Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kesehatan

Pathway, Mati Cepat Cara Inggris

Ama Farah
Terakhir diupdate: 9 Juli 2012 16:23 4:23 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 9 Juli 2012 16:23
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Setiap tahun puluhan ribu pasien sakit parah ditempatkan di “jalur kematian” guna membantu mereka mengakhiri hidupnya. Namun dalam sebuah surat yang ditujukan kepada The Daily Telegraph, enam dokter Inggris memperingatkan bahwa metode itu bisa jadi disalahgunakan rumah sakit untuk menghemat sumber daya mereka.

Para pendukung Liverpool Care Pathway, yang memperbolehkan tenaga medis tidak memberikan cairan, makanan serta obat-obatan kepada pasien di hari-hari terakhir hidupnya, mengklaim cara itu merupakan cara yang paling baik untuk menolong seseorang dalam menghadapi maut.

Padahal menurut para pakar, seperti yang tertulis dalam surat mereka, cara kematian alami lebih tidak menyakitkan dan bebas dari ketegangan.

Keenam dokter tersebut mengirimkan surat kepada The Daily Telegraph, menyusul banyaknya aduan dari masyarakat tentang penyalahgunaan metode ‘pathway’. Mereka membeberkan praktek-praktek tidak benar yang dilakukan dalam sekitar 29% kasus kematian di rumah sakit.

Para dokter itu merupakan pakar dalam perawatan pasien manula. Mereka tergabung dalam Medical Ethics Alliance, sebuah organisasi medis Kristen.

Baca Juga

Jangan Anggap Sepele Hernia
Riset: Remaja Pengguna Vape Lebih Berisiko Jadi Perokok
Vape Ancaman Baru Remaja, Perlu Ada UU yang Tegas
Makanan Cepat Saji Tingkatkan Risiko Kanker Paru-Paru
Tekanan Akademis dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Pasien banyak yang dimasukkan dalam program pathway tanpa ada surat keterangan dari dokter, yang tidak berhasil meminta keterangan pasien yang dirawat tentang apakah bersedia kematiannya dipercepat. Hal ini meningkatkan jumlah pasien yang membawa kartu keterangan, yang menginformasikan bahwa mereka tidak mau dimasukkan dalam pathway di hari-hari terakhir hidupnya.

Para dokter yang peduli dengan nasib pasien tersebut memperingatkan, “tidak ada bukti ilmiah bahwa tanda-tanda kematian yang dekat bisa diperkirakan.” Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang tahu kapan seseorang akan segera wafat.

Liverpool Care Pathway dibentuk di Rumah Sakit Royal Liverpool pada tahun 1990an. Tujuannya adalah membantu pasien yang diyakini akan meninggal dalam waktu dekat, bisa menghembuskan nafas terakhir tanpa harus mendapatkan interfensi dari petugas medis. Para pasien akan dihentikan pemberian makanan, cairan dan obat-obatannya. Selain itu, sebagai gantinya pasien bisa diberi obat penenang atau penghilang rasa sakit sampai mereka akhirnya meninggal.

“Jika Anda sinis tentang hal itu, sebagaimana saya, Anda dapat melihatnya sebagai tindakan untuk penghematan, karena Anda [pihak rumah sakit-red] tidak ingin kamar perawatan dipenuhi oleh pasien-pasien tua,” kata Dr Gillian Craig, salah seorang dokter yang mengirim surat kepada The Daily Telegraph.

Craig menyarankan, bagi pasien yang tidak mau dimasukkan dalam pathway agar membawa surat keterangan yang ditandatangani oleh Dr Rosalind Bearcroft, seorang konsultan psikiater dari Kent, dan dokter lainnya.

Tahun 2011, The Daily Telegraph melaporkan bahwa jumlah pasien yang dimasukkan dalam pathway meningkat dua kali lipat hanya dalam kurun waktu dua tahun. Di mana sekarang melibatkan puluhan ribu pasien.

Padahal pada kenyataannya menurut temuan Royal College of Physicians, hanya separuh dari keluarga pasien saja yang diberitahu tentang alasan klinis mengapa pasien dimasukkan dalam pathway.

Para pendukung Liverpool Care Pathway beralasan, apa yang mereka lakukan sudah mendapat persetujuan dari National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) dan didukung oleh Departemen Kesehatan Inggris.

Seorang jurubicara Departemen Kesehatan mengatakan, “Orang-orang yang ajalnya sudah dekat harus mendapatkan perawatan dengan kualitas tinggi, kasih sayang dan cara yang terhormat.”

“Liverpool Care Pathway (LCP) bukanlah program untuk menghemat uang. Program itu diadakan dan menjadi alat yang terhormat yang direkomendasikan oleh NICE dan mendapat dukungan dari banyak praktisi klinik di dalam dan luar negeri,” paparnya.

“Keputusan untuk menggunakan pathway harus melibatkan pasien dan anggota keluarganya, dan kondisi pasien harus dipantau dengan ketat. Jika sesuatu terjadi, seorang pasien membaik keadaannya, mereka bisa dikeluarkan dari LCP dan mendapatkan perawatan apapun yang terbaik untuk keperluan mereka. Guna memastikan LCP digunakan sebagaimana mestinya, maka penting bagi staf (medis) untuk mendapatkan pelatihan dan dukungan yang baik,” pungkas jurubicara itu.

Namun pertanyaan yang mengemuka kemudian, apakah bisa dijamin seorang pasien yang sudah dikurangi atau bahkan dihentikan pemberian makanan, cairan dan obat-obatannya kemudian akan berangsur sehat, atau membaik keadaannya? Terlebih di antara mereka bahkan ada yang justru dicekoki obat penenang atau penghilang rasa sakit sebagai gantinya dari makanan dan obat-obatan.

Mungkin ini yang termasuk namanya kebebasan dan HAM di negeri Barat, di mana orang bebas berbuat, termasuk merenggut nyawa pasien.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya BSMI Tolak Penyeragaman Logo Palang Merah
Tulisan selanjutnya Jambore Santri Meriahkan Bumi Perkemahan Kopeng

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet

Berita
8 Juni 2026 18:30
Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
Sedang Menangkap Ikan, Remaja Palestina Syahid Dihantam Tembakan Kapal ‘Israel’
Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
  • BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
  • Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
  • Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis
  • MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
  • Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid

Mungkin Anda Juga Suka

Kesehatan

Studi: Manfaat Utama Kopi Bagi Kesehatan Tergantung Waktu Meminumnya

15 Januari 2025 07:30
Kesehatan

Hindari Tertular HMPV, Pakar UGM Anjurkan Masyarakat Ikuti Pola Hidup Sehat

10 Januari 2025 13:20
Kesehatan

Terbukti, Konsumsi Alkohol Penyebab hampir 1 Juta Kasus Kanker di Amerika Serikat

7 Januari 2025 11:10
Kesehatan

Studi: Setiap Batang Rokok Merampas 20 Menit Kehidupan Perokok

5 Januari 2025 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?