal utama apalagi mengalahkan Islam.

“Oleh karena itu mestinya para ulama dan cendekiawan Muslim kita mengerti benar tentang dasar negara, beliau – beliau tidak lantas mengklaim diri sebagai orang yang paling Pancasilais, karena memang bentuk negara adalah perkara furu’.”

Gus Kholili juga mengatakan bahwa umat Islam hendaknya waspada atas beberapa hal yang membuat gagal paham antara keislaman dan kebangsaan ini.

Diantara beberapa bentuk gagal paham adalah:

Pertama, harus waspadai dengan jargon “Mengindonesiakan Islam” karena Istilah tersebut memiliki arti untuk mengubah Islam menjadi “Indonesia”.  Padahal Islam yang universal lagi luas, kemudian akan dipersempit dan akan menimbulkan kesalah pahaman terhadap Islam.

Baca: Islam, Antara Agama dan Negara 

Kedua,  sebenarnya saat ini Indonesia sudah banyak menganut kebudayaan dan peradaban Barat. Pendidikan, ekonomi, dan lain-lain bahkan di Universitas Islam mengikut metodologi Barat. Sehingga, ‘mengindonesiakan Islam’ sama saja menjadi Islam setengah western (Barat). Dimana ideologi seperti liberalisme dan pluralisme dari Barat terus dipaksakan masuk kedalam Islam.

Ketiga, Indonesia merupakan nama negara sedangkan Islam nama agama wahyu dari Allah . Sebagai sebuah negara, ia berdiri atas kesepakatan (konsensus). Sedangan Islam lahir dari wahyu Allah. Oleh karena itu, sebuah kesepakatan manusia itu berubah sedangkan sebuah wahyu mustahil untuk diubah. Contohnya UUD 1945, sebagai dasar Negara Indonesia dapat diubah pasal-pasalnya melalui amandemen. Namun merubah rukun Islam tidaklah mungkin. Maka salah jika menempatkan perihal yang relative di atas yang absolut.

Acara yang dipandu Ustad Muhammad Saad S.pdi ini  dimulai jam 19:00 – 20:00 WIB dihadiri puluhan santri*/kiriman Rizal Abduh

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agamabangsaislamkonsensusNegarawahyu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gempa >19 Kali di Kupang NTT, Terbesar 6,2 SR
Tulisan selanjutnya Setiap Tahun 250 Ribu Orang Mati karena Senjata Api

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?