Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Khubbuz Mariyam: Dari Kisah Mariyam hingga Roti Konde di Nusantara

Ahmad
Terakhir diupdate: 6 Januari 2025 15:46 3:46 pm
Ahmad
Dipublikasikan 6 Januari 2025 15:45
Bagikan
Bagikan

Roti Maryam, Roti Canai dan  Roti Konde, menu khas yang sering muncul di bulan Ramadhan dan sajian saat berbuka puasa merupakan tradisi kalangan warga keturunan Arab Indonesia

Hidayatullah.com | MEMASUKI bulan Ramadhan banyak tradisi beraneka ragam yang menjadi ciri khas di berbagai tempat di Indonesia, di antaranya adalah mempersiapkan menu khusus untuk buka puasa yang biasanya hanya muncul dan ramai diburu orang selama Ramadhan.

Satu di antaranya adalah bubur Harisah atau Surbah yang banyak dijadikan sebagai menu sajian khas saat berbuka puasa dan menjadi tradisi di kalangan warga keturunan Arab yang ada di Indonesia.

Meski pada hari biasa telah menjadi menu rutin yang menjadi kudapan rutin dalam kalangan keturunan Arab, menu yang juga disajikan selama bulan Ramadhan adalah Roti Mariyam atau Cane, yang disantap dengan kuah Sayur Kari atau Gulai Kambing.

Sejarah roti Maryam

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Roti Maryam atau Roti Maria, meski sejarah awal dan perkembangannya belum dapat diketahui secara pasti, namun dari sejumlah sumber menyebutkan bahwa makanan berwarna kuning yang terbuat dari tepung gandum sebagai bahan utamanya ini berasal dari Qatif, sebuah daerah tertua di Teluk Arab yang sudah di huni sejak ribuan tahun oleh para pengikut Nestorian sebelum Islam.

Nestrorian adalah sekte dalam ajaran Nashrani kuno di jazirah Arabia yang meyakini dua kepribadian Isa sebagai manusia dan unsur ke-Illahian.

Luas Kota Qatif terbentang dari Safwa di Utara hingga ke Dammam Selatan yang kini menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Saudi Arabia.

Disebut Roti Mariyam oleh penduduk Qatif kuno, karena roti itu biasa dibuat dan dimakan oleh Mariyam ibunda Isa. As. Bahkan tradisi membuat roti dengan sebutan roti mariyam yang berlangsung pada setiap tanggal 25 di bulan Shafar dalam penanggalan Hijriyah, masih dilakukan oleh penduduk Qatif hingga hari ini.

Tanggal tersebut diyakini oleh penduduk setempat sebagai peringatan hari wafatnya Mariyam Binti Imran, ibunda Nabi Isa AS.

Dari penduduk Qatif kuno, pembuatan dan penyajian Roti Mariyam kemudian menyebar keseluruh Jazirah Arab, termasuk menjadi salah satu makanan pokok para penduduk di Yaman.

Mereka menggunakan bahan dasar tepung gandum dengan campuran margarin sejenis Minyak Samin yang terbuat dari susu kambing. Roti pipih dan tipis berbentuk bulat itu dibuat matang dengan cara di tempel pada tungku oven yang terbuat dari tanah liat berbentuk kubah.

Tidak hanya di Timur Tengah, jenis roti serupa juga menjadi makanan pokok masyarakat Hindustan (nama lain dari negara yang disebut India sebelum pemisahan dengan Pakistan) sejak berabad-abad yang lampau, yang konon mulai diperkenalkan pertama kalinya oleh orang-orang di Chennai, ibu kota Negara Bagian Tamil Nadu di India yang dahulu dikenal dengan sebutan Madras.

Dari nama kota itulah yang kemudian memunculkan nama dengan sebutan Roti Canai.

Orang-orang India yang berimigrasi ke semenanjung Melayu, Roti Canai inipun kian semakin dikenal meluas dan merupakan jenis makanan yang banyak di konsumsi oleh etnis Melayu di Asia Tenggara.

Mereka melafalkannya dengan sebutan “Roti Cane” dan terbiasa menyantapnya dengan kuah sayur kari atau gulai.

Roti canai atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Roti Maryam’, di Indonesia merupakan roti pipih yang empuk dan dibuat tanpa menggunakan pengembang. Roti Maryam di Indonesia, terutama di Jawa diperkenalkan pertama kalinya oleh masyarakat Arab yang yang sudah berdiaspora di Nusantara.

Adanya koloni-koloni Arab, terutama di pulau Jawa yang kemudian memunculkan sejumlah kampung Arab, Roti Mariyam sama halnya dengan jenis masakan lainnya, seperti nasi kebuli, kue kamir, sambosah dan lain-lain, menjadi jenis masakan khas keturunan Arab yang dikenal secara meluas dan kini sudah disukai oleh hampir sebagaian masyarakat Indonesia.

Terlebih lagi karena rasanya yang telah disesuaikan dengan cita rasa lidah Nusantara, akibat adanya akulturasi dengan budaya lokal, baik bahan baku yang digunakan maupun cara penyajiannya, demikian juga pemunculan nama lain sebagai pengganti nama asalnya, salah satunya adalah nama Roti Mariyam dengan sebutan “Roti Konde”.

Penamaan Roti Konde diambil dari bentuk adonan mentah yang bentuknya menyerupai konde, sanggul rambut ciri khas wanita di Nusantara.

Bahan baku pembuatan Roti Konde yang dibuat oleh para peranakan Arab Indonesia yang berasal dari Hadramaut, selanjutnya disebut dengan istilah Hadharim, cara pembuatannya pun telah mendapatkan sentuhan yang menggunakan bahan olahan baru seperti telur ayam kampung dan margarin (mentega).

Roti Mariyam yang di tempat asalnya biasa disajikan dengan polos, menggunakan kuah dari bahan olahan daging kambing atau madu. Di Indonesia, dalam kalangan keluarga Hadharim di kampung-kampung Arab, akan ditemukan sajian Roti Mariyam yang dikreasikan dengan beberapa isian seperti dicampur dengan berbagai topping manis dan penambah kelezatan, antaranya keju parut, susu kental manis dan selai coklat.

Sebenarnya tidak ada aturan waktu untuk mengonsumsi Roti Mariyam, tapi mengkonsumsi olahan khas dari Timur Tengah ini, budaya di negara asalnya secara umum dijadikan sebagai sajian untuk sarapan di pagi hari, demikian pula oleh para peranakan Arab (Hadharim) di Indonesia

Roti Maryam di Empang Bogor

Kanung Bogor, nama yang dinisbatkan pada nama perintisnya, Ibu Nur Sungkar yang sudah membuat olahan Roti Mariyam sejak tahun 1974, bisa dibilang sebagai pionir penjualan Roti Mariyam di kampung Arab, Empang Bogor.

Awalnya sejak usahanya itu dirintis hanya melayani pesanan. Tapi kini oleh penerusnya, produksi olahan Roti Maryam atau Roti Konde dibuat dan dikemas secara modern memakai  brand bisnisnya dengan nama Kanung Bogor.

Baik ukuran maupun rasa, diperkaya dengan banyak varian, salah satunya yang menggunakan topping coklat dan dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama di lemari pendingin, karena semua jenis olahan khas Timur Tengah tersebut disajikan dalam bentuk frozen.*/Abdullah Abubakar Bataefie,  Ketua Pusat Dokumentasi & Kajian Al-Irsyad Bogor

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:buka puasaHeadlineketurunan ArabkhubuzzRamadhanRoti CanaiRoti KondeRoti Maryam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Makna Ipar adalah Maut menurut Islam Hukum Pernikahan Pria Murtad dengan Muslimah, Ini Kata MUI
Tulisan selanjutnya Sekolah Tinggi Para Pemuda China Malah Melakoni Pekerjaan Rendahan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?