Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mereka Memilih Berani

20 Tahun Perang Melawan Pemikiran Islam Liberal

Bambang S
Terakhir diupdate: 20 September 2021 13:38 1:38 pm
Bambang S
Dipublikasikan 20 September 2020 08:06
Bagikan
Akmal sjafril liberal
Akmal Sjafril
Bagikan

Hatinya resah ketika slogan bernada liberal mulai bermunculan di Indonesia. Seperti ‘semua agama benar’ atau ‘Tuhan tidak perlu dibela’

Hidayatullah.com–Slogan itu banyak memakan korban, khususnya orang-orang yang pendidikan agamanya kurang, sehingga mereka salah dalam memahami Islam. Akibatnya, slogan-slogan seperti itu diterima begitu saja, seolah semua kebenaran mutlak serta tak terbantahkan lagi.

“Padahal, basis logikanya sangat-lah lemah. Mirisnya lagi, tidak banyak aktivis dakwah yang merespon pada awal kemunculannya,” kata Akmal Sjafril, Pegiat komunitas Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal) atau dikenal dengan ITJ, membuka kisahnya dalam perang melawan liberalisme.

Ia pertama kali tertarik dengan wacana Islam liberal ketika sedang menempuh studi S1 Teknik Sipil di ITB. Hal yang membuatnya tergelitik adalah, karena para pendukungnya selalu mengatasnamakan rasionalitas, logika, dan semacamnya.

“Saya sendiri, sebagai mahasiswa sains, tidak asing lagi dengan rasionalitas dan logika, tapi jalan pikiran saya dan teman-teman saya tidak seperti mereka. Dan setelah saya selidiki, hampir semua pendukung Islam liberal itu, memang tidak punya latarbelakang sains yang kuat. Itu pada awal tahun 2000-an,” beber pria kelahiran Jakarta, 14 Juni 1981 ini.

Baca Juga

Kisah Dai Pedalaman Membina Iman di Kota Tepian
Membina Iman di Kota Tepian
Jalan Panjang Dai Tempaan Alam
Berpacu melawan Misionaris
Kisah Lulusan Al-Azhar Membina Kader Da’i di Kaki Gunung Penanggungan
Jangan Takut Berdakwah di Wamena

Debat Terbuka

Sebagai aktivis anti liberal, Akmal—panggilan akrabnya—seringkali berhadapan langsung dengan pegiat JIL untuk beradu gagasan entah di dunia maya maupun nyata. Contoh dunia nyata, ia pernah melakukan debat terbuka dengan pegiat JIL di Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar dan Jakarta. Ia juga presentasi di Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, serta beberapa kampus lainnya.

“Salah satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah diundang debat di Hard Rock FM, dengan Pandji Pragiwaksana sebagai host-nya. Saat itu, lawan debat dari JIL membatalkan kehadirannya sehari sebelum acara. Terus penggantinya membatalkan juga sejam sebelum acara. Dari situlah saya menyadari bahwa sebenarnya justru merekalah yang diliputi ketakutan,” tegas pendiri Sekolah Pemikiran Islam (SPI) ini.

 Perang melawan liberalisme tidak hanya Akmal lakukan lewat debat seperti itu, tetapi juga melalui tulisan. Sejak tahun 2005, anak bungsu dari tiga bersaudara ini, pun sangat aktif menulis seputar pemikiran Islam serta problematika umat. Tulisan-tulisannya banyak tersebar pada blog pribadinya; malakmalakmal.com.

Belakangan, virus liberal itu berkembang menjadi Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme (SePiLis). Nah, yang menarik saat ini yakni bagaimana menjelaskan bahaya SePiLis kepada kalangan milineal.

“Sebenarnya tidak sulit, kalau kita mau pelajari sedikit. Yang paling mudah itu menjelaskan kesalahan SePiLis dengan melihat kontradiksi dan membayangkan praktiknya dalam dunia nyata,” kata Akmal berbagi tips.

Ayah dari dua anak inipun memberi contoh, misalnya ada orang bilang “Semua agama benar, jangan saling menyalahkan”, itu mudah membantahnya. Pertama, ungkapan itu sebenarnya menyalahkan orang lain. Jadi, nasihat “Jangan saling menyalahkan” itu tidak bisa dipraktikkan oleh pengucapnya sendiri.

“Memang tidak realistis. Bagaimana mungkin orang tidak boleh menyebut jika sesuatu itu salah, sedangkan dia punya akal. Apakah seluruhnya harus dibilang benar? Tak ada orang berakal sehat yang akan membenarkan semuanya,” jelas peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini.

Dan kedua, Akmal melanjutkan, jika ditilik secara mendalam, agama-agama di dunia sangat berbeda. Di kebanyakan agama, misalnya, ada konsep kerahiban, yang menyebabkan orang kalau ingin naik derajat, maka ia tak boleh menikah. Namun dalam agama Islam, sengaja tidak menikah justru menurunkan derajat manusia. Bukan meninggikan derajatnya.

“Jadi jelas bahwa yang dianggap baik dalam satu agama belum tentu dianggap baik di agama lain,” tegasnya.

Ikut Mendirikan ITJ

Perjuangan Akmal dalam menghadapi kelompok SePiLis pun akhirnya banyak mendapat dukungan dari berbagai kalangan, setelah bertemu dengan orang-orang yang kontra terhadap SePiLis di Twitter pada tahun 2010. Lalu dua tahun berikutnya lahirlah komunitas ITJ (Februari 2012). “Tapi sebenarnya bukan saya pendirinya,” selorohnya.

Tahun 2010, jagad Twitter memang sedang ramai-ramainya perdebatan antara kelompok yang menolak serta yang mendukung Islam liberal. Lalu, tahun 2012, para pendukung Islam liberal meramaikan tagar Indonesia Tanpa FPI di Twitter. Mereka juga menggelar aksi di Bundaran HI, Jakarta Pusat.

“Yang membuat orang muak adalah kenyataan bahwa aksinya sekadar dihadiri sedikit orang, alias tidak signifikan sama sekali. Tetapi di-blow up habis-habisan oleh media. Dari situlah teman-teman menyadari, perang pemikiran itu nyata serta pertarungannya sangat tidak adil. Sehingga ada yang memunculkan tagar #IndonesiaTanpaJIL,” ungkap suami dari Rahmi Awaliah itu.

Awalnya memang hanya tagar di media sosial. Kemudian, salah seorang kawan Akmal membuat video dengan pemeran utama, Fauzi Baadilla. Aktor ternama itu pun hanya mengucapkan “Indonesia tanpa JIL!”, tetapi kemudian viral serta sangat laku di jejaring Youtube. Padahal, durasi video itu hanya beberapa detik.

Tak lama berselang, Akmal bersama teman-temannya sepakat bertemu untuk  berkumpul. Dari situlah akhirnya disepakati bahwa ITJ akan diresmikan sebagai sebuah organisasi. Awalnya sederhana, hanya koordinator pusat. Tetapi seiring waktu, terbentuk kepengurusan di berbagai kota, hingga terciptalah organisasi ITJ seperti yang kita kenal saat ini.

Akmal mengatakan, tujuan ITJ didirikan yaitu untuk menggalang kesadaran dan perlawanan terhadap Islam liberal. Untuk mencapainya, ITJ menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti kajian lepas, seminar atau workshop. Lalu aksi-aksi di lapangan seperti sebar flyer dan ‘street dakwah’. Termasuk menggelar kegiatan membaca dan mendiskusikan berbagai buku tentang pemikiran Islam.

Terkait bentuk kegiatannya, tergantung kreativitas dari masing-masing chapter di daerah—ada 13 chapter yang aktif.

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Akmal SjafrilIndonesia Tanpa JILinsistislam liberalmelawan islam liberal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Seluruh Iran dalam Siaga Merah Covid-19 akibat Jumlah Korban Tewas Meningkat
Tulisan selanjutnya Pandemi Wabah dan Gambaran Penguasa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Mereka Memilih Berani

Kemewahan di Kampung Mualaf Selat Kongki setelah Kehadiran Laznas Ini

13 Juli 2022 08:33
Mereka Memilih Berani

Kisah Dai Diadang Pedang Terhunus Saat Mau Khutbah Jumat

28 Juni 2022 08:00
Mereka Memilih Berani

Ketika Ustadz Hasyim HS Kaget Ditugaskan KH Abdullah Said

21 Mei 2022 15:00
Mereka Memilih Berani

Dakwah Tak Kenal Lelah “Dai Non-Subsidi”

3 Mei 2022 16:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?