Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Pejuang Hebat yang Hidupnya Melarat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Desember 2022 10:18 10:18 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Desember 2022 10:20
Bagikan
Bagikan

Banyak Indonesia pernah memiliki pejuang-pejuang hebat yang memikirkan rakyat, sampai-sampai kehidupan pribadinya sengsara dan melarat

Hidayatullah.com | BANGSA INDONESIA di masa lalu pernah memili tokoh-tokoh bangsa yang seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara, hingga mereka tidak sempat lagi berfikir untuk keluarga (bahkan) kehidupan pribadinya. Dalam rubrik “Loekisan Hidoep” Majalah Aliran Baroe No. 34 (1941), ada kisah menarik dengan judul utama “OH….IDEALISTEN!” Bahasa Belanda yang artinya “Oh …. Idealis!”

Di dalamnya disebutkan gambaran menarik betapa para pejuang dengan segenap kemasyhuran dan kontribusinya di tengah-tengah masyarakat, justru banyak sekali mengalami penderitaan hidup, baik dirinya sendiri maupun keluarganya.

Dengan ketenaran yang didapatkan, bisa saja mereka memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Nyatanya tidak, kehidupan mereka lebih banyak susah daripada enak.

Dalam paragraf pertama disebutkan, “Hampir tiap idealist jang mengoerbankan fikiran dan tenaganja oentoek keperloean rakjat, kebanjakan tidak pernah merasakan kenikmatan hidoep boeat diri sendiri. Dibibir publiek, ia disandjoeng dan dipoedji, sedang hakikatnja penghidoepannja koetjar katjir. Roemah tangganja tidak teratoer, anak isterinja hidoep terlantar.” (Halaman: 8).

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Kasman Singodimejo dalam buku “100 tahun Haji Agus Salim” (1996: 163, 175) menceritakan, suatu ketika melihat secara langsung kondisi Haji Agus Salim. Diplomat pejuang itu mengontrak sebuah rumah di gang yang jalannya becek dan sempit.

Beliau pernah mengatakan, “Leiden is lijden” (memimpin itu menderita).  Kata-kata ini lahir setelah melihat kemelaratan “The Grand Ould Man”, KH. Agus Salim, seorang politisi muslim kawakan dan dikenal sebagai ulama yang penuh kesederhanaan.

Diplomat jenaka ini selama hidupnya memilih hidup sederhana. Walau ada kesempatan untuk menjadi kaya, namun selama hidupnya melarat. Tempat tinggalnya selalu berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Bahkan, pernah istrinya muntah-muntah di tempat kontrakan yang WC-nya sedang rusak.

Meski begitu, perjuangan beliau sangat besar bagi bangsa ini. Sebagai contoh, beliau sukses melakukan diplomasi ke luar negri, sehingga kemerdekaan Indonesia bisa diakui di tingkat internasional.

Rata-rata pada waktu itu, kehidupan para pejuang begitu melarat. “Djarang sekali terlihat seorang politicus tjap djelata, istimewa di Indonesia, seorang ahli seni, sjair, componist, pengarang dan lain lainnja lagi jang merasakan kehidoepan mewah.” (Majalah Aliran Baroe No. 34 (1941).

Saat salah satu anaknya meninggal dunia dan sudah dimandikan, Haji Agus Salim belum memiliki kain kafannya karena begitu melaratnya. Padahal, siapa yang tak tahu jasa-jasa besar beliau untuk Indonesia?

Menanggung derita

Demikian juga misalnya Buya Hamka dan AR. Baswedan. Suatu hari, Hamka menulis surat kepada AR. Baswedan. Di antara isi suratnya, “Kita lihat pengandjoer bangsa, pemimpin perkoempoelan agama, pergi ke tengah tengah masjarakat oemmat dan bangsa tampil kemoeka, padahal, badjoe isteri sendiri tak terganti, kadang-kadang penitinja tergadai; kain anak tertoekar, padahal lebaran soedah datang.” Majalah Aliran Baroe No. 34 (1941).

Apakah dengan kondisi itu membuat mundur perjuangan. Kata Hamka, “Akan moendoer? Doeh, pantang laki-laki soeroet poelang! Tida akan mondoer? Dapoer ta berasap, anak ta berbadjoe! Isteri meminta dibelikan kain! Meskipoen ta’ dimintanja kita sendiripoen merasa poela.  Crisis…crisis ibarat orang sakit gigi, kita sadja jang menderita, orang lain ta’tahoe.”

Kondisi sesulit apapun tidak membuat semangat kendur; justru yang ada malah siap tempur dalam memperjuangkan idealisme dan cita-cita.

Kondisi demikian sama sekali tidak membuat mereka mundur. Mereka tetap maju dengan muka berseri-seri penuh optimis. Sedangkan hatinya tulis Hamka, “Mengadoe sadja kepada Allah; ‘ja Toehan, berilah hambamoe ini kelapangan dan ketegoehan!’ Kelapangan itoe poen datanglah!”

***

Apa yang tertulis dalam Majalah Aliran Baroe memang benar adanya. Banyak sekali contoh yang menggambarkan betapa sengsara dan melaratnya kehidupan pribadi para pejuang.

Syafruddin Prawiranegara, pernah menjabat menteri, wakil Perdana Menteri, Gubernur BI dan lain-lain, pernah tidak bisa membeli popok buat anaknya. Buya Natsir harus menggadaikan perhiasan istrinya untuk membiayai sekolah Pendis (Pendidikan Islam) yang didirikannya, bahkan ketika menjadi Perdana Menteri memaka jas bertambal. Sutan Syahrir harus menjual mesin ketiknya, untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bung Hatta, tak mampu membeli sepatu impiannya. Dan masih banyak contoh lainnya.

Apa mereka mundur dari perjuangan? Sama sekali tidak. Meminjam surat Hamka kepada AR. Baswedan, “Kita sadja jang menderita, orang lain ta’ tahoe.” Atau meminjam istilah Kasman, “Pemimpin itu menderita.”

Dunia tidak pernah menguasai hati mereka, meski punya kesempatan menggenggamnya. Mereka paham bahwa manusia, sebagaimana sabda Nabi, di dunia ini laksana musafir yang sedang berteduh, sementara dan tak abadi di dalamnya. Meski di dunia mereka terlihat hidupnya sulit, tapi bisa jadi di akhirat masuk kelas elit. Rahimahumullah rahmatan waasi’ah. */Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AR BaswedanBuya HamkaHaji Agus Salimhidupnya melaratpejuang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Khutbah Jumat: Hari-Hari Ibu
Tulisan selanjutnya peta asli palestina Peta Palestina yang Asli Ditayangkan di TV, Yahudi Israel Marah-Marah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

saham aramco saudi
Berita

Gegara Perang Iran Saudi Aramco Pertimbangan Perluasan Kapasitas Penyimpanan di Luar Negeri

Berita
21 Juni 2026 16:50
Kabar Mualaf Giancarlo Esposito: Aktor “Breaking Bad” Dilaporkan Memeluk Islam di Saudi
Al Jazeera Desak Masyarakat Internasional Hukum ‘Israel’ usai Pembunuhan Jurnalisnya
Turki Tangkap 209 Orang di Ankara Jelang KTT NATO
‘Israel’ Gelontorkan Dana untuk Ubah Situs Arkeologi Palestina Jadi Situs Yahudi

Terbaru

  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
  • Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
  • Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
  • Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
  • Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
  • Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
  • Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
  • Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
  • Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah
  • Iman, Ilmu, dan Amal: Tiga Pilar Kebangkitan Umat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?