Kejatuhan rezim tangan besi Bashar Al-Assad akan membawa tantangan baru dalam dinamika Timur Tengah, khususnya ‘Israel’, Iran, AS dan sekutunya
Oleh: Syaefunnur Maszah
Hidayatullah.com | SETELAH 54 tahun berkuasa, rezim keluarga Al-Assad di Suriah akhirnya runtuh pada 8 Desember 2024. Kejatuhan Bashar Al-Assad menjadi penanda berakhirnya perang saudara Suriah yang telah berlangsung selama 13 tahun dan merenggut ratusan ribu jiwa serta menyebabkan setidaknya 13 juta orang mengungsi.
Pada bulan April 2016, utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura menyatakan bahwa lebih dari 400.000 warga sipil (mayoritas Sunni) meninggal dalam perang saudara Suriah.
Pada pertengahan Maret 2022, kelompok aktivis oposisi Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan jumlah anak-anak yang meninggal dalam perang tersebut meningkat menjadi 25.857, dan 15.761 perempuan juga tewas.
Meski didukung oleh dua kekuatan besar, Rusia dan Iran, kekalahan Al-Assad dalam waktu hanya 12 hari menunjukkan rapuhnya fondasi kekuasaan rezim tersebut di tengah tekanan militer dan politik.
Kekuatan oposisi Suriah yang berhasil menggulingkan Al-Assad didukung oleh aliansi internasional yang melibatkan Turkiye, Amerika Serikat, dan negara-negara Teluk. Dukungan ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga logistik dan politik.
Turkiye, yang sejak awal revolusi mendukung oposisi, memainkan peran strategis dalam menyatukan faksi-faksi oposisi yang sebelumnya terpecah. Sementara itu, melemahnya dukungan domestik terhadap rezim Al-Assad turut mempercepat proses kejatuhannya.
Rusia dan Iran, meskipun menjadi pendukung utama Al-Assad selama konflik, terbukti tidak mampu menahan tekanan yang datang dari berbagai arah.
Keterbatasan sumber daya Rusia yang terfokus pada konflik Ukraina dan sanksi internasional membuatnya kesulitan mempertahankan pengaruh di Suriah. Iran, di sisi lain, kehilangan kemampuan untuk mempertahankan “Bulan Sabit Syiah” yang selama ini menjadi landasan strateginya di Timur Tengah.
Kejatuhan Al-Assad memutus koridor darat yang digunakan Iran untuk memasok senjata ke Hizbullah di Libanon, mengurangi pengaruhnya dalam konflik Palestina-’Israel’.
Implikasi kejatuhan Al-Assad terhadap konflik Palestina-’Israel’ cukup signifikan. Meskipun penjaah ‘Israel’ senang melihat melemahnya Iran dan aliansinya, kehadiran kekuatan baru di Suriah yang lebih pro-Palestina membuat pihak penjajah merasa terancam.
Serangan udara besar-besaran ‘Israel’ ke Suriah pasca kejatuhan Al-Assad mencerminkan kekhawatiran terhadap potensi ancaman dari pemerintahan baru di Damaskus yang lebih bersimpati terhadap perjuangan Palestina.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Uni Eropa menyambut baik perubahan ini karena melemahkan Rusia dan Iran.
Bagi Eropa, kejatuhan Al-Assad membuka peluang untuk mendorong pengungsi Suriah kembali ke negara asal, yang dapat mengurangi tekanan sosial dan ekonomi di kawasan mereka.
Namun, transisi politik di Suriah tidak serta-merta menjamin stabilitas jangka panjang, mengingat kompleksitas faksi-faksi oposisi yang kini memegang kendali.
Bagi Turkiye, kejatuhan Al-Assad adalah kemenangan geopolitik. Dengan mengamankan koridor strategis yang menghubungkan Eropa dan Teluk melalui Suriah, Turkiye memperkuat posisinya sebagai pemain utama di kawasan.
Keberhasilannya juga menunjukkan kemampuan diplomatik dan militernya dalam mengelola konflik regional, sekaligus mengurangi pengaruh rivalnya, Rusia dan Iran.
Namun, kejatuhan Al-Assad juga membawa tantangan baru dalam dinamika Timur Tengah. Pergeseran kekuatan ini dapat menciptakan ketegangan baru, terutama jika pemerintahan baru di Suriah memutuskan untuk mengambil sikap lebih agresif terhadap ‘Israel’ atau membentuk aliansi baru di kawasan.
Dalam konteks konflik Palestina-’Israel’, hasil akhirnya akan sangat bergantung pada bagaimana aktor-aktor regional dan internasional merespons dinamika baru ini.
Di ‘Israel’, kejatuhan al-Assad disambut dengan perasaan campur aduk. Meski melemahnya aliansi yang dipimpin Iran menguntungkan penjajah, lebih-lebih terhadap rencananya mendirikan ‘‘Israel’ Raya” dengan cara mencaplok Dataran Tinggi Golan.
Kejatuhan al-Assad dan realignment regional yang menyertainya kemungkinan akan membawa perubahan dramatis pada keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah, dan dampaknya baru akan sepenuhnya kita pahami dalam tahun-tahun mendatang.*
Penulis peminat masalah Timur Tengah




