Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Mengambil Keteladanan Nyai Solichah A. Wahid Hasyim

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Februari 2023 13:59 1:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Februari 2023 14:00
Bagikan
Nyai Hj. Solichah Munawwarah Wahid Hasyim
Bagikan

Untuk melanjutkan perjuangan sang suami, Nyai Solichah A. Wahid Hasyim sempat berjualan beras di pasar Kementerian Agama

Hidayatullah.com | DI BALIK tokoh besar KH. Wahid Hasyim beserta KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) beserta saudara-saudara yang lain, ada figur penting yang tidak bisa dikesampingkan perannya, yaitu: Nyai Hj. Solichah Munawwarah Wahid Hasyim.

Beliau merupakan anak KH. Bisri Syansuri dan Hj. Nur Chadijah (adik KH. Wahab Hasbullah). Lahir di Jombang pada 11 Oktober 1922 dan wafat pada Jum’at, 29 Juli 1994.

Penulis mengajak para pembaca mengenal sedikit dari kiprah beliau sebagai seorang ibu, aktivis sekaligus politisi yang tidak pernah abai dengan tugas luhurnya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.

Dalam buku berjudul “Solichah A. Wahid Hasyim Muslimah di Garis Depan Sebuah Biografi” (2001: 35-40) dikisahkan betapa bersar ujian yang dihadapi beliau sebagai istri seorang tokoh kenamaan seperti KH. Wahid Hasyim.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Sudah menjadi risiko istri tokoh pejuang, jika dirinya sering ditinggal oleh sang suami. Karena itu, praktir kegiatan rumah tangga termasuk pendidikan anak-anaknya lebih banyak ditangani oleh dirinya.

Pada tahun 1950, saat KH. Wahid Hasyim diangkat mejadi Menteri Agama RIS dang mengharuskan tinggal di Jakarta, suasananya lebih baik.  Sang suami lebih banyak bertemu dengan keluarga.

Sayangnya, itu tak berlangsung lama, karena pada tahun 1953, suaminya meninggal dunia pasca kecelakaan.

Pembaca bisa membayangkan bagaimana perasaan, kelusitan, kesedihan yang dirasakan Ibu Solichah saat itu. Usianya saat ditinggal suami adalah 30 tahun. Pada waktu itu, ia memiliki 5 anak yang masih kecil-kecil. Di samping itu, juga sedang mengandung anak yang masih berusia 3 bulan.

Hebatnya, dalam kondisi sesulit apa pun, beliau tidak pernah menyerah dengan keadaan. Bahkan, sang ayah, KH. Bisyri Syansuri, ketika menawarkan dirinya agar pulang kampung bersama anak-anaknya, beliau tidak memenuhinya.

Lebih dari itu, saat ditawarkan anak-anaknya sebagiannya diasuh oleh keluarganya, beliau juga tidak meyetujuinya. Semua ditangani sendiri, dan itu berada di Jakarta. Bisa dibayangkan kesulitannya seperti apa.

Ketegasannya dalam bersikap bisa dibaca dari pernyataannya berikut, “Kalaupun tidak bisa bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup anak-anak, berjualan gado-gado pun akan dilakukan.” 

Keputusannya sudah bulat. Risikonya, sebelum mendapat penghasilan, beliau terpaksa menjual harta benda yang dimilikianya. Apalagi, peninggalan KH. Wahid Hasyim, meski menjadi Menteri Agama, tidaklah banyak.

Lama-lama ketika hartanya berkurang drastis karena dijual untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya Solichah berjualan beras di pasar Kementerian Agama. Beliau menangkap peluang untuk memasok kebutuhan beras para pegawai Kementerian Agama.

Hal itu dilakukannya, tanpa ada rasa risih dan malu. Tak hanya itu, beliau juga berjualan batu, pasir dan bambu di Pelabuhan Tanjung Periuk.

Hebatnya, dalam bisnisnya tersebut, ia tidak pernah menggunakan aji mumpung dengan menggunakan kebesaran nama almarhum suaminya. Semuanya berjalan normal tanpa ada kolusi dan nepotisme.

Lalu bagaimana dengan pendidikan anak-anaknya? Beliau sama sekali tidak pernah abai dengan tugas luhur ini.

Di dalam pendidikan terhadap anak-anaknya, diterapkan sistem kedisiplinan tinggi.  Beliau tak segan-segan memukul anaknya dengan penggaris ataupun pengaris jika mereka meninggalkan kewajiban shalat dan belajar membaca Al-Qur`an.

Pada saat yang sama, beliau juga sangat dekat denan anak-anaknya. Bagi yang membaca biografi hayatnya, akan terasa kental dalam proses pendidikan ini terkait rasa kasih sayang, kehangatan dan egaliter yang diciptakan oleh Ibu Solichah.

Perhatian terhadap pendidikan ini tidak pernah dispelekan, walaupun saat beliau pada tahun 1955 terpilih sebagai anggota DPRD Jakarta sebagai wakil NU.

Saat beliau menjadi anggota DPR Goong Royong mewakili NU pada tahun 1960, perhatian terhadap pendidikan anak tidak pernah surut.

Ini terbutkti, bahwa sebelum anak-anak pulang sekolah, Hj Solichah sudah berada di rumah.  Meski sibutk menjadi anggota legislatif, namun sangat sering berjumpa dengan anak-anaknya, sehingga tugas luhur sebagai ibu yang mendidik anak-anaknya tetap terksaa dengan baik.

Dalam suatu meja makan, ia sering menceritakan kisah-kisah heroik tentang KH. Wahid Hasyim, perjuangan para tokoh NU dan lain-lain sehingga mendorong anak-anaknya semangat belajar dan bisa meneladani tokoh-tokoh itu. Menariknya, tidak ada kesan menggurui ketika mendidik, anak-anaknya diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat masing-masing.

Membaca sepak terjang Bu Hj. Solichah ini, para pembaca bisa mengambil banyak pelajaran, bahwa meskipun dalam kondisi sesulit dan sesibuk apapun, seorang istri dan ibu tidak pernah mengabaikan tugas luhurnya di rumah.

Anak-anak tetap mendapatkan perhatian dan pendidikan memadai. Sehingga, tidak heran jika di kemudan hari anak-anaknya banyak yang sukses. Salah satunya bahkan, pernah menjadi Ketua PBNU dan Presiden RI ke-4, yaitu: KH. Abdurrahman Wahid alias Gusdur. Rahimahallah Rahmatan Waasi’ah.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineKH Wahid HasyimNyai Hj. Solichah Munawwarah Wahid HasyimPilihan RedaksiSolichah A. Wahid Hasyim
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PBB Khawatir Pembersihan Etnis Rohingya akan Terulang Kembali
Tulisan selanjutnya MUI dan Wapres Kaget Masih ada Larangan Pramugari Mengenakan Jilbab

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Vape Piu Piu Bikin Pengguna Seperti Zombie, Kata Kepolisian Malaysia

Berita
11 Juni 2026 17:48
Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
Pra Kongres Umat Islam VIII, MUI Gelar Halaqah Nasional Bahas Pesantren Aman dan Ramah Anak
Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial
Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

Terbaru

  • Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
  • Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial
  • Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
  • Tak Hanyut Oleh Banjir: Asa Santri Aceh Tamiang Tetap Menyala
  • Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
  • Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
  • Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
  • UEA Bantah Laporan Transfer $3 Miliar ke Iran
  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?