Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Pantun Malaysia di Panggung Nusantara

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 2 Maret 2014 09:31 9:31 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 2 Maret 2014 09:29
Bagikan
Bagikan

RIBUAN orang berjubel di kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Dari atas tribun, mereka menyaksikan sebuah penampilan di arena segi empat Istana Olahraga (Istora). Sorak-sorai memenuhi segenap penjuru gedung. Yang tampil adalah duta dari negeri jiran.

Siang jelang petang itu, seorang pria Malaysia berdiri gagah di depan 5000-an pasang mata. Di tangan kanannya tergenggam erat tongkat kecil. Di tangan kirinya, menyembul secarik kertas putih.

“Reaksi yang pertama bagi saya ialah melafazkan syukur Alhamdulillah. Kesyukuran yang tidak ada tandingnya,” ujar pria tersebut yang tak lain adalah YBhg Tan Sri DR Rais Yatim, Penasihat Perdana Menteri Malaysia.

Rais Yatim bertandang ke Indonesia upaya menghadiri pembukaan 13th Islamic Book Fair (IBF) 2014/1435 di Istora Senayan pada Jumat, 28 Rabiul Akhir (28/2/2014) lalu. Dia berduet dengan istrinya, Tan Sri Makna, yang sama-sama ber-“kostum” kuning keemasan.

Dalam sambutannya di atas panggung utama IBF 2014, Rais Yatim menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas IBF. Dia memuji pameran buku Islam ini sebagai pencapaian yang harus digaungkan ke dunia.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

“Untuk itu kita katakan ‘Alhamdulillah’ kepada umat yang ada di Indonesia dan Nusantara,” ujarnya disambut sorakan apresiasi oleh ribuan hadirin pengunjung IBF.

Dengan alat pengeras suara, Rais Yatim lantas membawakan dua pantun dalam sambutannya. Lewat pantun pertamanya, dia menanyakan kabar rakyat Indonesia.

“Di depan tikar sebelah sana, disimpan tilam sebelah-sebelah. Apa kabar saudara-saudari semua? Semoga dalam peliharaan Allah,” lantunnya dengan logat Melayu yang diaminkan para hadirin.

Pada kesempatan itu, Rais Yatim menyampaikan pesan-pesan persatuan Indonesia-Malaysia. Katanya, buku merupakan perantara dan penyambung lidah perjuangan antar-kedua negara serumpun itu.

“Dan perjuangan yang saya maksudkan ialah perjuangan seagama. Satu perjuangan yang paling tinggi, yang martabatnya tidak dapat disaingi perjuangan-perjuangan yang lain,” jelasnya di depan awak Hidayatullah.com, para wartawan, dan puluhan tokoh agama dan negara.

Dengan buku, menurutnya, dapat menyingkirkan perbedaan-perbedaan yang ada. Juga dapat menanamkan kebajikan dalam sanubari setiap insan.

Rais Yatim juga mengucapkan tahniah, selamat kepada panitia IBF dan para pemimpin Indonesia. Atas nama dirinya, istrinya, dan wakil dari kedutaan Malaysia, Rais mengaku berutang budi akan undangan pada acara tersebut.

“Untuk itu sekiranya nanti dilakukan pula Book Fair atau pesta buku di Kuala Lumpur, sekalian yang hadir, ayolah kita sebrangi Selat Malaka, bersama kita di Kuala Lumpur pula,” ujar Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia ini disambut apresiasi hadirin.

Rais Yatim pun mengaku sangat terkesiap dengan pelantunan ayat al-Qur’an surat al-Alaq ayat 1-5 di awal acara tersebut.

“Di majelis yang sangat permai ini, setinggi-tinggi tahniah gerangan mengingatkan kita kepada ayat ‘Iqra’ bismirobbikalladzi kholaq’ tadi. Sayu hati kami, sayu hati kita mendengarkan,” ujarnya.

Duet Batik di IBF

Duet JK-Rais Yatim di IBF2014

(Duet Rais Yatim - JK di panggung utama pembukaan IBF 2014)

Di akhir sambutannya, Rais Yatim mengungkapkan utang budinya kepada Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia HM Jusuf Kalla (JK) serta para hadirin.

“Kerana mengizinkan buku kecil pantun saya mendapat tempat sedikit dalam satu majelis yang begini permai dan hebat. Buku (berjudul) Pantun & Bahasa Indah, Jendela Budaya Melayu itu membawa kita ke Bukit Siguntang. Membawa kita kepada drama Korea,” ujarnya dengan bahasa puitis.

“Dan dengan itu, apa-apa kata yang tertulis di dalamnya, saya pohon maaf kalau tidak menepati cita rasa kita. Ada serangkap yang seharusnya saya katakan pada petang ini,” lanjutnya.

Serangkap yang dimaksud adalah pantun lainnya yang saat itu akan dia bawakan kembali. Melalui pantun keduanya, dia meminta maaf jika ada kesalahan selama berada di Indonesia.

“Kalau berdentum di Gunung Daik, itulah tanda orang memurun, berhukumlah kita anak beranak. Kalau tersinggung semakin naik, atau tersentuh semakin turun, berilah ampun banyak-banyak,” lantunnya menutup sambutannya.

Jelang akhir pembukaan IBF 2014, giliran JK menyampaikan sambutan. Usai sambutan itu, Rais kembali naik ke panggung membawakan pantunnya ditemani JK. “Sebagai isyarat cantuman persahabatan,” demikian alasan Rais akan tujuannya berpantun.

“Terang bulan kapal berlayar, kilatnya sampai ke tanjung. Berjuang tak minta dibayar, berkhidmat tak minta disanjung,” lantun Rais, lalu meminta JK membacakan pantun lain dalam bukunya.

JK memulai baris pertama. “Pokok rancak di ujung dahan,” lantunya dengan logat asli Makassar.

Belum tuntas membacanya, tahu-tahu mantan Wakil Presiden RI ini nyeletuk, “Kalau bahasa Indonesianya ‘pohon’, bukan ‘pokok’ ya.

Kontan saja para hadirin termasuk Rais Yatim tertawa mendengarnya. JK lanjut membacakan pantun.

“Hilang terbang ke pengkalan. Tepat di ujung jalan, pulanglah ke pangkal jalan…“

Usai berpantun ria, JK dan Rais Yatim berjabat tangan. Kedua sahabat lama ini tampak akrab di depan sorotan “supporter” Indonesia-Malaysia.

Sekilas, senyuman keduanya ada kesamaan. Selain sama-sama berkacamata, dan sama-sama berkemeja. JK dengan kemeja khas Indonesia, Rais dengan kemeja khas Malaysia. Kedua kemeja itu sama-sama bermotif batik.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pria Bersenjata Bunuh Polisi Pengawal Hakim Kasus Mursy
Tulisan selanjutnya Israel kebangetan, tembak perempuan penderita gangguan jiwa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah

Berita
20 Juli 2026 12:51
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?