Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mereka Memilih Berani

Kisah Dai: Bermula dari Curiga, Akhirnya Jatuh Cinta

Bambang S
Terakhir diupdate: 3 Maret 2021 14:27 2:27 pm
Bambang S
Dipublikasikan 3 Maret 2021 14:23
Bagikan
Bagikan

Mengutamakan shalat di atas segala urusan. Shalat harus dilakukan dengan serius dan bersungguh-sungguh, tidak bisa dengan asal-asalan

Hidayatullah.com--“Kalau para hadirin ingin melihat bagaimana praktik kehidupan Islam yang sesungguhnya, silakan kunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak.” Ucapan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Said (alm) di hadapan ratusan jamaah pengajian rutin malam Jum’at di Masjid Karang Bugis, Balikpapan, Kalimantan Timur. Ahmad Suradi yang berkesempatan menghadiri pengajian itu merasa terusik.

“Saya sempat berpikir, sombong sekali ustadz ini, kok bicara seperti itu,” ungkap Suradi mengenang responnya waktu itu.

Ia ingin membuktikan kebenaran ucapan sang ustadz. Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Dalam suatu kesempatan, Ustadz Abdullah Said mengundang para hadirin untuk mengikuti training keislaman di Gunung Tembak. Karena bertepatan hari libur, Suradi ikut sebagai peserta.

Ketika laki-laki asli Tuban ini tiba di lokasi, ia tercengang. Ternyata pondok yang dimaksud itu berada di tengah-tengah hutan, jauh dari keramaian. Ada lagi yang membuatnya tercengang: shalatnya!

Baca Juga

Kisah Dai Pedalaman Membina Iman di Kota Tepian
Membina Iman di Kota Tepian
Jalan Panjang Dai Tempaan Alam
Berpacu melawan Misionaris
Kisah Lulusan Al-Azhar Membina Kader Da’i di Kaki Gunung Penanggungan
Jangan Takut Berdakwah di Wamena

“Saya belum pernah menemukan shalat semisal itu; lama sekali dan dilakukan dengan penuh antusias. Warga pondok berbondong-bondong datang ke masjid dengan menggunakan pakaian putih, ketika azan berkumandang,” ucapnya.

Melihat pemandangan itu Suradi merenung. Ia menyimpulkan, seyogianya seorang Muslim harus berperilaku demikian; mengutamakan shalat di atas segala urusan. Shalat harus dilakukan dengan serius dan bersungguh-sungguh, tidak bisa dengan asal-asalan.

Tapi di balik kekagumannya itu, pria kelahiran 1960 silam ini memiliki kecurigaan: fenomena shalat yang disaksikannya tempo hari, hanyalah rekayasa pesantren karena ada kunjungan tamu. Ia lalu memutuskan untuk kembali bertandang ke pesantren, bahkan bermalam di sana.

“Dan ternyata,” sambungnya, “praktik shalat yang dilaksanakan memang seperti itu. Apa lagi shalat malam/tahajjud-nya, luar biasa lama,” kenangnya.

Suradi kembali merenung. Ia yang waktu itu bekerja di salah satu perusahaan kayu, mengambil keputusan radikal. Ia hijrah ke Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Iming-iming naik pangkat dan gaji dari atasan, sama sekali tidak digubris.

Yang menjadikan ia bersyukur, sang bunda tidak keberatan dengan keputusannya, “Ibu hanya bilang, ‘Kamu sudah dewasa, lebih tahu mana yang terbaik untuk dirimu.”

Berbekal Sami’naa Wa Atha’na

Belum lama Suradi menginjakkan kaki di pesantren, ia langsung mendapat amanah mengajar para santri. Suradi mengaku sempat bingung dan ingin menolak amanah tersebut. Wajar saja, karena seumur-umur ia tak pernah bersentuhan dengan dunia pendidikan. Apalagi disuruh mengajar.

“Sudah, laksanakan saja. Di sini tidak boleh menolak kalau diberi amanah. Konsepnya ‘Sami’naa wa atha’naa (kami dengar dan kami taat),” kata teman-temannya kepada anak pasangan Kasriban (alm) dan Karsini (almh) ini.

Ia pun akhirnya menerima amanah sebagai guru sekaligus pengasuh para santri. Tujuh tahun mengabdikan diri di pesantren,  ia merasakan ketenangan jiwa. Meski secara material jauh dari kemapanan. “Gaji yang saya terima ketika masih bekerja di perusahaan kayu Rp 200 ribu (tahun 1987-an). Di pondok hanya diberi RP 2500. Itu pun terkadang telat,” ungkapnya sambil terkekeh.

‘Tersandung Batu’

 Akhir tahun 1997, Suradi mendapat amanah baru. Ia ditugaskan melanjutkan rintisan Pesantren Hidayatullah di Tanjung Pinang, Riau. Bersama istri dan ketiga buah hatinya, ia menyeberangi lautan demi menjalankan tugas baru. Tidak ada bekal materi yang dibawanya untuk mengembangkan dakwahnya. Untuk tempat tinggal, ia dan keluarga menempati salah satu rumah aparat desa yang memang tidak berpenghuni, sebab di pesantren baru ada ruangan untuk menampung belasan santri.

Minimnya dana yang dimiliki ini pula, yang kemudian mengharuskan Suradi sekeluarga dan para santri, mengonsumsi bubur ketela pohon. “Ketela-ketela yang ditanam di kebun pesantren itulah yang diolah menjadi bubur kemudian kita makan bersama santri,” terangnya.

Selain persoalan finansial, ada ‘batu sandungan’ lain yang cukup memakan pikiran, yang harus dihadapi anak kedua dari empat bersaudara ini. Betapa tidak, suatu hari, niat hati ingin bersilaturrahim ke Departeman Agama (Depag) guna menjalin hubungan yang baik dan mengenalkan Hidayatullah, ia justru disodori copy-an surat radio (telegram) dari pihak penegak hukum. Hidayatullah, menurut surat itu, termasuk pesantren yang harus diwaspadai.

Di antara alasannya, ungkap Suradi, karena Hidayatullah dianggap sebagai kumpulan yang ekslusif, tidak mau bergaul dengan orang lain, serta tidak menikah kecuali dengan orang pesantren sediri.

Suami Raqimah ini sudah berusaha membantah. Namun pihak Depag tetap menyoal keberadaan Hidayatullah di Tanjung Pinang. “Kami hanya menjalankan perintah atasan, Pak,” ucap pegawai Depag kepada Suradi.

Allah SWT jualah yang membukakan jalan bagi setiap persoalan hamba-hamba-Nya. Begitu juga dengan kasus yang dihadapi Suradi. Pada  hari yang lain, ia menceritakan kasus yang menimpanya kepada seorang simpatisan pesantren. Mendengar berita itu, langsung saja simpatisan itu menyarankannya untuk menghadap Dandim (Komandan Distrik Meliter) setempat.

Menurut sang simpatisan, sebelum kedatangan Suradi, Dandim memiliki hubungan dekat dengan pihak pesantren. Benar saja, ketika bapak lima anak ini menghadap dan mengenalkan diri berasal dari Hidayatullah, si Dandim langsung merespon  positif. Ia justru meminta kepada Suradi untuk mengembangkan dakwah. Dan ketika surat edaran yang diterima dari Depag disodorkan kepada Dandim, langsung saja ia menukas, “Tidak benar ini. Teruskan saja dakwah Hidayatullah,” ucapnya yang langsung menenangkan pikiran Suradi.

Untuk mengembangkan dakwahnya, selain dengan menggalakkan silaturrahim dan mengadakan majelis-majelis pengajian, alumni PGA Bojonegoro ini juga berupaya ‘menghidupkan’ masjid kampung daerah binaannya. Respon masyarakat terhadap dakwahnya cukup baik, tak terkecuali aparat desa. Berkat wasilah dari aparat desa itu juga, bantuan dari Singapura pun pernah singgah di pasantren.

Selain di Tanjung Pinang, beberapa daerah lain pernah dijajahi pemilik hobi membaca ini, untuk menyiarkan Islam. Antara lain Kutai Timur, Tarakan, dan terakhir Berau, hingga saat ini. Beberapa amanah pernah ia  pegang, mulai dari sekretaris yayayasan, ketua yayasan, hingga PD (Pimpinan Daerah) dan sekarang pembina di Hidayatullah Berau, Kalimantan Timur.

“Mungkin karena sudah dianggap tua, sekarang dijadikan pembina,” kelakarnya.* dikutip dari Suara Hidayatullah

Saksikan juga video Ketika Pesantren Berdampingan dengan Lokalisasi

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahmad suradicerita daiDai Hidayatullahkisa dai hidayatullah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya program guru belajar berbagi Kemendikbud Luncurkan Program Guru Belajar dan Berbagi
Tulisan selanjutnya haedar nashir vaksinasi covid-19 Ikut Program Vaksinasi Covid-19, Haedar Nashir: Ikhtiar kita Sebagai Manusia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mereka Memilih Berani

Kemewahan di Kampung Mualaf Selat Kongki setelah Kehadiran Laznas Ini

13 Juli 2022 08:33
Mereka Memilih Berani

Kisah Dai Diadang Pedang Terhunus Saat Mau Khutbah Jumat

28 Juni 2022 08:00
Mereka Memilih Berani

Ketika Ustadz Hasyim HS Kaget Ditugaskan KH Abdullah Said

21 Mei 2022 15:00
Mereka Memilih Berani

Dakwah Tak Kenal Lelah “Dai Non-Subsidi”

3 Mei 2022 16:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?