Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Mengapa Kita Butuh Petunjuk?

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 15 Juli 2020 11:18 11:18 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 15 Juli 2020 11:18
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Faruq

 

Hidayatullah.com | TAHUN 1974, Marina Abramovich, seorang wanita asal Yugoslavia menggelar menggelar pertunjukan seni yang ia beri nama “Rhythm 0”, sebuah pertunjukan atas nama seni yang ‘gila’. Sang seniman berdiri mematung di sebuah ruangan.

Di hadapannya, sebuah meja diletakkan dengan berbagai macam benda di atasnya. Mulai dari mawar, makanan, silet hingga pistol beserta pelurunya. Konsepnya, selama 6 jam ia mematung, siapapun boleh melakukan apapun terhadap dirinya, layaknya benda mati.

Pada awalnya, pertunjukan seni ini berjalan biasa-biasa saja. Penonton yang hadir ada yang memberinya mawar, makanan dan sebagainya. Namun, semakin lama, saat para penonton menyadari mereka bisa melakukan apa saja, hal-hal gila pun mulai terjadi.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Ada yang menyileti leher Marina, ada yang menyiraminya air, ada yang merobek bajunya ,melakukan pelecehan seksual, memindahkan tubuhnya hingga mencoret-coretnya dengan spidol. Walau sempat menangis dalam pertunjukan tersebut karena rasa sakit atas luka-lukanya, ia tetap bertahan.

Namun, semakin lama penonton semakin kehilangan akal. Keributan sempat terjadi di antara penonton karena ada yang berniat menembaknya dengan pistol. Untung saja, aksi tersebut digagalkan oleh penonton lainnya yang segera mengambil pistol tersebut dan membuangnya.

Nafsu Manusia

Walaupun pertunjukan ini ide yang ‘aneh’, tapi ia semakin memberi bukti betapa manusia memiliki dorongan jahat. Bayangkan jika manusia memiliki kuasa atas segala sesuatu, tak ada benar dan salah, semua berhak bertindak atas kemauannya, maka betapa kacaunya dunia ini.

Hal ini sejalan dengan al Qur’an. Bahwa, walaupun manusia diciptakan sebaik-baik bentuk (QS: At-Tin ayat 4), kita juga memiliki potensi berbuat jahat. Hal ini tercantum dalam al-Qur’an surah Yusuf ayat 53. Maknanya “….sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan..”.

Syeikh Wahbah az-Zuhaili dalam mengomentari ayat ini menulis bahwa nafsu sering sekali memerintahkan pemiliknya untuk berbuat kejelekan. Yakni perbuatan keji daan segala dosa. Sesungguhnya jiwa merupakan kendaraan tunggangan setan. Dari situlah setan menyusup kepada manusia.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki jiwa yang senantiasa menuntut dipuaskan dengan kejelekan. Baik itu berupa melakukan maksiat, dzolim terhadap diri sendiriatau orang lain. Pemenuhan atas ‘sisi gelap’ inilah yang menjadikan manusia rakus dan melakukan apa saja demi mencapai keinginannya.

Akan tetapi, potongan ayat selanjutnya memberi harapan baru. Kalimat tersebut berbunyi “…kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku (Allah SWT)..’’. Artinya, nafsu jahat tersebut bisa dikendalikan dengan rahmat Allah SWT. Pertanyaannya, bagaimana agar nafsu kita mendapat rahmat Allah SWT?.

Al-Qur’an Sebagai Petunjuk

Sebenarnya, ada banyak ayat al-Qur’an yang menyebut bagaimana agar kita mendapat rahmat-Nya. Namun, menurut kami, ayat-ayat tersebut terwakili oleh ayat ke 132 surah Ali Imran berikut ini yang artinya “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.”

Dengan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, manusia akan dibimbing ke jalan yang benar. Bimbingan tersebut telah sempurna dalam rupa ‘kitab suci’ al-Qur’an. Di dalam al- Qur’an, semuanya adalah petunjuk. Baik itu berupa perintah, larangan, kisah-kisah bahkan science. Sebagaimana yang firmankan-Nya dalan surah Al-Baqarah ayat 2.

Allah SWT juga menurunkan Rasul terakhir untuk menjelaskan maksud al-Qur’an. Bahkan, menjadikan kehidupan sang rasul sebagai tauladan dalam seluruh aspeknya. Itulah mengapa agama yang ia bawa disebut way of life. Kewajiban manusia hanyalah mengikuti seluruh petunjuk yang ada dengan penafsiran yang benar dan tepat.

Bukti Konkrit

Kita bisa berkaca pada sejarah. Lihatlah bangsa Arab. Pada masa sebelum kenabian atau masa jahiliyah, mereka tak ada apa-apanya. Tertinggal dalam banyak hal. Terhimpit oleh dua peradaban besar pada masa itu, Romawi di barat dan Persia di timur. Namun, semuanya berubah semenjak mereka menerima al-Qur’an sebagai pemandu hidup.

Para sejarawan mencatat, hanya dalam waktu yang relatif singkat atau 20 tahun setelah peristiwa hijrah, kekuasaan Islam yang berpusat di Madinah telah mencapai Syam, Afrika utara dan Armenia. Wilayah-wilayah yang sebelumnya dalam kekuasaan Imperium Persia dan Romawi.

Namun, ada yang lebih menarik dari itu semua. Umar bin Khattab ra, khalifah saat itu, lebih mempesona dari pencapaiannya. Dengan wilayah kekuasaan yang sebegitu luasnya, ia tetap hidup sederhana, tidak sewenang-wenang dan masih mau mendengar kritik dan nasehat.

Syeikh Jalaluddin As Suyuthi saat beliau menyampaikan pidato yang membatasi mahar pernikahan. Seorang wanita lantas berdiri dan membacakan sebuah ayat dalam al-Qur’an. Lantas, alih-alih menggunakan kekuasaanya untuk mengbungkam, Umar malah berkata “Tiap orang lebih paham ketimbang Umar.”  Dan menganulir keputusannya.

Tidak cukup sampai di situ, Dr. Naceur Jabnoun,  ahli manajemen dari UEA juga banyak menulis bagaimana Umar ra. berjasa besar dalam menata pemerintahan. Mulai dari sistem wakaf, konsep baitul maal, militer dan lain-lain.

Padahal, sebelum Islam, ada yang sampai mengubur anak perempuannya hidup-hidup karena mengikuti budaya masyarakatnya. Perubahan yang terjadi pada beliau dan pada para sahabat sebagai generasi terbaik, tentu tidak lepas dari tuntunan al-Qur’an.  Sebuah petunjuk hidup yang peripurna dan holistik.*

Pengurus Pemuda Hidayatullah, Jawa Timur

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:duniakebebasanpetunjuk
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Banjir Bandang Masamba, TASK Hidayatullah Evakuasi Korban dan Salurkan Bantuan
Tulisan selanjutnya Lira Turki jadi Mata Uang Alternatif di Suriah Pasca Perang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?