Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Tradisi Ulama di Bulan Ramadhan: Bertumpu Pada Tongkat Saat Shalat

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 3 Mei 2020 02:34 2:34 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 3 Mei 2020 15:07
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

Hidayatullah.com | QIYAM Ramadhan adalah amalan yang juga mendapatkan prioritas. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan.

Rasulullah ﷺ memanjangkan qiyam Ramadhan di malam harinya daripada malam-malam lainnya. Dikisahkan oleh Hudzaifah yang pernah melaksanakan shalat bersama beliau pada malam Ramadhan. Katanya, “Maka Rasulullah ﷺ membaca al-Baqarah, lalu an-Nisa`, lalu Ali ‘Imran. Tidaklah ia membaca ayat-ayat ancaman kecuali berhenti dan berdoa.” (Riwayat Ahmad).

Di masa Sahabat, anjuran untuk melaksanakan qiyam Ramadhan pun digalakkan. Saat itu, Umar bin Khaththab RA selaku khalifah, menugaskan Ubai bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari untuk menjadi imam bagi masyarakat dalam qiyam Ramadhan.

Pada waktu itu, imam membaca dua ratus ayat dalam satu rakaat, hingga jamaah bertumpu kepada tongkat disebabkan karena lamanya. Mereka tidak selesai shalat kecuali ketika fajar datang.

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa pada waktu itu mereka mengikatkan tali-temali di pagar-pagar dan berpegangan kepada tali tersebut.

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Umar mengumpulkan tiga qari`. Ia memerintahkan qari` yang paling cepat membaca tiga puluh ayat ketika mengimami shalat, sedangkan yang pertengahan membaca dua puluh lima ayat, adapun yang paling lambat membaca dua puluh ayat, dalam setiap rakaatnya. (Lathaif al-Ma’arif, hal 316).

Minimal Sepuluh Ayat al-Baqarah Tiap Rakaat

Di masa tabi’in, dalam qiyam Ramadhan dibaca Surat al-Baqarah untuk delapan rakaat. Jika dibaca dalam dua belas rakaat, maka menurut mereka hal itu telah meringankan.

Begitu besar nilai ibadah dalam qiyam Ramadhan sehingga para ulama tidak rela jika terlalu sedikit dalam membaca al-Qur`an saat shalat.

Imam Ishaq bin Rahawaih suatu saat ditanya, “Berapa ayat yang dibaca saat qiyam Ramadhan?” Ia tidak memberi kelonggaran di bawah sepuluh ayat di tiap rakaatnya.

Penanya pun menjawab, “Mereka menolak hal itu.”

Ishaq pun berkata, “Tidak, mereka ridha. Dan janganlah engkau mengimami mereka jika mereka tidak ridha dengan sepuluh ayat dari al-Baqarah. Kemudian jika kalian membaca ayat-ayat pendek, maka bacalah dengan kadar sepuluh ayat dari al-Baqarah dalam tiap rakaat. Demikian pula Imam Malik, ia menyatakan makruh jika membaca di bawah sepuluh ayat.” (Lathaif al-Ma’arif, hal 316).

Kalangan ulama salafush-shaleh amat bersungguh-sungguh dalam melaksanakan qiyam Ramadhan. Hal ini tergambar dalam pernyataan Ibnu Rajab sebagai berikut:

“Kaum salaf membaca al-Qur`an di bulan Rumadhan, baik saat melakukan qiyam maupun di luarnya. Al-Aswad mengkhatamkan al-Qur`an dalam setiap dua malam di bulan Ramadhan. An-Nakha’i melakukan hal yang sama ketika di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sedangkan di luar Ramadhan, ia mengkhatamkannya tiap dua hari. Pada hari biasa, Qatadah mengkhatamkan al-Qur`an setiap tujuh hari, jika Ramadhan mengkhatamkan tiap tiga hari. Sedangkan di sepuluh hari terakhir khatam setiap malam. Sedangkan Imam asy-Syafi’i mengkhatamkan bacaan al-Qur`an di Ramadhan sebanyak enam puluh kali. Diriwayatkan dari Abu Hanifah hal yang sama. Sedangkan az-Zuhri jika tiba bulan Ramadhan menyampaikan, ‘Ia adalah (bulan) tilawah al-Qur`an dan memberi makan.’” (Lathaif al-Ma’arif, hal 318).

Kita juga bisa belajar dari Said bin Jubair dalam qiyam. Hal ini dikisahkan oleh Ismail bin Abdul Malik, “Said bin Jubair mengimami kami saat Ramadhan. Pada malam tertentu ia membaca al-Qur`an dengan qira’ah Ibnu Mas’ud dan di malam lainnya ia membaca dengan qira`ah Zaid bin Tsabit, demikian dicatat dalam A’lam al-Akhyar fi Thabaqat Fuqaha Madzhab an-Nu’man al-Mukhtar.” (Iqamah al-Hujjah, hal 71).

Imam Asy-Syafi’i (204 H) dalam bulan Ramadhan biasa mengkhatamkan al-Qur`an dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat. Dengan demikian dalam bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan al-Qur`an enam puluh kali. (Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat, 1/45).

Menyesuaikan Kondisi Makmum

Begitulah kebiasaan para ulama salaf dalam melaksanakan qiyam Ramadhan. Ketika mengimami shalat, bacaan ayatnya selalu banyak.

Namun di masa-masa setelah itu, semangat yang dimiliki umat Islam dalam melaksanakan ibadah tentunya berbeda dengan generasi awal. Sehingga lamanya bacaan qiyam Ramadhan di masa-masa sesudahnya menyesuaikan dengan kemampuan dan kondisi makmum.

Imam Ahmad menjelaskan riwayat mengapa Umar bin Khaththab menyebutkan mengenai bacaan cepat dan lambat. Menurutnya, ada keberatan pada manusia, lebih-lebih seperti di malam-malam pendek. Perkara ini disesuaikan dengan kemampuan manusia.

Imam Ahmad pernah menyarankan kepada sebagian muridnya yang menjadi imam di saat qiyam Ramadhan, “Mereka adalah kaum yang lemah. Bacalah lima ayat, enam, atau tujuh (dalam satu rakaat).”

Murid imam Ahmad kemudian berkata, “Maka aku membaca (sesuai dengan arahan Imam Ahmad). Aku mengkhatamkan al-Qur`an pada malam dua puluh tujuh.”

Dari perkataan Imam Ahmad tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa banyak sedikitnya ayat yang dibaca saat qiyam Ramadhan menyesuaikan dengan kemampuan manusia atau makmum. Hal itu juga merupakan pendapat fuqaha pengikut Imam Abu Hanifah. (Lathaif al-Ma’arif, hal 317).* Thoriq

===============

*Tulisan Tradisi Ulama di Bulan Ramadhan adalah tulisan berseri hidayatullah.com yang pernah dimuat di rubrik Ihwal Majalah Suara Hidayatullah edisi Juni tahun 2017. Tulisan ini merangkum bagaimana orang-orang shaleh dari generasi awal bersungguh-sungguh dalam melakukan sunnah Nabi ﷺ. Amalan itu antara lain tilawah al-Qur`an, qiyam, serta sedekah.

Nah, bagaimana generasi salafush-shaleh melaksanakan tiga amalan itu? Seri tulisan ini akan menggambarkan jerih payah orang-orang pilihan guna menyerap energi ruhani secara maksimal di bulan Ramadhan. Ikuti terus seri tulisan ini dan selamat membaca!

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al Qur’aninfakRamadhansalafshadaqahtarawihTradisi Ulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kematian Tunangan Yang Menuntun Pada Islam
Tulisan selanjutnya Inilah Metode Belajar yang Benar Menurut Ibnu Khaldun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?