Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Kisah Taubat Sastrawan Lekra/PKI

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Januari 2023 11:21 11:21 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Januari 2023 11:00
Bagikan
Boejoeng Saleh
Bagikan

Boejoeng Saleh awalnya dikenal sebagai seniman berideologi Marxis-Komunis,  saat di Pulau Buru ia bertaubat dan menjadi muslim yang taat

Hidayatullah.com | NAMANYA Saleh Iskandar Poeradisastra, sering disingkat S.I Poeradisastra. Ia punya nama lain, Boejoeng Saleh. Nama ini, di kalangan seniman pada masa lalu, cukup dikenal. Ia berideologi Marxis-Komunis.

Sebagaimana seniman dan sastrawan berideologi kiri lainnya seperti Pramoedya Ananta Toer dan Utuy Tatang Sontani, Boejoeng Saleh juga aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang menjadi underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI).

Uniknya, ketiga sastrawan kiri ini memiliki akhir hidup yang mengesankan. Sebelum wafat, Utuy berwasiat jenazahnya diurus cara Islam.

Pram, panggilan Pramoedya Ananta Toer, mengirim putrinya untuk belajar pada Buya Hamka. Bahkan ia memuji kehebatan tauhid ulama asal Minangkabau tersebut. Sementara Boejoeng Saleh, bertaubat sebelum wafat dan dekat dengan tokoh-tokoh Islam di akhir hayat.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam

Kisah pertaubatan Boejong Saleh dapat dibaca dalam buku “Mengenang Hidup Orang Lain” karya sastrawan terkenal Ajip Rosidi. Di buku itu, Ajip menceritakan ketiga sosok sastrawan dan seniman kiri di atas.

Uniknya, baik Pram, Utuy, dan Boejoeng, seperti diceritakan Ajip, pernah merasakan kesulitan ekonomi, sebelum akhirnya ‘direkrut’ oleh Lekra/PKI. Pram bahkan pernah mengetuk pintu rumah Ajip hanya sekadar untuk minta sesuap nasi, karena sudah beberapa hari tidak makan. Dan, ketiganya, di akhir hayatnya terlihat luntur bahkan hilang kekiri-kiriannya.

Kembali kepada S.I Poeradisastra alias Boejoeng Saleh. Sebagai seniman Lekra ia pernah bertugas mengajar di Moskwa  Rusia. Sepulang dari negeri komunis itu, ia diangkat jadi Sekjend Baperki (Badan Permusyawaratan Kebudayaan Indonesia), organisasi yang didirikab oleh Siau Giok Tjan yang berideologi kiri. Setelah itu, Boejoeng dibuang ke Pulau Buru.

Di Pulau Buru inilah, kata Ajip Rosidi, Boejoeng mendapatkan hidayah dari Allah. Melalui bimbingan seorang dai yang ditugaskan di pulau itu, Boejoeng akhirnya kembali menjadi muslim dan terlihat taat dalam beribadah.

Sebelumnya, di tahun 50-an, kenang Ajip, sastrawan Aoh K. Hadimadja pernah bertanya kepada Boejoeng, “Sebagai Marxis apa saudara percaya akan adanya Tuhan atau tidak?”

Setelah berpikir sejenak, Boejoeng menjawab, “pada saat-saat tertentu memang saya merasa bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi dan lebih besar dari kita…”

Pertanyaan dan jawaban itulah yang  mungkin terus terekam dalam ingatan Boejoeng. Hingga akhirnya di Pulau Buru ia bertaubat dan menjadi muslim yang taat.

Setelah itu, Boejoeng Saleh menulis sebuah buku berjudul “Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern” seperti terlihat dalam gambar. Ini tentu sangat menarik, karena ditulis oleh seorang mantan penganut Marxis-Komunis.

Dalam pengantar bukunya, Boejoeng Saleh menulis ucapan terimakasih kepada para tokoh, di antaranya Taufiq Ismail, Ali Audah, Endang Saifuddin Anshari, dan Bambang Pranowo. Nama terakhir ini pernah ditugaskan sebagai dai di Pulau Buru. Kabarnya, yang menugaskan adalah Mohammad Natsir.

Demikian sedikit kisah tentang S.I Poeradisastra alias Boejoeng Saleh. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa-nya dan menerima amal ibadahnya. Aamiin…*/Artawijaya, wartawan dan penulis buku “Gerakan Theosofi di Indonesia” dan “Jaringan Yahudi Internasional”

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Boejoeng SalehBuyung SalehHeadlinekomunisPilihan RedaksiPKISastrawan LekraUtuy Tatang Sontani
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pesan Sekularisme dalam Iklan Air Minum
Tulisan selanjutnya Kampong Jendrami dan Spirit Persatuan Muslim Nusantara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’

Berita
13 Oktober 2026 13:01
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi

29 September 2026 08:30
Kajian

Al-‘Aqabah: Jalan Terjal Menuju Peradaban Fitrah

15 September 2026 13:13
Kajian

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat

22 Agustus 2026 11:43
Kajian

Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol

22 Agustus 2026 10:58
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?