Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Palestina Terkini

“Kami Tidak Akan Pergi”: Warga Gaza Bertahan di Tengah Upaya Pengusiran Paksa

Ahmad
Terakhir diupdate: 4 Oktober 2025 19:42 7:42 pm
Ahmad
Dipublikasikan 4 Oktober 2025 19:42
Bagikan
Bagikan

Di tengah kehancuran dan kepungan maut, warga Gaza memilih bertahan—menjadikan keberanian dan cinta tanah air sebagai bentuk tertinggi perlawanan

Hidayatullah.com | DI TENGAH gempuran tanpa henti, ketika kota Gaza dihujani bom dan dipaksa kosong dari penduduknya, dentuman artileri dan dengung pesawat tempur tak pernah berhenti. Satu per satu, lingkungan pun padam — namun di antara puing dan asap, masih ada satu titik cahaya kecil: tungku roti yang terus menyala di depan Rumah Sakit Al-Shifa.

Sebuah warung kecil, yang kini menjadi simbol kehidupan di tengah kehancuran. Di tempat sederhana itu, roti bukan sekadar makanan — ia adalah pernyataan perlawanan terhadap kematian.

“Gaza adalah ibu kami, dan tak seorang pun meninggalkan ibunya,” ujar Hussein Al-Helou, pemilik warung tersebut, kepada Al Jazeera Net. Sambil membagi roti kepada mereka yang bertahan, ia menatap pelanggan yang mencari sesuap harapan di tengah kelaparan dan ketakutan.

Warung itu kini menjadi tempat bernaung bagi mereka yang memilih tetap tinggal — pasien dan tenaga medis dari Al-Shifa, wartawan yang beristirahat sejenak di antara liputan, juga keluarga pengungsi yang menolak menyerah. Di setiap potong roti yang keluar dari tungku, tersimpan semangat untuk terus hidup dan bertahan.

Baca Juga

Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
Al-Aqsha Ditutup untuk Muslim, Para Rabi Berdoa di Tembok Al-Buraq Picu Sorotan
Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina
Menteri Penjajah Tuangkan Miras Rayakan Disahkannya Hukuman Mati untuk Warga Palestina Terjajah

Tugas dan Keberanian

Di depan warung yang sama, jurnalis Al Jazeera Mubasher, Mohammad Shahin, menyambar dua potong roti hangat sebelum bergegas menuju lokasi liputan langsung. Rompi pelindung dan helmnya sudah siap — seperti jiwanya yang telah bulat untuk tinggal.

Istrinya yang sedang hamil dan anak-anaknya telah ia kirim ke selatan Gaza demi keselamatan. Dirinya memilih tetap di sini, bukan karena nekat, melainkan karena merasa terpanggil.

“Ini bukan keberanian kosong, ini kewajiban — kemanusiaan, agama, dan bangsa,” ucapnya. “Kami tidak menunggu perintah dari tentara penjajahan. Selama rakyat tetap di sini, saya akan tetap bersama mereka — menjadi suara dan saksi atas penderitaan yang mereka alami.”

Meski banyak rekan jurnalis telah meninggalkan kota, Shahin memilih tetap bertahan. Ia tidur di tenda di depan rumah sakit, di bawah dengung drone dan ancaman serangan mendadak. Ia berjalan kaki di jalan-jalan berbahaya untuk meliput. “Kadang saya takut,” akunya, “tapi ketika melihat wajah rakyat Gaza — lelah, lapar, tapi penuh harga diri — saya tahu untuk siapa saya tetap di sini.”

Gaza: Lebih dari Sekadar Tanah

Bagi Yousef Abu Zur, alasan bertahan bukan sekadar patriotisme — melainkan cinta. Baginya, Gaza bukan sekadar titik di peta, tapi rumah bagi seluruh hidupnya: tempat ia lahir, bermain, belajar, mencinta.

Meski seluruh harta keluarganya hancur, ia dan keluarganya sepakat untuk tidak pergi. “Biarpun kota ini kosong, saya tidak merasa sendiri. Udara, jalan, bahkan reruntuhannya memberi saya kekuatan. Bertahan di sini adalah satu-satunya cara menjaga martabat,” katanya.

Tidak semua yang tinggal adalah karena tak mampu mengungsi. Banyak yang memilih bertahan meski memiliki kesempatan untuk pergi. Di antaranya Dr. Asim Al-Nabih, pegawai kota Gaza yang tetap bekerja menjaga layanan dasar bagi warga. “Kami punya tanggung jawab moral dan iman,” katanya. “Bertahan berarti memperkuat ketahanan rakyat.”

Pemerintah lokal mencatat, sekitar 340.000 hingga 350.000 orang masih bertahan di Kota Gaza — menolak meninggalkan tanah kelahiran mereka meski bahaya mengintai di setiap sudut.

“Kami Akan Tetap di Sini Sampai Nafas Terakhir”

Aktivis muda Maher Haboush, yang diikuti hampir setengah juta orang di media sosial, menyebut masa ini sebagai ujian terberat dalam hidupnya. Ia sadar, keberadaannya di Gaza bukan lagi keputusan pribadi, tapi semangat bagi banyak orang yang melihatnya sebagai simbol keteguhan.

“Ada hari-hari ketika saya yakin kami akan menang, dan ada hari-hari ketika saya takut,” katanya jujur. “Namun setiap hari, saya memperbarui niat untuk *murabit* — bertahan di tanah ini sebagai bentuk ibadah.”

Ia berharap dunia mendengar dan bertindak, sebelum segalanya terlambat.

“Kami Sudah Memberi Segalanya”

Bagi Umm Muhammad, seorang ibu di barat Gaza, bertahan bukan sekadar dorongan emosional, melainkan keyakinan spiritual. “Kami tidak tinggal karena nekat, tapi karena sadar: meninggalkan tanah ini berarti membiarkan pejuang kami sendirian.”

Ia dan keluarganya telah melewati kehilangan: harta, anak, rasa aman. Namun baginya, semua itu justru menguatkan tekad. “Kami telah memberi jiwa, darah, dan anak kami untuk tanah ini. Setelah semua yang kami alami — tidak ada alasan untuk pergi.”

Roti, Iman, dan Tanah Air

Ketika satu demi satu wajah Gaza lenyap dari peta, mereka yang bertahan menjelma penjaga terakhir kota itu — bukan dengan senjata, tapi dengan keberanian dan cinta.

Bagi mereka, roti adalah bentuk perlawanan, bertahan adalah ibadah, dan tanah Gaza adalah janji yang tak akan dikhianati.

Dalam mata mereka terpancar makna terdalam dari kata “tanah air”: bukan sekadar tempat tinggal, tapi ibu yang akan mereka lindungi — sampai nafas terakhir.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gazagenosida GazaisraelJalur GazapalestinaPengusiranWarga Gaza
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Inilah Poin-Poin Jawaban Hamas Menanggapi Tawaran Donald Trump
Tulisan selanjutnya (Video) Warga Gaza Bergembira setelah Hamas Menjawab Rencana Gencatan Senjata AS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Palestina Terkini

Zionis Sahkan Undang-Undang Hukuman Mati bagi Warga Palestina Terjajah, Picu Kritik Internasional

31 Maret 2026 09:08
Palestina Terkini

Babak Baru Pendudukan: ‘Israel’ Resmikan Pencaplokan Tepi Barat

17 Februari 2026 14:18
Palestina Terkini

Khaled  Misy’al: Senjata Bagi Hamas adalah Alat Pertahanan Diri dari Penjajahan

10 Februari 2026 06:48
Palestina Terkini

Netanyahu Tegaskan Tak Akan Ada Lagi Palestina dan Gaza

9 Februari 2026 11:14
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?