Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Palestina dan Lemahnya Ghirah Kita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Oktober 2023 21:05 9:05 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Oktober 2023 21:03
Bagikan
Pasukan Brigade Izzuddin Al-Qassam dalam aksi pengintaian
Bagikan

Nasib saudara kita di Palestina, mirip kisah Nabi Yusuf  alaihissalam, dizalimi saudara sendiri, dibohongi, dimasukkan sumur lalu ditinggalkan, tapi kita umat Nabi Muhammad ﷺ yang punya ghirah

Hidayatullah.com | PALESTINA dan al-Masjid al-Aqsha adalah “cermin” sekaligus “timbangan” kualitas keimanan dan ukhuwwah umat Islam. Jika kita beriman, mari kita bercermin dan menimbang keimanan itu sekarang.

Bercerminlah di tragedi pembantaian kemanusiaan paling sadis dan paling bengis dan brutal di Jalur Gaza. Maka, masih akan ada yang mengatakan bahwa yang salah adalah Hamas, bahkan orang-orang Palestina.

Mengapa tidak “hijrah”? Mengapa hanya sebuah masjid tua mereka serahkan harta dan nyawa mereka? Ini dungu dan bodoh kwadrat. Kata mereka. Yakinlah, pepatah yang tepat untuk para “Yahudi Pesek” ini adalah: “Buruk rupa cermin dibelah”.

Ya, padahal apa yang ada dicermin itu adalah pantulan benda dan objek yang ada di depannya. Dan cermin tidak akan pernah bohong. Karena itu Rasulullah pernah mengingatkan bahwa “Seorang Mukmin adalah cermin bagi saudaranya (Mukmin) yang lain.”

Baca Juga

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari
Tragedi San Diego & Hipokrisi Barat
Tolak Penyembelihan Dam Haji di Indonesia, Begini Fatwa MUI
Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Timbanglah pula iman dan ghirah kita ketika kiblat pertama umat Islam itu dimbombardir manusia yang nenek-moyangnya dikutuk jadi ‘kera-kera’ buruk rupa oleh Allah.

Mereka kita sebut pengecut, karena Yahudi-Zionis itu hanya mampu berperang melawan benda-benda selain manusia dan mujahid: gudang makanan, perkantoran, rumah sakit, pabrik roti, kantor berita, dan lainnya.

Paling hebat mereka membunuh kaum tua, wanita, dan anak-anak calon mujahid di masa mendatang. Itulah tentara Yahudi-Zionis pengecut. Yang kadang berperang pakai “pampers”, karena sering kencing di celana.

Tapi, timbanglah lagi. Mengapa negara-negara Arab diam? Negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim ke mana?

Jadi penontonkah mereka? Dan yang sangat menyayat hati adalah ketika banyak umat Islam yang rela pergi jihad tapi dipersulit oleh negaranya.

Bukankah kata Nabi kita ini “laksana satu tubuh: saling-menguatkan bahkan saling-merasa sakit jika salah satu anggota tubuh itu ada yang terluka. Bahkan, jika ada yang sakit dan terluka bagian tubuh yang lain menghadirkan demam sehingga tak dapat tidur.”

Ini perumpamaan Baginda Nabi ﷺ yang saat ini sangat sulit dicari realisasinya. Lihatlah, Gaza saat ini berjuang dan berjihad sendirian.

Getirnya, malah ada yang bilang: “Tidak, mereka dibersamai oleh Allah.”

Kalimat tersebut benar, tapi menyembunyikan kepengecutan. Karena jika benar hanya cukup kata itu, maka Baginda Rasulullah ﷺ  tak butuh Sahabat ketika berjihad.

Apa benar “sahabat-sahabat Palestina kita” dan “teman-teman Masjid Al-Aqsha” sedang rehat?

Kadang, hiburan hati dan obat jiwa ada di kisah-kisah heroik seperti jihad-nya saudara-saudara kita di Jalur Gaza. Mereka akhirnya memang harus memilih berjuang sendiri.

Karena sepertinya itu pilihan paling nyata. Ternyata, mereka seperti mengulang kisah Nabi Yusuf alaihissalam yang dizalimi oleh saudara kandung sendiri, dibohongi, dimasukkan ke dalam sumur, kemudian, ditinggalkan dan dibiarkan sendirian dalam gelap dan gulitanya sumur itu.

Nabi Yusuf akhirnya sabar dan berjuang sendiri. Beliau bertawakal kepada Allah dan akhirnya dikeluarkan oleh Allah Swt.

Beliau diselamatkan dari berbagai ujian –harta, tahta bahkan wanita—dan akhirnya menuai kemenangan. Ketika menang, beliau memaafkan saudara-saudaranya yang telah mendzaliminya.

Tapi, kita bukan saudara Nabi Yusuf ‘alaihi salam. Bukan. Kita ini umat Nabi Muhammad ﷺ yang masih memiliki ghirah dan iman yang kuat. 

“Cermin” dan “timbangan” Gaza dan Palestina sudah cukup untuk bangkitkan ghirah perjuangan.

Mari kita berjuang dengan doa, harta, dan pena saja dahulu. Sebelum panggilan Jihad itu turun.

Karena ia akan berlaku kapan saja. Dan saudara-saudara kita di Gaza memang dipilih Allah di shaf dan dan utama melawan penjajah Yahudi ini.

Yang tengah berjuang adalah para mujahid. Yang gugur adalah syahid, mereka tak pernah merugi.

Dan kita, pandai-pandailah bercermin dan menimbang rasa. Wallāhu A‘lam bis-shawāb.*/ Qosim Nurseha Dzulhadi, guru dan dosen di Pesantren dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Sedang menyelesaikan Program Doktor di Universitas Darussalam (Unida) Gontor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baitul MaqdisgazaghirahHeadlineMasjid Al-AqshaNabi Yusufpalestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Anak Tidak Masuk Sekolah Orangtua di Afrika Selatan Terancam Masuk Bui
Tulisan selanjutnya Bendera ISrael Viral, Demonstran Turunkan Bendera ‘Israel’ di Depan Gedung PBB

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

6 Mei 2026 12:55
Pustaka

Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka

4 Mei 2026 11:13
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Pustaka

Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah

22 April 2026 22:47
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?