Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Sikap Pemimpin Terhadap Jabatan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Maret 2019 08:50 8:50 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Maret 2019 09:00
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

PADA dasarnya, jabatan adalah bagian dari ujian. Maka tidak mengherankan jika pada beberapa generasi salaf (di masa lalu), para pemimpin ketika menerima jabatan justru yang diucapkan adalah kalimat ‘istirja’ (inna lillahi wainna ilaihi raji’un) sebagai gambaran bahwa mereka tidak gila jabatan dan memposisikannya sebagai amanah yang besar. Contoh dari Abu Ubaidah bin Jarrah dan Khalid bin Walid berikut bisa dijadikan teladan bagaimana pemimpin menyikapi jabatan.

Pada tahun 13 H, Abu Ubaidah bin al-Jarrah Ra. menghadapi posisi pelik. Pasalnya, ada dua peristiwa besar yang membuatnya terkejut: Pertama, berita wafatnya Abu Bakar Ra. Kedua, diberi amanah mengganti kepemimpinan Khalid bin Walid Ra. Dengan akhlak mulia, kedua peristiwa besar itu bisa disikapi dengan baik dan sarat pelajaran apik.

Beliau tidak terburu-buru menyiarkan kematian Khalifah Abu Bakar Ra, agar mental kaum Muslimin tidak lekas jatuh. Demikian juga tak tergesah-gesah memberitahukan pencopotan Khalid Ra, karena dirasa masih layak dan mumpuni untuk menjalankannya, serta menjaga perasaannya. Intinya, ia menunggu sampai kondisi tenang dan pas.

Menariknya, ketika Khalid Ra. pada akhirnya tahu berita pencopotan dirinya, ia pun merespon, “Wahai Abu Ubaidah! Semoga Allah mengampunimu. Telah datang mandat pergantian jabatan dari Amirul Mu`minin, tapi kamu tidak mengabarkannya padaku. Engkau shalat di belakangku, padahal kekuasaan sudah digantikan padamu.” (Tarikh Dimasq, Ibnu Asakir).

Khalid Ra. menunjukkan kelasnya. Ia lulus dari ujian ‘kezuhudan jabatan’. Sahabat yang dikenal dengan julukan Pedang Allah itu tidak bertanya: “Mengapa Umar menggantiku. Padahal aku masih layak memegangnya?” tapi justru mempertanyakan, kenapa Abu Ubaidah Ra. tidak segera memberitahukan amanah bisar yang telah dimandatkan padanya.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Yang membuatnya kecewa bukan pergantian jabatan, tapi amanah yang tak segera disampaikan.

Respon sahabat yang berjuluk Āmīn Hādzihi al-Ummah (Kepercayaan Umat Ini) tidak kalah menarik, ia menjelaskan bahwa sikap demikian dipilih agar tidak merusak barisan kaum Muslimin, dan menunggu sampai kondisi stabil. Ia pun menandaskan, “Bukan kekuasaan dunia yang aku inginkan. Bukan karena dunia aku beramal. Kita tidak lain hanyalah saudara yang (sedang) menegakkan perintah Allah” (Muhammad Shallabi, Sīrah `Umar, 421).

Sikap Khalid bin Walid beserta Abu Ubaidah bin Jarrah tehadap jabatan, benar-benar bisa menjadi cermin bagi pemimpin-pemimpin teladan negeri ini. Paling tidak ada beberapa pelajaran penting –dari kedua pemimpin agung ini- yang perlu diuraikan di sini agar bisa diteladani oleh para pemimpin: Pertama, cara pandang keduanya mengenai jabatan. Kedua, respon keduanya mengenai peralihan jabatan.

Bagi keduanya, jabatan bukan tujuan tapi amanah yang harus diemban. Bilamana sewaktu-waktu jabatan harus dicabut karena ada alasan yang tepat, maka dengan lapang dada ikhlas menanggalkan jabatan. Dengan pandangan seperti ini, mereka tidak akan dikuasai jabatan. Keduanya mengatasi jabatan, bukan diatasi jabatan.

Karena sejak awal pandangan mereka mengenai jabatan bukan sebagai tujuan, tapi hanya amanah yang diemban, maka ketika ada kemaslahatan yang lebih besar mereka rela diganti, dan menyerahkan jabatan. Khalid Ra. menerima pencopotan jabatan, dan kembali menjadi prajurit biasa. Bahkan uniknya, wafatnya Panglima Agung tersebut kelak adalah terbaring sakit di ranjang. Ia menaati perintah pimpinan. Hasan bin Ali pun Ra. dengan lapang dada menyerahkan kekuasaannya pada Mu`awiyah bin Abi Sufyan Ra. demi keamanan dan ketentraman rakyat.

Dalam negeri ini pun ada beberapa contoh menarik bagaimana pememimpin merespon jabatan, yang patut diteladani bagi siapa saja yang menjadi pemimpin.

Ketika Pak Syafruddin Prawiranegara (Presiden RI saat Soekarno-Hatta dan Yogyakarta dilumpuhkan) ditanya oleh Dr. Abdullah Hehamahua (mantan ketua HMI era akhir 70-an) mengenai jabatan presiden yang dikembalikan lagi kepada Soekarno-Hatta, maka dengan senyum beliau menjawab: “Nak Abdullah, Masyumi itu Partai Islam dan Mengedepankan Akhlak Islam. Saya hanya diberi mandat dan amanah ini saya kembalikan,” (Masyumi, Kekuasaan, dan “Orang Kita”, Rizki Lesus, JIB). Lihat bagaimana dengan sangat ringannya beliau mengembalikan jabatan.

Hamka pun dengan sangat ringan mengundurkan diri dari jabatan Ketua MUI gara-gara dikecam oleh Mentri Agama Alamsya (23 April 1981), mengenai terbitnya fatwa: Keharaman mengikuti Perayaan Natal bagi umat Islam. Bagi beliau, daripada akidah tergerus, lebih baik jabatan putus (Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof.Dr. Hamka, 193-196). Mereka adalah orang-orang yang tidak gila jabatan, tapi ketika diberi amanah mengemban jabatan, tak akan disia-siakan.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amanahJabatanpemimpinpenguasaSahabat Nabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya IPM Nilai Pemerintah Gagal dalam Pengendalian Tembakau
Tulisan selanjutnya Yahudi Ethiopia: Perdana Menteri ‘Israel’ ‘Rasis’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?