Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Sejarah Baitul Maqdis Diserbu Imigran Yahudi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Oktober 2023 17:07 5:07 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Oktober 2023 18:00
Bagikan
Tentara Inggris memegang senapan mesin Merk Bren buatan Inggris di Baitul Maqdis pada 1 Mei 1948 (MEE)
Bagikan

Inggris-lah yang mensponsori mengalirnya masuknya imigran Yahudi Eropa. Ratusan ribu orang Yahudi pindah ke Palestina dan tinggal di Baitul-Maqdis hingga saat ini

Hidayatullah.com | DI BAWAH kekuasaan kaum Muslimin, Masjid al-Aqsha direkonstruksi dan diperindah. Sampai akhirnya jatuh lagi dan mengalami bencana besar.

Pahlawan pembebas Masjid al-Aqsha, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, wafat pada tahun 1193 M. Sesudah wafatnya sang legendaris itu, Dinasti Ayyubiyah tetap menguasai Baitul-Maqdis.

Pemerintah juga melindungi kawasan ini dari serangan-serangan Pasukan Salib di masa-masa berikutnya. Pada penghujung tahun 1200-an dan di awal 1300-an, pamor Dinasti Ayyubiyah perlahan memudar.

Akhirnya kekuasaan diambil-alih oleh Kesultanan Mamalik di Mesir, yang ketika itu dikuasai tentara-tentara budak Turki. Selama Kesultanan Mamalik, ternyata minat bangsa Eropa untuk melakukan peperangan Salib perlahan memudar pula.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Alhasil, kondisi Baitul-Maqdis menjadi lebih aman dari serangan orang-orang kafir.

Para sultan kemudian memiliki kesempatan untuk lebih memperhatikan fisik bangunan di Baitul-Maqdis, terutama di dalam dan di sekitar Kompleks Masjid al-Aqsha. Kondisi masjid kebanggaan umat Islam ini semakin hari semakin membaik.

Sebuah beranda bersanggakan barisan tiang dibangun di sisi barat Kompleks Masjid al-Aqsha, berbatasan dengan pasar-pasar kota. Kubah Batu juga direnovasi. Sekian kubah lain dan air mancur diperbaiki pula.

Sekolah-sekolah juga dibangun. Pelajar dan penuntut ilmu dari negeri-negeri jauh seperti India dan China pun berdatangan untuk beribadah dan belajar di Masjid al-Aqsha.

Pada tahun 1500-an, dunia Islam bukan lagi dipimpin oleh Kesultanan Mamalik tetapi oleh Kesultanan Utsmaniyyah yang berpusat di Istanbul, Turki. Pada tahun 1513, Sultan Salim I memerangi Kesultanan Mamalik.

Pada tahun 1516, dia muncul di luar tembok kota Baitul-Maqdis bersama pasukannya, dan menerima penyerahan kunci dengan damai oleh penduduk kota bertembok itu.

Berbagai perubahan terus terjadi di Baitul-Maqdis. Kesultanan Utsmaniyah lalu mengirimkan gubernur, tentara, dan pejabat lainnya untuk mengatur kota itu.

Dalam kaitanya dengan Masjid al-Aqsha, era Utsmaniyah menandai dimulainya era kontruksi, penataan, dan kegiatan memperindahnya.

Putra Salim I, Suleyman al-Kauni, berkuasa di tahun 1520. Di masa pemerintahannya, Kubah Batu direnovasi dan diperindah.

Bagian luar bangunan dilapis marmer, ubin-ubin warna-warni, serta kaligrafi. Ayat-ayat Surat Yasin dijadikan hiasan di bagian atas temboknya.

Suleyman memerintahkan dibangunnya sebuah air mancur di dekat gerbang masuk utama Masjid al-Aqsha, untuk dipakai berwudhu jamaah.

Suleyman juga memerintahkan arsiteknya yang bernama Mimar Sinan, untuk membangun kembali dinding tembok di sekitar Masjid al-Aqsha. Tembok itu masih bertahan hingga kini.

Inggris dan Israel Zionis

Selama berabad-abad, Baitul-Maqdis dan Masjid al-Aqsha dalam keadaan aman. Pada saat kaum Muslimin menjadi penguasanya, maka orang Yahudi dan Kristen diberi kebebasan dalam menjalankan ajaran agama.

Namun keharmonian hidup ketika itu diganggu oleh munculnya gerakan Zionisme di Eropa. Mereka berusaha mengubah Baitul-Maqdis dan kawasan di sekitarnya menjadi negara Yahudi saja.

Keinginan itu sempat disampaikan oleh kaum Zionis kepada penguasa Islam ketika itu, Sultan Abdul Hamid II pada tahun 1800-an. Namun Sultan menolak mentah-mentah, karena menganggap bahwa Baitul-Maqdis bukan miliknya, namun milik seluruh kaum Muslimin di dunia.

Kaum Yahudi Zionis terus melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya. Salah satunya adalah berpaling kepada Inggris di saat Perang Dunia ke I.

Jenderal Sir Edmund Allenby memasuki Baitul Maqdis pada 11 Desember 1917

Kesultanan Utsmaniyah masuk ke kancah perang melawan Inggris pada tahun 1914. Pasukan Inggris dengan cepat maju merebut Sinai Palestina selama 1915-1918.

Pada tahun 1917, Inggris akhirnya berhasil merebut Baitul-Maqdis. Untuk pertama kalinya sejak dibebaskan dari tentara Salib oleh Shalahuddin al-Ayyubi, Baitul-Maqdis jatuh ke tangan orang kafir.

Kapal yang membawa imigran gekao Yahudi di Haifa tahun 1948

Akan tetapi, tidak terjadi pembantaian seperti di masa Perang Salib. Yang kemudian terjadi adalah Inggris mensponsori mengalir masuknya imigran Yahudi Eropa. Ratusan ribu orang Yahudi pindah ke Palestina dan tinggal di Baitul-Maqdis.

Ketika pasukan Inggris dicabut untuk meninggalkan tanah Palestina pada tahun 1948, orang-orang Yahudi Zionis meratakan ratusan desa, mengusir ribuan warga Muslim Arab Palestina, lalu mendirikan negara yang mereka sebut ‘Israel’ di atas sebagian besar tanah Palestina.

Separuh dari kompleks Masjid al-Aqsha dan Kubah Batu berhasil dipertahankan oleh kaum Muslimin. Yordania kemudian memegang otoritas atas Baitul-Maqdis (Jerussalem) Timur dan keseluruhan Kompleks Masjid al-Aqsha yang dikenal juga sebagai Haram ash-Sharif.

Pada 7 Juni 1976, pada hari ketiga perang enam hari, pasukan ‘Israel’ merebut Baitul-Maqdis dan keseluruhan sisa kawasan Tepi Barat Sungai Yordan. Pasukan ‘Israel’ masuk ke Masjid al-Aqsha dengan mudah dan kemudian mengibarkan bendera ‘Israel’ di atas Kubah Batu. Sebuah bencana besar bagi kaum Muslimin.

Pada 21 Agustus 1969, Masjid al-Aqsha dibakar oleh seorang Kristen Australia, Denis Michael Rohan. Konon dia berharap bahwa hancurnya Masjid al-Aqsha akan mempercepat kedatangan “Yesus” ke bumi.

Sebagian besar kaligrafi dari masa berabad-abad sebelumnya hancur, bersama dengan terbakarnya Mimbar Shalahuddin.

Hingga kini, kaum ‘Israel’ Zionis terus berupaya menghancurkan Masjid al-Aqsha. Di bawah kaum penjajah, kini kaum Muslimin tak dapat dengan bebas memasuki Masjid al-Aqsha untuk beribadah. Padahal tempat ini adalah hak kaum Muslimin.*/Ditulis oleh tim peneliti Institut al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA)/Suara Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baitul MaqdisHeadlineimigran yahudiinggrispalestinaPerang SalibPilihan RedaksiYahudi Eropa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Semangat Guru Tunanetra Mengajar
Tulisan selanjutnya Ebrahim Raisi Presiden Baru Iran Presiden Iran: Tindakan Zionis ‘Israel’ Kelewat Batas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kabar Mualaf Giancarlo Esposito: Aktor “Breaking Bad” Dilaporkan Memeluk Islam di Saudi

Berita
22 Juni 2026 11:59
AI Grok Besutan Elon Musk Dipakai dalam Serangan AS Terhadap Iran
Taliban Melarang Penggunaan Ponsel Pintar oleh Aparat Pemerintah
Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu
Dicabut, Zelensky Kembalikan Medali Penghargaan dari Polandia

Terbaru

  • Serangan Islamofobia, Imam Masjid di Kanada Diserang usai Pimpin Shalat Berjamaah
  • Kabar Mualaf Giancarlo Esposito: Aktor “Breaking Bad” Dilaporkan Memeluk Islam di Saudi
  • Al Jazeera Desak Masyarakat Internasional Hukum ‘Israel’ usai Pembunuhan Jurnalisnya
  • Taliban Melarang Penggunaan Ponsel Pintar oleh Aparat Pemerintah
  • Gegara Perang Iran Saudi Aramco Pertimbangan Perluasan Kapasitas Penyimpanan di Luar Negeri
  • ISIS Klaim Serangan di Aleppo yang Tewaskan 2 Tentara Suriah
  • Produksi Minyak Iraq Diperkirakan Normal Dalam Dua Bulan
  • Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat
  • Dicabut, Zelensky Kembalikan Medali Penghargaan dari Polandia
  • Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?